Jumat, 30 Oktober 2015

SASTRA LISAN KABHANTI: MEMORI KOLEKTIF MASYARAKAT WAKATOBI DARI MASA KE MASA



Oleh:
Sumiman Udu[1]

ABSTRAK
Sastra lisan kabhanti merupakan sastra tradisi yang selama ini tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat Wakatobi. Perkembangan sastra lisan dari waktu ke waktu selalu mengalami pergeseran,  seiring dengan perkembangan zaman dari masyarakat  pendukungnya. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat mengungkapkan perkembangan memori kolektif masyarakat Wakatobi di masa lalu, kini dan masa yang akan datang yang tersimpan dalam sastra lisan kabhanti.
Penelitian ini menggunakan paradigma etnografis sehingga pengumpulan dan pengolahan data menggunakan prinsip etnografis. Penggunaan paradgima ini digunakan untuk mengungkap berbagai memori kolektif yang ada di dalam masyarakat pendukung kabhanti dari waktu ke waktu.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tradisi lisan kabhanti merupakan memori kolektif masyarakat Wakatobi yang terus berkembang dari satu generasi ke generasi berikutnya. (1) Di masa lalu, hampir seluruh kehidupan masyarakat Wakatobi menggunakan tradisi lisan kabhanti sebagai bagian dari aktifitasnya, (2) saat ini, sastra lisan kabhanti masih tetap menjadi memori kolektif masyarakat yang menyimpan berbagai nilai-nilai masyarakat Wakatobi, (3) melalui sastra lisan kabhanti, banyak generasi Wakatobi yang mampu melahirkan karya-karya kreatif dengan memanfaatkan perkembangan teknologi, (4) di masa mendatang, diharapkan sastra lisan kabhanti masih tetap menjadi media memori kolektif masyarakat pendukungnya, yang tetap menyimpan nilai-nilai kultural, disisi yang lain, sastra lisan kabhanti di masa yang akan datang diharapkan dapat menjadi media pengembangan sastra lisan yang efektif karena sastra lisan kabhanti memiliki fleksibiltas yang tinggi untuk menerima setiap perubahan masyarakatnya.

Selasa, 20 Oktober 2015

Tradisi Duata dan Keberlangsungan Kehidupan Suku Bajo Di Wakatobi


  Oleh: Sumiman Udu

Keberadaan Orang Bajo di Wakatobi, sudah hampir tuanya dengan perkembangan manusia di Kawasan ini. Kalau merujuk kepada Hikayat Negeri Buton atau Hikayat Si Panjonga, maka Suku Bajo telah menjadi orang tempat bertanyanya orang-orang perahu yang memuat rombongan Si Panjongan setelah mereka ditimpa oleh angin ribut yang dasyat. Berdasarkan cerita tersebut, maka sebenanya orang bajo, sudah datang jauh sebelum kedatangan orang-orang Melayu di Kepulauan Wakatobi dan Buton pada Umumnya. Mereka telah menjadi penunjuk jalan atas kapal Si Panjongan dan teman-temannya. 

Peristiwa itu, dapat dijadikan rujukan keberadaan mereka di Wakatobi Buton pada umumnya. Kalau melihat tentang keberadaan masyarakat Bajo di dalam Kesultanan Buton, maka mereka sesungguhnya adalah salah satu masyarakat Buton yang diakui keberadaanya. Di Beteng Buton, dikenal adanya Lawana Wajo. Itu artinya, bahwa suku Bajo memiliki juga ruang di dalam kesultanan. 

Jumat, 09 Oktober 2015

Gula Rote Sampai ke Wakatobi

Pagi itu cuaca agak dingin, embun masih menyisahkan tanda-tandanya di tanah, basah. 20 km dari Ba’a Lobalain ke Busalangga pasar rakyat Rote Barat Laut. Dengan mengendarai motor metik Suzuki perburuan ini dimulai. Jalan beraspal yang mulus menjadikan perburuan ini tak begitu lama untuk sampai ke pasar Busalangga, cukup 20 menit saja.

Selasa, 06 Oktober 2015

Pentingnya Perpustakaan untuk Pembangunan Wakatobi

Oleh:
Sumiman Udu

Duduk di antara ratusan orang-orang hebat dalam seminar Internasional Sastra Bandung 2015 merupakan hal yang paling membahagiakan. Suatu moment yang mengispirasi bagaimana Sunda bisa berada pada percaturan kebudayaan Global. Mereka menata perpustakaan mereka, mereka membangun kelembagaan perpustakaan yang luar biasa. Teringat saya pada keinginan pemerintah Kabupaten Wakatobi untuk membangun Perpustakaan di Wakatobi. Selama sepuluh tahun terakhir, di Wakatobi disediakan mobil perpustakaan keliling, dan untuk melayani masyarakat di pulau-pulau lainnya, seperti Kaledupa, Tomia dan Binongko dengan mengadakan spead boat perpustakaan keliling. Sungguh suatu niatan yang luar biasa, membangun Sumber Daya Manusia Wakatobi, tetapi semua kenangan itu sirna begitu saja, karena mobil dan speat boath itu saat ini belum efektif kalau aku enggan untuk mengatakannya mati suri.

Jumat, 02 Oktober 2015

EKSISTENSI SASTRA LISAN BHANTI-BHANTI SEBAGAI RUANG NEGOSIASI LOKAL DALAM KEBUDAYAAN GLOBAL[1]



Oleh:
Sumiman Udu[2]
Keberadaan sastra lisan selama ini telah menjadi indentitas masyarakat lokal dalam menghadapi kebudayaan global di seluruh dunia. Sebagai ekspresi budaya lokal, sastra lisan bhanti-bhanti tetap menyuarakan identitas lokal masyarakat Wakatobi yang terus-menerus menyesuaikan diri dan membangun dialog dengan kebudayaan global yang terus menyerbu hingga ke ruang-ruang ketaksadaran kolektif masyarakat.
Penelitian ini menggunakan paradigma etnografi. Data penelitian ini akan difokuskan pada pandangan masyarakat Wakatobi tentang indentitas lokal mereka dalam menghadapi kebudayaan global yang ada dalam sastra lisan bhanti-bhanti. Dengan demikian, data akan dianalisis untuk melihat eksistensi masyarakat Wakatobi yang digambarkan dalam sastra lisan bhanti-bhanti sebagai ekspersi budaya lokal dalam berinteraksi dengan budaya global.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa melalui sastra lisan bhanti-bhanti masyarakat Wakatobi mampu membangun identitas lokal mereka. Tetapi di sisi yang lain, sebagai ekpresi budaya lokal, sastra lisan bhanti-bhanti masyarakat Wakatobi tetap terbuka, terutama dalam menghadapi berbagai perkembangan budaya global. Oleh karena itu, keberadaan sastra lisan bhanti-bhanti merupakan identitas lokal dan sekaligus menjadi ruang negosiasi kultural masyarakat Wakatobi dalam menghadapi perkembangan dan perubahan budaya global dewasa ini.
Kata kunci: eksistensi, sastra lisan, bhanti-bhanti, ruang, negosiasi lokal, kebudayaan Global



Selasa, 15 September 2015

ETNOBATANI MENGUNGKAP KEDEKATAN KEBUDAYAAN ANTARA MASYARAKAT WAKATOBI DENGAN MASYARAKAT NUSA TENGGARA TIMUR




Oleh : Sumiman Udu

Uwi pada gambar di atas adalah salah satu jenis Uwi yang dikenal oleh masyarakat Wakatobi Sulawesi Tenggara dengan nama Opa larantuka. Nama yang merujuk pada nama daerah Larantuka di Nusa Tenggara Timur. Ini menunjukan bahwa sejak dahulu kala, telah terjadi kontak dagang dalam pelayaran tradisional masyarakat Wakatobi Buton dengan masyarakat larantuka di Nusa tenggara timur. Kesadaran kolektif masyarakat Buton bahwa orang timur adalah saudara kita bukan hanya pada faham ideologis, tetapi juga dibuktikan dalam beberapa etnobotani yang ada di daerah ini.
Kosa kata etnobatani yang yang juga merujuk pada kedekatan kultural dengan masyarakat di Nusa tenggara timur adalah dikenalnya gula merah di Wakatobi dengan sebutan Gula Rote. Penggunaan istilah ini biasanya dihubungkan dengan asal-usul bahan makanan tersebut. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa Opa Parantuka merupakan salah satu jenis Uwi yang didatangkan dari larantuka. Hal ini sejalan dengan aktivitas bisnis gula aren yang sampai hari ini masih berlangsung antara masyarakat rote dan masyarakat Wakatobi.
Di samping itu, pohon kosambi yang mirip buah kelengkeng di Jawa dikenal dengan kasambi di Kupang Nusa Tenggara timur. Kedekatan nama ini, menunjukan bahwa secara kultural masyarakat Wakatobi dan Masyarakat di Nusa Tenggara Timur memiliki kedekatan kultural, karena nama-nama tanaman yang hampir sama tersebut menunjukan bahwa di zaman dulu sudah pernah ada kontak sosial.
Dalam tradisi lisan masyarakat Kapota, mereka mengatakan bahwa sebagian penduduk Kapota Wakatobi adalah sisa-sisa pasukan alor yang ditugaskan untuk membantuk menghalau parompak Tobelo dan Ternate di pulau itu. Kerja sama kesultanan Buton dengan Kerajaan Alor diperlihatkan dengan kehadiran pasukan tersebut, dan sampai saat ini masih ada sisa-sisa pasukan itu di pulau Kapota. Apakah opa larantuka hadir bersama dengan bahan makanan pasukan alor? Sampai saat ini belum ada penelitian atau data yang menunjuk ke arah bukti itu. Tetapi apakah Opa larantuka di bawa oleh para pelayar yang membeli Opa larantuka sewaktu mereka mengambil air minum di sana? Ya, terdapat juga kemungkinan. Tetapi satu yang pasti bahwa orang Wakatobi mengenal nama bahan pangan itu sebagai opa larantuka.
Pada tahun yang lalu, bupati Wakatobi Ir. Hugua bersama rombongan berangkat ke Nusa Tenggara Timur untuk menjalin kerja sama dengan salah satu pemerintah kabupaten di Nusa Tenggara Timur dengan harapan ingin membangun jalur selatan-selatan, telah melahirkan komitmen bersama untuk membuka jalur pelayaran kapal veri Wakatobi NTT. Jalur-jalur perdagangan tradisional yang pernah dihubungkan oleh perahu karoro, hendaknya dihidupkan kembali guna meningkatkan kesejahteraan dua daerah.
Keberadaan Wakatobi sebagai jalur transportasi Indonesia barat dan timur, bagian utara dan selatan, berpotensi untuk dikembangkan menjadi sentral (pasar) berbagai jenis komoditas yang berasal dari NTT, termasuk pasar gula rote, pisang, kambing, bawang merah dan ayam. Sementara dari daerah Maluku, akan datang berbagai hasil-hasil perkebunan seperti cengkeh, pala, kopra dan berbagai hasil perkebunan dan hutan lainnya. Terbukanya bandara Matahora Wakatobi telah memberikan harapan baru untuk membuka kembali jalur pelayaran tradisional dalam model transformasinya ke kapal veri, kapal cepat, dan pesawat terbang yang melayani rute NTT dan Wakatobi, dan seluruh hasil-hasil itu akan langsung didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia.

Merawat Bumi di Timor Tengah Selatan

Oleh : Yusran Darmawan

Published: 16.09.15 11:04:26 oleh Kompasiana
Updated: 16.09.15 11:11:26
Hits : 49
Komentar : 0
Rating : 1
Merawat Bumi di Timor Tengah Selatan
buku yang mengisahkan kehidupan warga Mollo

DI berbagai konferensi internasional, orang-orang berkisah tentang bagaimana menyelamatkan lingkungan. Seluruh perangkat ilmu pengetahuan telah dikeluarkan demi menemukan jawab atas perubahan iklim yang terus menggerus bumi. Seluruh pengetahuan yang disarikan dalam berbagai jurnal ilmiah diurai dan dibedah demi menemukan jawab atas bumi yang kian renta dan rawan dengan bencana.

Nun jauh di pedalaman Timor Tengah Selatan, tepatnya di Mollo, warga lokal telah lama merawat bumi dengan penuh kasih. Mereka tak pernah membaca jurnal ilmiah, tapi mereka terus merawat pengetahuan tentang alam semesta sebagai tubuh manusia yang harus dijaga dan dilestarikan. Tak hanya merawat, mereka juga melawan korporasi dan negara yang mencaplok bumi dengan aktivitas tambang.

Hebatnya, mereka tak melawan dengan bedil dan senjata. Tak juga dengan bom molotov ataupun melempar polisi, sebagaimana dilakukan para mahasiswa yang kerap kali merasa dirinya intelektual hebat. Para perempuan Mollo itu membawa alat tenun. Hah?
Amazing!
***
DI salah satu acara yang tayang di Metro TV, saya menyaksikan perempuan hebat bernama Aleta Baun. Sepintas, ia serupa dengan ibu-ibu lain yang saban hari kita saksikan di berbagai desa-desa di tanah air. Siapa sangka jika Aleta Baun pernah memimpin ribuan orang, yang kebanyakan di antaranya adalah perempuan, untuk menduduki kawasan tambang.
Di tanah Mollo, pencaplokan tanah telah lama menjadi lagu yang dituturkan warga desa. Dalam buku berjudul Mollo, Pembangunan dan Perubahan Iklim yang ditulis Siti Maemunah dan terbit pada tahun 2015, saya menemukan betapa kompleksnya kehidupan yang dialami masyarakat lokal. Tanah-tanah mereka dicaplok perusahaan dan negara, demi kepentingan akumulasi modal.
Kawasan pegunungan itu kaya dengan sumberdaya alam. Beberapa perusahaan yang didukung oleh pemerintah daerah datang ke situ untuk mengeruk hasil alam. Di saat bersamaan, masyarakat lokal telah lama mendiami kawasan pegunungan itu dan menjadikannya sebagai mata rantai keseimbangan alam.
Yang dlakukan perusahaan adalah menyingkirkan masyarakat lokal dengan dalih kepemilikan lahan. Masyarakat disingkirkan, dijauhkan dari lingkungannya, dipinggirkan dari semesta ekologis yang telah didiami turun-temurun.
Perusahaan lalu membor bumi, mengeruk isinya, lalu membiarkan masyarakat bergelut dengan bencana. Perusahaan melihat alam sebagai komoditas bernilai tinggi yang bisa memperbesar pundi-pundi dan kekayaan pribadi.
Sementara bagi masyarakat, alam adalah bagian dari semesta yang harus dijaga kelangsungannya. Tindakan perusahaan itu dilihat sebagai tindakan yang menginjak-injak kepercayaan masyarakat. Penambangan marmer itu dilihat sebagai tindakan untuk membingkar dan mencuri batu-batu suci milik masyaraat adat.
Sejak dahulu, masyarakat memiliki kepercayaan turun-temurun tentang fungsi tanah, batu, pohon, dan air. Orang Mollo percaya bahwa keempat elemen ini punya fungsi yang sama dengan tubuh manusia. Air melambangkan darah, batu melambangkan tulang, tanah adalah daging, dan hutan-hutan adalah ambang dari kulit, paru-paru, dan rambut. Kepercayaan ini digambarkan dalam kalimat “fatu, nasi, noel, afu amasat a fatis neu monit mansian”, yang artinya “Batu, hutan, air, dan tanah bagai tubuh manusia.”
Di tengah-tengah krisis itu, Aleta tampil ke depan. Ia memimpin berbagai suku-suku untuk menyatakan protes. Ia dibantu banyak anak muda yang menjadi kurir untuk menghubungi semua tetua adat yang tersebar di puluhan desa. Ia mengorganisi masyarakat, menggalang kebutuhan logistik untuk perjuangan.
Tanggal 3 Juni 2000, ia bersama ribuan orang menduduki kawasan itu selama dua bulan. Aksi ini adalah aksi terbesar yang pernah dilakukan masyarakat adat. Ia memimpin lebih dari seribu ibu-ibu yang datang ke pegunungan dnegan membawa alat tenun. Mereka menduduki kawasan pegunungan itu selama dua bulan, sekaligus menyampaikan sikap bahwa pemilik gunung-gunung itu adalah masyarakat adat, yang selama ini melihat semua gunung itu sebagai bagian dari semesta yang mendukung kesinambungan ekologis. Bahwa manusia hanyalah noktah kecil yang mendapatkan manfaat dnegan lestarinya pegunungan. Aksi itu berhasil mengusir perusahaan itu ke luar pegunungan.
Persoalan tak lantas berhenti. Pemerintah mengeluarkan izin bagi tambang batu lainnya. Pada 15 Oktober 2006, kembali Aleta Baun memimpin ribuan mama-mama dan perempuan muda untuk menduduki kawasan tambang dengan membawa alat tenun. Mereka merayakan Natal di kawasan itu. Seorang pendeta memberikan ceramah tentang pentingnya menjaga lingkungan dan alam semesta. Kembali, perjuangan ini berhasil.
Yang menakjubkan adalah kemampuan penduduk desa memilih aksi menenun sebagai upaya menyatakan protes. Bagi masyarakat setempat, menenun adalah cara untuk memahami alam semesta. Identitas masyarakat bisa terbaca dari tenunan. Di dalam setiap motif tenun, terdapat berbagai makna dan simbol yang menggambarkan filosofi masyarakat. Bahkan, tenun juga menjadi penanda kedewasaan seorang perempuan.
Melalui aksi menenun itu, para perempuan Mollo menunjukkan relasinya dengan alam melalui berbagai bahan pewarna alami, serta material untuk membuat kain yang semuanya berasal dari alam. Melalui tenun itu, perempuan Mollo hendak menegaskan kemandirian mereka untuk memenuhi smeua kebutuhannya. Mereka ingin meneriakkan pesan bahwa “Kami tak butuh korporasi dan secuil keuntungan itu. Kami sanggup memenuhi kebutuhan kami. Bahwa alam semesta amat pemurah serupa ibu yang menyediakan semua kebutuhan.”
Aksi ini mengingatkan saya pada konsep satyagraha dari Mahatma Gandhi di India yang menyatakan protes melalui aksi menenun sendiri pakaian yang hendak dikenakannya. Menenun menjadi cara baru untuk menyampaikan sikap tentang kemandirian dan sikap untuk tidak tergantung pada bangsa manapun. Hanya dnegan kemandirian, satu bangsa bisa menentukan jalannya sendiri, tanpa harus didikte oleh bangsa manapun.
Nampaknya, inspirasi gerakan sosial tak selalu harus didapatkan dari sosok hebat seperti Gandhi di India. Di sekitar kita, tepatnya di Timor Tengah Selatan, kita bisa menemukan butiran inspirasi yang akan memperkaya batin kita tentang betapa digdayanya masyarakat saat menyatakan protes.
Yang dilakukan Aleta dan perempuan Mollo adalah sekeping jalan keluar dari krisis global serta ancaman bencana yang muncul akibat perubahan iklim. Hanya dnegan cara merawat alam, menjadikannya sebagai bagian dari manusia, lingkungan bisa terselematkan sehingga bisa memberi makna bagi masyarakat luas. Ketika manusia melihat alam sebagai obyek, maka bencana demi bencana bisa hadir. Alam bisa menghukum keserakahan manusia.
Pada sosok seperti Aleta Baun, kita menemukan inspirasi dan harapan-harapan bahwa bangsa ini akan selalu bangkit selagi ada yang peduli dengan sekitarnya. Bangsa ini akan kuat ketika ada manusia-manusia biasa yang melakukan aksi luar biasa demi menginspirasi lingkungan, merawat bumi dengan penuh kasih, lalu menyelematkan bumi untuk generasi mendatang.
Bogor, 16 September 2015

Sabtu, 18 Juli 2015

DEMOKRASI KAPITAL DAN DAMPAKNYA PADA PEMBANGUNAN Wakatobi: Sebuah Refleksi



Oleh: Sumiman Udu

Timbangi la bhonto timbangi
Te togo nolingka-lingkamo
Renungkanlah la bhonto renungkanlah
Kampung ini sudah mulai miring


               
                Demokrasi merupakan sistem baru yang memberikan kesempatan kepada rakyat untuk memilih pemimpinnya. Konsep ini telah melahirkan suatu pemahaman bahwa dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Konsep ini, walaupun tindak menggunakan istilah yang sama dengan model pengangkatan pemimpin di dalam kebudayaan Wakatobi – Buton secara kultural, tetapi sistem ini telah tumbuh jauh sebelum demokrasi berkembang di Eropa dan Amerika. Secara kultural, masyarakat Wakatobi telah mengenal pemilihan yang berlandaskan nilai-nilai budaya yang telah diturunkan turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya, dimana seorang pemimpin harus mampu memimpin dengan hatinya, jiwanya yang suci dan jujur. Bahkan leluhur kita mengatakan bahwa seorang pemimpin harus memimpin dengan jujur, cerdas, bijaksana dan adil. Oleh karena itu, secara kultural pemimpin di dalam masyarakat Wakatobi dipilih dengan melihat rekam jejak mereka di masyarakat, tanpa ada kampanye, tetapi perjalanan hidup seseorang menjadi catatan masyarakat untuk mengangkat seseorang sebagai pemimpin. Tentunya  yang terpenting adalah bahwa seorang pemimpin harus memiliki visi dan misi pembangunan jangka panjang, menengah dan jangka pendek. Di samping itu, mereka juga harus tetap memperhatikan keselamatan kampung, mulai dari penyakit, kesejahteraan, hingga bagaimana ketenangan dan kedamaian di dalam hidup bermasyarakat. Karena ukuran kinerja pemerintah diukur seberapa besar nilai manfaat yang di dapatkan oleh masyarakat.

Selasa, 07 Juli 2015

Kebudayaan Austronesia sebagai Akar Peradaban Nusantara: Ornamen pada Nekara dan Artefak Perunggu Lainnya

Agus Aris Munandar
Departemen Arkeologi FIB UI

I
Austronesia sebenarnya adalah istilah ciptaan para sarjana ketika mereka harus menjelaskan adanya kebudayaan awal dalam masa prasejarah yang berkembang di kawasan Asia Tenggara. Bukti-bukti adanya kebudayaan masa prasejarah yang mempunyai kemiripan tersebut tersebar di berbagai wilayah di Asia Tenggara daratan, kepulauan Indonesia, Filipina, Taiwan, di pulau-pulau Pasifik hingga kepuluaan Fiji, ke barat bukti-bukti tersebut dapat ditemukan hingga Pulau Madagaskar di pantai timur Afrika.

Kebudayaan Austronesia didukung oleh orang-orang dinamakan saja orang Austronesia, tentunya mereka awalnya menetap di suatu wilayah tertentu sebelum melakukan diaspora ke berbagai wilayah lainnya dalam rentang area yang sangat luas. Para ahli dewasa ini menyatakan bahwa migrasi orang-orang Austronesia kemungkinan terjadi dalam kurun waktu 6000 SM hingga awal tarikh Masehi. Mengenai tempat menetap orang-orang Austronesia pada awalnya, masih menjadi diskusi hangat dari para ahli.

Jumat, 03 Juli 2015

Di Bawah Bayang-Bayang Ode: Sebuah Novel

Novel "Di Bawah Bayang-Bayang Ode" merupakan novel antropologi yang ditulis berdasarkan penelitian bertahun-tahun pada kebudayaan Wakatobi - Buton. Novel ini merupakan rekaman dari dinamika kebudayaan Wakatobi Buton selama ini.

Disajikan dalam kisah cinta dua orang anak Manusia (Amalia Ode) dengan Imam yang penuh dengan lika-liku adat, pelarangan, pelanggaran, hingga sebuah permintaan yang berakhir dengan kehilangan jiwa (Amalia Ode).
Mimpi pertemuan dengan seorang Mahasiswa yang memanggilnya ibu, telah memaksa Amalia Ode untuk tetap mempertahankan cintanya. Ia Bertahan sampai ia melahirkan anaknya. Perkawinannya dengan La Ode Halimu, menyadarkan La Ode Halimu bahwa perkawinan bukan hanya dilandasi oleh adat dan budaya, tetapi harus dilandasi dengan cinta dan kasih sayang. Jabat tangan bukan hanya sebagai ritual, tetapi lebih dari itu.

Patah hati yang menimpa hati seorang lelaki yang memang rapuh, membuat Imam mengalihkan seluruh cintanya untuk menuntut pendidikan sebagai bentuk pemberontakan pada budayanya, budaya yang telah mendiskreditkan dirinya, budaya ode yang masih dianggap sebagai darah biru oleh masyarakat Buton, sementara Imam menyadari bahwa Ode adalah bentuk kreativitas yang diberikan oleh Budaya bagi mereka yang berkarya.

Kehadiran Anastasia yang didik jaih berbeda dengan ibunya Amalia Ode, telah memberikan karakter yang jauh berbeda. Anastasia, perempuan unlimitid telah membuat Anastasia tampil sebagai perempuan yang penuh dengan kebebasa, tetapi selalu bertanggung jawab atas semua yang dilakukannya. Perempuan yang pasti berbeda dengan perempuan kebanyakan dalam kebudayaanya.

Pertemuannya dengan Dr. Iman dalam sebuah perkuliahan, mengingatkan kembali Imam pada cinta yang selama ini mengubur segala cintanya.

Sebuah kisah cinta yang heroik, perjuangan, penghiantan, kebebasan, keterkungkungan, tersajikan dalam alur cerita cinta. Tentunya, pembaca harus membaca bukunya secara langsung baru dapat merasakan apa yang dialami oleh tokoh-tokoh yang ada dalam novel ini.

Senin, 29 Juni 2015

GALELA: KOPRA DAN PERADABAN PERAHU BUTON YANG HILANG

Oleh: Sumiman Udu

Perjalanan Masa lalu yang telah membawa kisah yang panjang pada generasi tua Wakatobi, yang kini hempir hilang. Perubahan sistem ekonomi pelayaran perahu karoro mengumpulkan kopra dari Marirtim Timur Nusantara telah melenyapkan pelayaran ini. Tahun 1980-an pelayaran ini memberikan suatu kemajuan luar biasa, khususnya pelabuhan Pantai Patuno. Pelayaran Kopra yang banyak menyimpan cerita, namun tak satupun generasinya yang ingin menjelajahi pelayaran ini.