Minggu, 30 Januari 2011

WANIANSE

Bagian V
Keesokan harinya, Wanianse terbangun tepat pukul setengah lima subuh, ia merangkak ke dapur untuk mengambil air wudhu. Di telinganya baru saja mengalun azan subuh dari langgar yang tidak jauh dari rumahnya. Langgar kecil yang dibangun oleh masyarakat secara bergotong royong. Subuh itu angin timur begitu kencang, sehingga ketika ia balik untuk melaksanakan shalat, lampu minyak itu mati tertiup angin.
“Ya Allah, adakah kesempatan kepada kami mendapatkan listrik?, enam puluh enam tahun negeri ini merdeka, tetapi listrikpun kampung kami belum pernah merasakan. Semoga listrik, dapat menjadi ruang untuk sama dengan anak-anak negeri ini. Enam puluh lima tahun kami masih dalam dunia gelap, bagaimana kami dapat bersaing dengan masyarakat lain di negeri ini, mereka sudah memiliki computer dan internet, tetapi kampung kami, listrik pun belum menyentuh’, Wanianse membatin, telinganya dipertajam sambil tangannya mengapai-gapai di kegelapan mencari korek api. Desah napas kedua anaknya menyadarkannya pada tempat mereka berbaring, ia berjungkal-jungkal mencari tempat korek itu.
Beberapa lama kemudian, tangannya mengapai korek api. Ia langsung nyalakan, dan terlihatlah Wa Leja dan La Ijo yang sedang tertidur pulas. Selintas kemudian bayangnya terbang pada suaminya tercinta yang jauh berjuang untuk membangun rumah, sebagai sebuah martabat dari seorang suami. Teringat pondasi rumahnya, terbayang mereka akan pindah ke rumah baru itu suatu saat, ia tersenyum.
Sesaat kemudian Wanianse menggapai mukenanya, dan sajadah, ia melakukan shalat shubuh.  Dan setelah selesai, ia berdoa, “Ya Allah, berikanlah cahaya pada negeri ini. Keluarkanlah kami dari kegelapan, berikanlah kami cahaya ilmumu, berikanlah kami rizki yang halal yang Allah, agar anak-anak kami dapat hidup sejahtera. Hidup bahagai dan damai,” air matanya terurai membasahi pipinya, Ya Allah, berikanlah kekuatan dan kesabaran pada suamiku Ya Allah, jadikanlah ia suami yang selalu kuat dalam berjuang untuk kemaslahan anak-anak kami.
Di benaknya, terbayang wajah dan kekacauan negerinya, dan mulutnya mengucap doa, “Ya Allah, andai saja Kau mau menguji kami dengan kemiskinan harta, maka ujilah Ya Allah, sebab kami akan lulus dengan nilai terbaik, karena kami sudah terbiasa, tetapi jika Kau mau menguji kami dengan kebodohan, maka demi namaMu yang Allah, aku memohon jauhkan ujian itu dari kampung kami, sebab itu akan membuat kami lebih tidak bersyukur, bahkan kami dapat kafir kepadamu Ya Allah.” Pikirnnya terbayang anak-anak kampung yang hidup dari kerja fisik, tanpa pikiran, hanya karane mereka tidak pernah sekolah.
“Ya Allah, yang maha suci, sucikanlah diri kami ya Allah, sebagaimana engakau mensucikan manusia pilihanmu, sucikanlah pemimpin kami dari segala niat dan tingkah yang membuat dosa, Ya Allah, membuat mereka terbelenggu dengan segala keterikatan. Ya Allah, jagalah mereka agar mereka tetp sabar dalam kebenaran dan kesabaran, agar mereka lebih bebas dalam membangun negeri ini. Mereka tidak hidup dalam ketakutan, karena saya tahu bahwa yang paling ditakuti oleh seorang manusia adalah adalah perbuatannya yang melanggar kebenaran dan sunatullah .  Karena kesengsaraan sejati adalah ketika kita diadili oleh diri sendiri. Sebab pengadilan sejati adalah pengadilan hati nurani, Ya Allah jagalah pemimpin kami dari segala hukuman nurani itu dengan membuat mereka tetap pada kebenaran dan kesabaran.
Lama Wanianse termenung dalam doanya, suara sapu dari tetangganya sudah mulai masuk dalam telinganya, ia tutup doanya dengan doa sapu jagat.
Kemudian, ia pergi ke dapur, lalu kembali ke ruang tengah rumahnya dan membangunkan Wa Leja dan La Ijo, sebab Wa Leja harus pergi ke sekolah.
“Bangun Nak!, hari ini kau harus ke sekolah,” kata Wanianse pada anaknya.
Wa Leja terbangun, sementara La Ijo masih malas, Wa Leja menggosok matanya dengan panggung tangannya.
“Ina, pake baju apa sebentar?” Tanya Wa Leja pada ibunya, sementara La Ijo menangis minta di gendong.
Wanianse membawa kedua anaknya ke sumur di halaman rumahnya. Sumur yang dalamnya dua belas meter itu membuat tangan Wanianse bekerja keras, tetapi ia menimba beberapa ember untuk memandikan kedua anaknya. Wa Leja sudah bisa ke sekolah tanpa di antar, sementara La Ijo dititip di tetangga. Ia berencana pergi ke kebun di dangkuku, melihat bawangnya.
Setelah mandi, Wa Leja langsung berpakaian dan sarapan, dan tidak lama kemudian, teman-temannya sudah datang menjemput dan langsung mereka menuju sekolah yang tidak jauh dari rumah, tepat di ujung kampung pas dibelakang rumah kepala kampung.
“Ina, kuwilamo,” panggil Wa Leja, dan langsung menjabat tangan ibunya dan langsung berlari mengejar teman-temannya. Wa Leja pergi ke sekolah, dengan hanya membawa air minum yang diisi di dalam botol. Ia pergi tanpa membawa uang jajan, ibunya tidak membiasakannya, dengan uang jajan, sebab itu tidak baik, dan lebih-lebih pada kesehatannya.
Setelah Wa Leja pergi, Wanianse mengurus La Ijo, setelah dimandikan dan diberi sarapan, La Ijo di bawah ke rumah neneknya. “Ina jaga La Ijo, saya mau lihat bawangku, sudah lama baru saya pergi lihat”.
“Maimo di ana La Ijo,” panggil neneknya, La Ijo yang sudah terbiasa di tinggal ibunya ke kebun, langsung berlari untuk bermain dengan sepupu-sepupunya.
Wanianse langsung pulang ke rumahnya, dan di sana tetangganya sudah menunggu. Keduanya pergi ke kebun, sekitar satu setengah liko meter. Keduanya berjalan di bawah sinar matahari pagi, “Saya kira kau sudah mulai melupakan bawangmu Wa Unga,” ucap Wanianse pada tetangganya.
“Oe, tapumasa te lisitirii ara mbea’e Wanianse?” terlalu mahal itu.
“Iya, masa habis dijanji bahwa peraturan presden harga dasarnya Sembilan ratus ribuan, masa sama kita orang miskin ini, dinaikkan menjadi lima jutaan, kasian kita ini. Kalau satu juta, kita pasti dapat memasang listrik, jawab Wanianse.
“Kalau saya tidak bisa Wanianse, nanti saya pasang saja sama kamu, mudah-mudahan kamu dapat pasang,” ucap Wa Unga dari belakang Wanianse.
“Mudah-mudahan hanya satu juta, kalau satu juta, saya akan menunda beli semen, saya akan membeli listrik dulu,” jawab Wanianse.
“Kalau kamu ada kiriman suamimu, saya berdoa saja semoga kita dapat menikmati listrik.
Tidak lama kemudian, sampailah mereka di kebun bawang, di padangkuku. Wanianse menuju kebunnya, sementara wa unga juga ke kebunnya. Jaraknya tidak terlalu berjauhan. Memasuki kebunnya, Wanianse menatap bawangnya tumbuh, tetapi rumput juga sudah maulai tumbuh, mentimun pun sudah tumbuh disudut-sudut kebunnya. Batangnya merambat ke mana-mana. Ia juga sudah melihat buahnya yang sudah mulai matang, “satu, dua, tiga, empat,” Wanianse mulai menghitung beberapa buah semangkanya.
“saya akan memetik satu buah sebentar, untuk La Ijo dan Wa Leja, ia juga teringat suaminya, karena suaminya sangat suka dengan buah semangka.
Menjelang tengah hari, mereka pulang. Di tempat perhentian di atas bukit, kabanyakan petani berhenti di bawah pohon beringin, sambil menyaksikan bentangan pandang belukar dan sentuhan angin segar. Kebanyakan orang-orang yang kebunnya jauh berkumpul di situ. Ada mengupas ubi kayunya, ada yang baring-baring, ada juga yang menyanyi.
Wanianse menghampiri beberapa teman-temannya, dan menyuguhkan air minum. “Jari Wanianse, toumpa na ahu ana?” Tanya salah seorang ibu yang sedang mengupas ibu kayunya.
“Oho, wa tuha, kambana marasai ana, mudah-mudahan kita dapat membeli sesuai harga dasar listrik yang ditetapkan  pemerintah,” jawab Wanianse. “kita berharap saja, semua wagra kampung sepakat dan komitmen dengan hasil pertemuan itu hari. Keputusannya ‘kan, siapa yang memasang dengan harga lima jutaa, berarti tidak bersatu dengan masyarakat. Dan keputusan rapat, rumahnya dilempar oleh masyarakat.
“Teatumo, mudah-mudahan, kita dapat bersatu, atau pemerintah daerah dapat membantu kita dalam harga dasar pemasangan baru,” ucap yang lain.
“Ara umane nabantu te masyarakat I kampo ana, te pasa’a nulisitiri, maka takumene’emo ala’a,”  kata salah seorang bapak-bapak mendengarkan pembicaraan ibu-ibu di sampingnya.
“Kakuaka ara teparenta mai ana mau mendengarkan hati dan suara rakyat, maka kita rakyat ini akan selalu mendukung mereka, tetapi ini, mereka hanya berebut tanah-tanah rakyat, bahkan tanah adat yang diklaim orang pun dibeli untuk kepentingan pribadinya. Kalau begini, kita akan menderita dalam jangka waktu yang panjang. Anak-anak kita akan tetap melarat, karena pendidikan juga tidak dapat perhatikan dengan baik oleh pemerintah,” urai salah seorang lelaki muda yang lain.
“Makanya, sudah saatnya sekarang untuk memberitahu saudara-saudara kita untuk tidak menjual tanah kepada para kapitalis itu, sebab model-model penjajahan modern adalah usaha untuk menguasai asset-aset masyarakat (termasuk tanah) agar menciptakan ketergantungan yang besar pada kapitalisme, urai Wanianse.
“Lihat saja, hampir semua tanah di kampung ini sudah dijual, mau jadi apa mereka yang sudah menjual tanahnya. Tiap hari orang datang cari tanah, mengapa? Karena memang itu adalah cara halus untuk mengusir orang di kampung kita ini, yaitu dengan membeli tanahnya, dengan menggantikan tanah itu dengan uang yang tidak berharga apa-apa,” Lanjut pria muda itu.
“Kalau begini terus, anak-anak kita akan kehilangan segalanya, kehilangn hak untuk hidup karena ingat, daerah ini adalah pulau kecil yang sangat terbatas,” sambung lelaki tadi.
“Begini saja, sekali lagi, sampaikan pada orang-orang kampung bahwa, jangan lagi menjaul tanah. Karena itu hanya uang sesaat, dan bagaimana kalau kita meminta pekerjaan dan pendidikan dari masyarakat,” ucap Wanianse.
Sementara angin sejuk membelai wajah-wajah mereka. Dan air minum laksana air surga datang untuk menyejukkan, rasa menambah sejuknya tempat peristerahatan itu. Tidak terasa, matahari sudah mulai condong kea rah barat, Wanianse langsung pulang menuju rumah, karena anak-anaknya sudah menunggu di rumah ibunya.
“Perjalanan yang sekitar satu kilo meter itu, terasa dekat, karena pikirannya telah menyaksikan anak-anaknya menikmati semangka hasil kebunnya sendiri.
Bersambung…………………..

Kuterjemahkan dan kuberi komentar syair ini untukmu, bangsaku!

Oleh: Asrif Wakatobi pada 10 Desember 2010 jam 2:37

Kuterjemahkan dan kuberi komentar syair ini untukmu, bangsaku! Supaya engkau lebih lagi mengetahui betapa sudah tinggi kebudayaan jiwamu di abad-abad yang lalu. Dan, betapa hebat usahamu di masa-masa yang lampau untuk ketinggianmu.
                                                 
Bukan aku inginkan balik ke masa itu. Tiada yang hendak kembali ke masa perahu layar karoro, ini masa kapal atom, sputnik, explorer! Aku hanya mengharapkan semoga engkau mengadakan perbandingan. Semoga diusahakan keseimbangan: Dahulu, ketika engkau melayarkan perahu karoromu, tanganmu beruratkan kawat dan hatimu bersemangatkan api. Sekarang, di masa sputnik explorer ini, tetapkah kawat urat-uratmu dan api hatimu? Tetappun kau masih memalukan. Seharusnya tanganmu sudah waja dan hatimu cahaya kosmos.

Inilah salah satu terjemahan dari salah satu karangan-karanganmu di masa yang lampau. Ketika engkau masih menulis dengan bulu burung atau dengan segar. Sekarang, dengan vulpen atommu, kutanya engkau, “Berapa lebih tinggi mutu karanganmu?” Dan yang terpenting: isinya, kebesaran isinya, kekerasan citanya! Lihatlah cita Ubermenschmu yang telah kau buat dahulu ini. Cita Ubermensch yang Uber karena dan demi Tuhan! Sekarang katanya engkau, “Sudah kau realisasikankah cita Ubermenschmu dewasa ini?”

Aku bukan hendak memalukanmu. Engkau telah merana ketika engkau sedang tumbuh karena tindakan bangsa yang lebih tua dirimu. Kalau engkau bertumbuh terus tak terusik, sekurang-kurangnya engkau akan lebih dari kini. Itu yang kukehendaki supaya engkau ketahui dengan nyata! Di dirimu ada benih yang besar. Tumbuhkanlah! Dan tunas-tunasmu yang telah tumbuh dahulu, segarkanlah!

Semoga, zaman kemerdekaan ini akan menghebatkanmu kembali jauh lebih dari masa-masa yang lampau, di lapangan materi dan di dunia rohani.

Jakarta, 10 Oktober 1958
La Ode Malim

Catatan di atas merupakan catatan pendahuluan almarhum La Ode Malim pada buku berjudul “Membara di Api Tuhan” yang ditulis pada tahun 1958 dan dipublikasikan pada tahun 1983. Buku “Membara di Api Tuhan” merupakan terjemahan dan penghayatan La Ode Malim atas syair “Bulamalino” gubahan Sultan La Ode Muhammad Idrus Kaimuddin. Akumulasi terjemahan dan penghayatan La Ode Malim melahirkan deskripsi yang kemudian terangkai menjadi sebuah buku “Membara di Api Tuhan”.

Bun, walau saya tidak pernah melihat wajah ayahmu, tidak pernah mendengar suara ayahmu, tidak pernah bersalaman dengan ayahmu, tetapi saat ini, saya merasa melihat sosok ayahmu yang kuat, tegas, cerdas, dan dekat dengan-Nya.

Bun, sejak di bangku kuliah tahun 1996, kita telah banyak menghabiskan waktu bersama. Bahkan, Bun telah menyempatkan dirimu ke kampungku di pulau Tomia. Begitu juga sebaliknya, rumah tempat tinggalmu di Tanah Abang dan kini di Bukit Wolio juga telah saya kunjungi. Tetapi, tidak sepatah kata pun keluar dari bibirmu tentang ayahmu. Bun tidak pernah cerita jika ayah Bun adalah seorang cendekia, agamis, tokoh pendidikan, bahkan pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Haluoleo, Kendari, Sulawesi Tenggara.

Di pertengahan waktuku di Leiden, Belanda, saya dipertemukan dengan sebuah buku tulisan ayahmu. “Kesenian Daerah Wolio” ayahmu menamai buku itu. Dan, pada ujung waktu saya di Leiden, tiga hari sebelum meninggalkan kota ini, saya berjumpa dengan karya ayahmu, “Membara di Api Tuhan”., ditulis oleh ayahmu, 19 tahun  sebelum dirimu lahir. Perjumpaan saya dengan karya ayahmu yang terakhir, terinspirasi komentar seorang senior di Kendari yang menceritakan “semangat” ayahmu yang ternyata sangat dikaguminya.

Komentar senior itu menggerakkan jemariku untuk mengetik nama ayahmu “La Ode Malim” di akun sebuah perpustakaan di negeri Belanda. Dari layar notebookku, terpampang dua buah buku dengan judul yang berbeda dan nama yang berbeda. “Ini tidak mungkin!”, pikirku. Walau baru beberapa bulan di perpustakaan ini, saya tau-tau sedikit dengan kemampuan profesional pengelola perpustakaan ini. Bun, saya tidak tahu, perasaan apa yang saya alami saat melihat dua buah buku, berbeda judul, berbeda nama, padahal, nyata-nyata saya hanya mengetik satu nama “La Ode Malim!”

Di layar notebookku, ada dua buku hasil pencairan dengan menggunakan nama ayahmu. Buku 2 rupanya telah saya baca diparuh kehadiranku di negeri ini, sedangkan buku bernomor urut 1 belum pernah saya lihat apalagi membacanya. Ada yang aneh, hatiku berkata. Setahu saya, perpustakaan ini akan memunculkan buku yang memiliki keterkaitan dengan buku yang kita cari. Tetapi, entah karena apa buku “Membara di Api Tuhan” tidak pernah hadir saat saya mengetik “Buton”. Bukankah buku itu harus terpampang di layar monitor?

Bun, pada halaman pendahuluan buku “Membara di Api Tuhan”, ayahmu telah memperlihatkan baranya yang membara ke relung jiwa. Ayahmu juga menyatakan sikap tegasnya terhadap bangsa dan generasi, setegas waja yang seharusnya telah menjalari urat-urat nadi generasi hari ini. Bun, ayahmu berkata:

Bukan aku inginkan balik ke masa itu.
Aku bukan hendak memalukanmu.
Di dirimu ada benih yang besar.
Tumbuhkanlah!
Dan tunas-tunasmu yang telah tumbuh dahulu, segarkanlah!

Tiga hari sebelum mudik ke tanah air, saya baru dipertemukan dengan "Membara di Api Tuhan" tulisan Bapak La Ode Malim.
Ayah dari sahabat saya yang tidak pernah mengisahkan tentang ayahnya kepada saya selama tahunan kami berkawan.
Buku ini mendeskripsikan banyak hal tentang kebudayaan Buton dan kebudayaan daerah di sekitar Buton.

Suasanya nyaman berada dalam ruang perpustakaan.
Loker pengambilan buku yang telah dipesan. Scan kartu perpustakaan, loker pesanan buku akan terbuka secara otomatis, (Asrif).

Sebuah Tangis Untuk Negeri

  Oleh:
30 Januari jam 23:14


Baru saja aku melintasi bebatuan itu
kau menatapku, sudut mata yang penuh curiga
sebab hampir koyak selangkanganku

anak-anak desa tertawa, di rumah,
ibu menangis, sebab besok mau makan apa?
sementara televisi tetap menyajikan iklan
dibalik berita-berita yang tak tentu arah

berebut payudara yang telah usang
karena semua masih minta di susui
dari desa sampai kota,
dari simiskin di kolom jembatan tanpa rumah
sampai si kuasa di istana

banjir, gunung api, gelombang, angin bernyanyi
tapi kita tetap tuli juga

sementara gedung-gedung rakyat
dipenuhi dengan kecoak
yang memang butuh racun

dan terikan anak-anak kampung yang lenyap sunyi malam
sementara gongong srigala dan anjiang liar
baru terdengar di dunia maya
menembus batas negara,
menembus batas budaya

ibu, air mata anak-anak kampung itu
sudah hampir kering,
sebab susu tidak dapat lagi terbeli
sebab tangan tidak dapat lagi bekerja

walau kami harus memilih,
tetapi kami tidak bisa sebab dunia terlalu sulit
di balik awan kebohongan

air mata itu mengalir lagi
hingga darah mengalir ke jalan-jalan
dan mengucap
hentikan kebohongan ini.....

Sabtu, 29 Januari 2011

WANIANSE


WANIANSE II

Oleh: Sumiman Udu
Sambungan Cerber

Ibu yang ternyata bernama Wanianse itu, tersenyum ketika melihat anak-anak tetangganya yang sudah minum susu besok paginya. ia menyaksikan betapa berharganya uang yang diberikan kemarin itu.

"tetapi itu tidak penting, saya pikir, mereka butuh pekerjaan," pikir Wanianse dalam hati.
Wanianse menatap anak-anak itu dengan lembut, di hatinya ada rintihan, "mengapa terjadi hal seperti ini.
Wanianse pergi ke dalam rumah untuk menganti bajunya, ia akan pergi ke pasar menjual jagung yang dipetiknya kemarin sore. Matanya menatap beberapa ikat jagung, ia akan memnjualnya dengan harga lima ribu rupiah dalam satu ikatnya.
seluruh jagungnya ia telah isi di dalam karung dan mengangkatnya ke pinggri jalan menunggu mobil yang lewat. Tidak lama kemudian, sebuah mobil angkutan desa lewat di jalan poros, maka naiklah Wanianse.
di beneaknya, sudah tercatat daftar bahan-bahan ytang akan dibelinya jika jagungnya dapat laku, "ikan, sandal, gula, dan beras." "Eh, terlalu banyak," pikirnya dalam hati. diingatnta uang yang ada di dompetnya, dan sisa uang yang menjadi persiapannya, jika suaminya terlambat mengirim uang dari rantauan.
"dua puluh ribu rupiah, ia mencoba mengingat uang didompetnya, "sewa dua belas ribu, semoga jagungku dapat laku semua.
karena mobil terlambat, Wanianse tiba di pasar, matahari sudah tinggi dan orang-orang di pasar lama sudah mulai habis, sekitar pukul sebelas siang, tak satu ikatpun jagungnya yang laku.
"Sudah pulangmi orang Wa", sapa seorang ibu yang kebetulan membawa kaopi.
"oho da'o, kusala moturu di raneo, mbeaka kudahani'e na oto. jawab WaNianse.
"Bawa emo di Mola, bara ane nomoala, perintah penjual kaopi itu sambil melihat ke arah selatan. di kejauhan, mobil merek 6 sudah mulai mendekat.
Di tangan ibu itu telah ada seikat ikan lajang.

"Sapairamo na ika'u," tanya wanianse.
"Dua hulumo nana, nomohali na ika," jawab ibu itu.
di dalam hati Wanianse jatuh air matanya, mengingat anaknya yang masih kecil yang dititip di tetangga. "Apa saya dapat membeli ikan?" seandainya jagungku tidak laku, maka saya akan menangis saja.
"Matahari semakin, siang, akhirnya Wanianse menjunjung karung jagungnya ke arah selatan menuju Mola. hampir setengah jam, Wanianse berjalan di bawah terik matahari, keringat memenuhi seluruh tubuhnya.
menjelang azan Zuhur, ia tiba di pasar sentral. tubuhnya sudah bermandikan keringat. dan ia langsung menuju tempat penjualan ikan, di sana ia duduk menjual jagungnya, dan tidak lama kemudian, datang beberapa anak muda yang mau acara bakar jagung.
"Berapa ikat kita mau ambil? tanya salah seorang anak muda itu kepada salah seorang temanya.
"Ambil saja semuanya, karena akan banyak tim yang datang sebentar malam, jawab lelaki yang memakai jas hitam itu.
"berapa jagungnya "Bu? tanya salah seorang anak muda itu.
"5000 perikat pak, jawab ibu itu.
"masih berapa ikat bu?" tanya anak-anak muda itu lagi.
"dua puluh ikat, pak. berapa semuanya.
tidak lama kemudian, anak muda itu mengeluarkan uang 100.000 untuk harga jagung itu.
Wanianse, dengan tangan gemetar dan persaaan senang menerima uang itu dengan pikiran pada ikan yang ada di depannya. "Anakku, akan makan ikan hari ini,” pikirnya dalam hati.
Namun setelah anak-anak muda itu berangkat, ia berpikir, "Betapa enaknya kalau kita jadi tim sukses? pasti mereka dapat banyak uang.
Stelah ia membeli ikan,Wanianse membeli beras, dan semua kebutuhannya, dan menuju terminal. namun di sana mobil ke kampungnya baru saja berangkat. Ia hampir menangis, karena bisa jadi itu adalah mobil terakhir.
Tidak, lama kemudian, Waniase dihampiri seseorang dan mengatakan bahwa "Apakah kau pernah dengar, ada orang yang selalu menculik anak-anak dan perempuan?"
Wanianse langsung teringat jalan kaki, karena takut. Dan ia berpikir untuk pualng naik mobil walau hanya setengah jalan, ia naik mobil patuno.

maka naiklah, ia di mobil itu. Di dalam mobil ia membaca Stiker yang tertuliskan, PILIHLAH BUPATI DAN WAKIL BUPATI YANG MEMILIKI KOMITMEN UNTUK RAKYAT, JANGAN YANG BERPIKIR UNTUK DIRI DAN KELUARGANYA SAJA.
Wanianse teringat pada stiker yang diterimanya kemarin. Dan setelah ia menoleh ke kaca belakang, tertulis, SELAMATKAN BUDAYA, dan DAN ASET BUDAYA dari tangan-tangan kapitalis.
Wanianse, teringat pada gadis cantik yang memberinya striker kemarin. tetapi ia tiba-tiba di kagetkan dengan hadirnya dua orang laki-laki dan mereka bercerita tentang calon bupati yang akan membeli suara sampai satu juta rupiah/perorang/suara.
"Saat ini masyarakat sudah saatnya harus bersatu untuk tidak lagi mau suaranya dibeli. dan kita harus kampanyekan agar mereka mengabil saja uang calon, dan tidak perlu dipilih.
"Kalau begitu, bapak akan disuruh untuk mengembalikan uangnya Pak, kalau pasangan itu tidak naik, jawab seorang laki-laki, karena di kampungnya banyak orang yagn datang menagih uang mereka setelah ia tidak lolos jadi anggota dewan. Ada juga yang dipukul, karena mereka tidak mampu membayar lagi.
Wanianse termenung, dalam hati ia bertanya, "MAU JADI APA KAMPUNG KALAU BEGINI?
"Kasian, kalau begini terus, kita mau makan apa? " rintih wanianse dalam hati
Bersambung.....................



Bagian III
                Setiba di rumah, Wanianse disambut oleh anaknya yang masih kecil, “Horee, Wa ina sudah datang,” teriak anak pertamanya. Sementara anak keduanya, berlari kea rah ibunya. Waniase mengambil kue-kue dan memberikannya pada anaknya.
“Nak, adikmu tidak menangis? Tanya Wanianse pada anaknya Wa Leja. ”Tidak Mama, jawab Wa Leja.
“Ina, tadi ada yang datang ke rumah, menanyakan mama,” sambil membuka bungkus kue yang diberikan ibunya.
“Siapa Na?” jawab ibunya berusaha untuk mengendong anak ke duanya yang bernama La Ijo.
Wa Leja berlari mengambil poster yang diterimanya dari tim sukses, dan memperlihatkannya kepada mamanya. Oh, itu, jawab ibunya lagi. “Mereka bilang apa Nak?” Tanya Wanianse  pada anaknya. “mereka bilang, nanti kau berikan pada mamamu, jawab Waleja.
Setelah menyusui anaknya, Wanianse langsung pergi ke dapur untuk memasak ikannya. Di belakang Wa Leja dan La Ijo mengikut. Mereka memakan kue yang dibeli oleh ibunya. Setiba di dapur, ia melihat kayu bakar tidak ada, maka keluarlah Wanianse untuk mengambil kayu bakar di halaman rumahnya. Di sana ia bertemu dengan tetangganya.
“Nu waliakomo mina di daoa? Tanya tentangganya.
“Oho, laamo bai,” jawab Wanianse.
“Eh, ane bai kenemia ma’i tegambara ako ane uka tasumku’e dipilikadana,” tetangganya itu menjelaskan. Di pikiran Wanianse, “calon yang mana lagi itu”, renungnya dalam hati. Di dalam hatinya ia tersenyum.
“Mereka bilang apa?” Tanya Wanianse. Ia menatap tetangganya yang sudah senyum-senyum, dipikirnnya, ini pasti sudah dapat uang lagi nih.
Tahu bahwa Wanianse mengetahui senyumannya, tetangganya itu mengeluarkan uang seratus ribu rupiah lalu diberikannya kepada Wanianse.  Lalu tetngga itu membisik Wanianse, “Eh, jangan ko bilang-bilang na, saya tadi ambil uang tim sukses itu.
“Apa mereka bilang? Tanya Wanianse. “mereka bilang, ini baru teheporae’a,” jawab tentangganya.
“Terus, apa kobilang sama mereka?”
“Tidak ji, kan kemarin ada penyampaian yang dilakukan oleh teman-teman mahasiswa kemarin. Ya, saya pikir itu ada baiknya, kita ambil saja. Soal pilihan, rahasia,” hahaha.
“Iya juga sih, itu lebih bagus, supaya calon-calon bupati yang mau membeli suara rakyat itu jadi tobat”. Jawab Wanianse.
“Itu dia,” jawab tetangganya.
“Eh, nanti kita cerita sebentar, saya memasak dulu, kasian anak-anakku, nanti mereka keburu tidur.
Di kampung itu, Wanianse banyak diikuti oleh teman-temannya, karena disamping ia cantik, ia juga baik hati dan banyak pengetahuannya. Maklum, ia tamat SMA, hanya karena tidak ada uang, maka ia tidak dapat melanjtkan ke perguruan tinggi. Akhirnya ia dinikahkan oleh orang tuanya dengan pacarnya, yang saat ini bekerja di Malaysia.
Selesai shalat isya, anak-anak waniase sudah tertidur, maka seperti biasa keluar dibawah bulan purnama untuk melakukan latihan pada anak-anak sekolah dikampungnya. Ia melatih mereka dengan beberapa hal, yaitu keterampilan membuat humbu-humbu, keleu, dan pada malam-malam tertentu mereka berlatih tari tradisional. Maka malam itu, banyak sekali gadis-gadis di halaman rumah Wanianse yang kebetulan halamnnya sangat luas.
“Malam ini, jangan dulu kita latihan, saya mau mendengarkan apa pikiran kalian tentang kondisi kampung kita yang sering didatangi oleh orang-orang beberapa minggu terakhir ini.”
“Oho, ina Wa Leja, teikamido uka kobingumo, tapimilimo te emai nana? Jawab salah seorang ibu-ibu yang kebetulan berlatih pelatihan pembuatan humbug-humbu.
“Oho, wada’o, kenemo tobingu, maka diamo nohedoe kitamo ala’a. tunggala mia nomangaku te tuha.” Soba gara ara nalumealama mida di molengo awana iso, naleuno”, mereka berdiskusi di bawah purnama dengan tiupan angin laut.
“Ara teikomiu ina Wa Leja?, toumpa na fikiri miu? Tanya salah seorang ibu.
“Ara teiyaku, kufikiri kua, na leuno ara te amai calon mai ana, nafumikiri kua, tekarajaa paira ako ane teiido akonto, ara awana iso nafikirino na amai, teatumo ta pumili”, jawab Wanianse dengan penuh yakin.
“Soba fikiri’e, seandainya calon-calon ini berpikir bahwa kita ini perlu bekerja, maka mereka tidak akan membawa uang tunai untuk membeli suara kita. Tetapi karena dipikiran mereka hanya untuk membeli suara kita, maka mereka datang member kita uang, sebagai harga diri kita,” kasian kita ini.
“Jari toumpamo? Tanya salah seorang ibu.
“Ara teiyaku, meana’e ai, tabeda tawumikirimo, kua teemai-emai ane nafumikir ako te idonto, teatumo ta pumili, toka ara buntumo nohu’u kit ate doe, maka alaemo laa, toka pili laa tepoilu amiu,” jelas Wanianse.
“Tapumili tetuhanto  ara ta pumili te paira? Tanya salah seorang gadis.
“Tidak juga, nongaa’e temanusuana mai kua, bara topotuhan-ntuha ako’e na togo, artinya apa itu. Te togo ana kita harus bangun, pada tujuan untuk mensejahterakan seluruh rakyat, bukan hanya Tuha jasa.” Jawab Wanianse.
“Oho uka, ara tapumili te tuhanto, ara teikami mbea’e natuhamami cumalon ana, mbeakamo ka pumili dahani,” jawab seroang anak gadis yang lain.
“begini kalau begitu, mulai saat ini, kita harus melihat baik-baik ini calon bupati, temia gole-gole ara? Temia nafusuu ara, temia malimpu, ara temia ako temokoleama te togo?” urai Wanianse.
“Bara piamo topili te bupati, nafusu, mou tedawu numia na mala’e, termasuk tedawu ikita rakyati ana.
Beberapa lama kemudian, awan menutupi bulan, angin bertiup mulai kencang, maka semua yang hadir bubar.
“Tamoga’a-ga’amo dahani, I lange morondoho uka maka tolanjuti’e natula-tula.
“Toka awana umpa ara ane kene mia di lange? Tanya tentangga Wanianse.
“maksudmu apa? Tanya Wanianse.
“Ada yang bawa uang, hahaha. Jawab tentangga Wanianse itu lagi.
“untuk sementara ambil uangnya dan itu jangan dianggap utang, karena uang itu diberikan tidak ikhlas.”
Selamat malam semua, besok, kita mau pergi di kebunnya siapa?” Tanya Wanianse pada teman-temannya.
“kita istrahat saja besok, tungu-tuinggu uang tim sukses, hahaha”, jawab tetangganya.
Selamat malam, semoga mimpi indah.


Bersambung…..






Wanianse
Bagian IV
Setelah semua tentangganya pulang, Wanianse menuju tangga rumahnya. Rumah panggung yang berdiri di tengah kampung. Rumah yang berdindingkan jelaja. Ia menatap lampu minyak yang bertengger di dinding, di atasnya sudah penuh dengan arang yang hitam. Di benaknya, kapan rumahnya selesai, seperti biasa.
Kemudian, ia berbaring di samping anak-anaknya. Beberapa lama ia mau menutup matanya, tetapi justru ia teringat pada beberapa peristiwa yang ada di kampungnya beberapa minggu terakhir. Ia teringat lima tahun yang lalu saat tim-tim sukses itu datang ke kampungnya dan menjanjikan segala yang indah-indah, yang baik-baik.
“Tuhan, mengapa kampungku menjadi tertinggal seperti ini?” tanyanya dalam hati. Ia menatap lampu meninyak yang nyalanya ia kecilkan sebelum membaringkan diri. Pikirannya terbayang masa-masa mudanya, masa ia masih menuntut ilmu di madrasah. Ia teringat pada cita-citanya untuk sekolah, ketika suatu waktu ia mengikuti ibunya ke kebun. Melihat penderitaan orang-orang kampungnya.
“Andaikan, seluruh calon-calon bupati mau berpikir untuk membuat perubahan di negeri ini, maka tidak ada acara lain, kecuali mengubah perubahan pikiran pada manusianya.” Bukan uang tunai, BLT dan dan bantuan yang harus dijanjikan kepada masyarakat. Lebih-lebih dana kampanye yang cenderung untuk membeli kebebasan rakyat, membeli suara rakyat, Tidak, itu tidak akan membuat perubahan.” Negeri ini membutuhkan pemimpin yang dapat membuat perubahan,” pikirnya dalam hati.
Badannya dimiringkan ke kanan dank e kiri, bukan sumianya yang jauh yang dia pikirkan, tetapi kondisi kampungnya, yang setiap hari semakin terasa kemiskinan.
“Andai saja semua calon pemimpin di negeri ini memikirkan, bagaimana masyarakat dapat bekerja, maka negeri ini akan lebih maju,” pikirnya dalam hati. Tetapi pikirnnya dibantahnya sendiri, “Bagaimana mungkin mereka dapat berubah, walau mereka punya keinginan untuk berubah, tetapi kalau mereka tidak dapat mengubah pikirannya, maka tetap mereka akan tetap menjadi santapan orang-orang pintar dan kaya. Tidak, diperlukan keinginan pemerintah untuk membantu masyarakat untuk mengikuti sekolah. Jangan lagi seperti saya, berhenti sekolah hanya karena saya adalah orang miskin,” pikirnya lagi dalam hati.
Pikiran Wanianse melayang jauh ke belakang saat bersama teman-temannya melewati gunung untuk menuju sekolah, di dalam perjalanan itu, pernah ia tanamkan semangat yang tinggi pada teman-temannya untuk mengubah kampung dengan meningkatkan Sumber Daya Manusia. Waktu itu, di minggu sore, anak-anak kampungnya berangkat ke sekolah dengan memikul kaopi sebagai bekl mereka selama di Togo selama satu minggu. Keringat mereka membasahi tubuh, maka di atas bukit di dekat air jatuh wanduha-nduha menjelang terbenama matahari, semua memandang pemandangan itu, dan di antara mereka, ada Imam mengatakan bahwa, “Kalian lihat matahari itu?”
Semua mata mengarah kea rah matahari itu, “Iya, kami lihat, mengapa? Tanya teman Wanianse saat itu.
“Lihat, itu adalah energy yang menerangi alam. Dan dalam kehidupan kita, energy itu ada dalam jiwa dan pikiran kita, maka kita harus membuat matahari itu hadir di dalam hidup kita. Dengan begitu, maka matahari itu akan muncul di kampung kita, menerangi pulau ini, menerangi Wakatobi, menerangi Buton, menerangi Sulawesi dan bahkan dunia,” Wanianse, seakan hadir kembali menyaksikan matahari di sore itu.
Pikirannya yang terus melayang ke masa lalunya, membawanya tertidur pulas. Dan dalam tidur itu, ia bermimpi, bahwa ia sekolah di perguruan tinggi. Di dalam tidurnya ia bertemu kembali dengan Imam”, lelaki sepupunya yang kini telah putus sekolah, hanya karena persoalan uang, sama dengan dia.
“Wanianse, kita telah gagal dalam menuntut pendidikan formal ke perguruan tinggi, tetapi janganlah kau berkecil hati, pendidikan sesusngguhnya adalah ketika kita berada di tengah-tengah masyarakat. Inilah universitas yang sesungguhnya Wanianse?” ucap Imam. Di kejauhan sana Imam menuju sekelompok anak-anak, dan di sana ia menanyakan pada anak-anak itu.
“Apa yang membuat kita miskin? Tanyanya. “Coba kalian pikirkan, mengapa sejak dulu orang tua kita hidup dalam kemiskinan? Imam bertanya lagi.
Anak-anak itu, saling menatap, “Bukankah sejak kita kecil, orang tua kita kecil, kakek nenek kita kecil, semuanya tetap seperti ini? Hidup miskin, walau kita ingin sekolah, tetapi tidak ada uang.”
Wanianse tiba-tiba berdiri dan berkata, “Mari kita cari apa yang menyebabkan mengapa kita miskin?” ia menatap anak-anak di sekelilingnya.
“Coba kalian pikirkan baik-baik, karena kita harus keluar dari penderitaan ini,” kata Imam lagi.
“Kalau menurut saya, kita miskin, karena orang tua kita tidak kaya sehingga mereka tidak member kita uang dan kesempatan”, anak laki-laki gondrong itu berkata lantang.
“yang lain?” Tanya Imam lagi.
“Kalau menurut saya, karena kampung kita ini tidak punya hasil bumi”, jawab yang lain. Imam menatap Wanianse, dan menggelengkan kepalanya.
“Kalau kau Wanianse?” Tanya Imam pada Wanianse.
“Sebenarnya, yang membuat kita miskin bukan karena orang tua kita tidak punya uang yang akan diwariskan, bukan pula karena kampung kita tidak punya hasil bumi, tetapi menurut saya kemiskinan kita adalah kemiskinan cultural dan kemiskinan strutrual. Apa itu? Tanya Wanianse dan matanya berkeliling pada teman-teman di kampungnya.
“Salah seorang perempuan, Wa Kamba, berdiri dan berkata, “Saya tidak dapat berbuat apa-apa, karena orang tua saya tidak dapat menyekolahkan saya, sehingga sekarang saya tidak dapat membaca dan menulis,” air matanya jatuh, sebab ia merasa bahwa ia tidak dapat berbuat apa-apa pada anak-anaknya, terlebih suaminya yang kerja hanya minum setiap malam.
“Kalau menurut saya, yang membuat kakek nenek kita, orang tua kita, dan kita sekarang jadi miskin, karena kita tidak punya pengetahuan. Kita tidak punya kesempatan untuk mengikuti pendidikan, orang tua kita terlalu cepat putus asa untuk mengantarkan kita ke ruang pendidikan. Memang, ada beberapa orang yang berhasil di dunia pendidikan walau orang tuanya miskin, tetapi itu hanyalah orang-orang terpilih. Mereka yang bersabar dan semangatnya tinggi,” urai imam panjang lebar.
“Wanianse teringat, saat ia menangis melawan orang tuanya sewaktu ia menamatkan pendidikanya di Madrasah Aliyah delapan tahun yang lalu. Waktu itu, ia menangis meraung-raung di hadapan orang tuanya, ia minta di sekolahkan, tetapi semua mengatakan bahwa tidak ada uang, dan jangan kau susahkan keluarga”. Wanianse lari ke kamar dan menangis merauang-raung, dan dalam tangisnya itu, Wanianse terbangun.
Ia menatap kedua anaknya, ia memeluk anaknya, dan berdoa, semoga suatu waktu nanti, sudah ada yang mau membantu pendidikan anak-anak kampung, sehingga anak-anaknya tidak merasakan kemiskinan sebagaimana ia alami sekarang ini.
Pikirannya kembali, teringat pada anak-anak tetangganya yang tidak disekolahkan. “Andaikan, calon bupati dan wakil bupati datang untuk member harapan pada anak-anak untuk sekolah, dengan mambuka lapangan kerja untuk orang tuanya, maka suatu saat kampung ini dapat maju. Semoga!!!!!
“Semoga ada yang berpikir untuk kebangkitan ini…
Wanianse pun tertidur kembali dengan pulasnya, di benaknya ia menghadiri wisuda anak-anaknya di perguruan tinggi.

Bersambung……

Rabu, 26 Januari 2011

WANIANSE

Cerpen

oleh :
Sumiman Udu

Suatu pagi, di sebuah desa di Wakatobi, duduklah dua orang ibu yang sedang mencari kutu. Di sebuah gode-gode mereka mencari kutu, karena tidak tahu mau biki apa.

"Apa yang akan kita lakukan di Wakatobi?" pertanyaan itu, lahir dari seorang ibu rumah tangga, ketika ia melihat tetangganya berdiskusi untuk mendukung calon bupati. Kata tentangganya yang sedang mencari kutu, "Kita mau pilih yang mana? kalau pemilu nanti?" sambil mencari kutu tentangganya.

"Kalau saya yang ada uangnya saja," kata temannya.
"Noha'a? wanatumo? kata ibu itu.
"Toalamo alaa, kae te doe, tedawuntomo naikita misikini." kata tetangga ibu itu.

Tidak lama kemudian, datanglah salah seseorang yang tentunya salah satu anggota tim sukses. ia singgah dan duduk menghampiri, dua ibu itu. orang itu meminta air minum. dan tidak lama kemudian, lelaki itu menyapa kedua ibu itu dan berkata "I haamo? sambil memandang ke jauh ke depan.
"Mbeala'a, kokedeng-kende. ako toumpa? tanya ibu itu.

"Jari awana umpamo?" tanya lelaki itu.
"Ara ane kene doe, kimala ara mbea'e?" lanjut lelaki itu lagi.
"Tamala moha'a," jawab tetangga ibu itu.

"Ara awanatu, pili temia mo'u komiu tedoe ae!" kata lelaki itu sambil memberikan kartu nama pasangan calon bupati dan wakil bupati wakatobi. di bawah kartu nama itu, sudah diselipkan uang Rp.50.000,- dan kalau kalian pilih ini, menjelang hari H, nanti saya bawakan lagi.

Tetangga ibu itu tersenyum, sebab beberapa hari ini anaknya minta susu terus, tetapi karena tidak ada uangnya, ia hanya memberinya dengan air beras, dan kadang-kadang air putih saja. di dalam pikirannya, ia akan membelikan susu untuk anaknya, agar kelak dapat menjadi calon bupati yang kaya, banyak uang bisa membeli suara, walau kerjanya hanya merampok harta kekayaan rakyat.

sedangkan ibu tadi hanya mengambil dan terdiam, di benaknya ia berpikir, Bagaimana mungkin calon bupati ini dapat bekerja dengan baik, seandainya ia naik, kalau ia harus membeli suara rakyat dengan harga yang besar? pasti ia akan mengembalikan kerugiannya. Kasian Wakatobi". Tangisnya dalam hati.

Tidak lama kemudian, datang lagi seseorang, dan ia membawa seleberan pamilu bersih.
"I ha'amo? tanya pasangan anak muda itu.
"mbea'e, mai tulu!" jawab tetangga ibu itu, di dalam pikirannya, ini pasti uang lagi.
"Ina, ane komai akokomiu nana te nguru, "kua temia meana'e ai nokoruomo namia naumaso tetogo".

"Oaso tetogo, wanaumpa?" tanya tetangga ibu itu tidak mengerti.
"Namaraaso tesuarano, di amai cumalon bupati ana," jawab gadis cantik didekat pemuda itu.

"Jari Wa ina mai, temai akomami ana, ako kawumaa komiu kua meana'e baramo topili temia ako tebumalu te togo, toumpa sawakutuu, ako uka naumaso te togo natu.
"Toka tohoto dosamo ana." jawab ibu dan tetangganya serempak.
"Hotodosa wanaumpa?" tanya lelaki dan gadis itu.
"tadi ini ada yang datang bawa kartu nama dan kami diberi uang," jawab tentangga ibu itu.

"Begini saja wa ina mai, alaa'e la'a na doeno, temia da'o natu ara namai nabumalu'e nasuara miu atu," temia ako memaraaso tetogo.

"Jari? tanya tetangga ibu itu.
"Awa nana, ara nohu'u komi temia te doe, ako kipumili'e, ala'e alaa na doeno, toka narato napili'a bara dipili'e.

lalu kedua pasangan pemuda pemudi itu memberikan kerja yang bertuliskan, "PEMILIH YANG CERDAS, ADALAH AMBIL UANGNYA, JANGAN PILIH ORANGNYA. kemudian, mereka pergi lagi ke ujung kampung.

di benak ibu dan tetangganya, adalah bagus juga itu. kita ambil saja uangnya. tetapi tetangga ibu itu berkata, "tapi kita pasti berdosa, karena kita sudah ambil uangnya, dan kita tidak memilihnya".
"Lalu apa yang akan kita lakukan di Wakatobi, kalau calon bupati mau beli rakyat, maka pasti mereka suatu saat akan menjual rakyat," kasian.

Bersambung...............

Senin, 24 Januari 2011

Buton dan Epistemologi: Sebuah pandangan

Oleh: Sumiman Udu, 25/01/2011

Sebagai sebuah bangsa dan sebuah kebudayaan yang hidup dalam masyarakatnya, Buton telah melewati perjalanan panjang. Perjalanan itu, paling tidak telah melewati beberapa fase perjalanan hidup manusia, yaitu fase mitologi, ideologi dan fase ilmu pengetahuan.

Dalam menjejak perjalannya tersebut, Bangsa Buton telah membentuk sejarahnya dalam berbagai fase kehidupannya. Berdasarkan semangat zamannya, bangsa Buton pernah melewati masa mitologi, dimana manusia memiliki keterbatasan dalam menjalani kehidupannya, sehingga diperlukan kekuatan lain di luar dirinya. Pada masa itu, seluruh kehidupan masyarakat Buton selalu dihubungkan dengan cerita atau mitos-mitos yang menjadi dasar dari seluruh tatanannya, katakanlah, mitos yang ada dalam legenda Wakaakaa, raja pertama Buton.

Dalam legenda tersebut, dikisahkan tentang kehidupan Wakaaka yang lahir dari pohon bambu. Ini merupakan interteks dari semangat Zaman di negeri-negeri lain, misalnya hikayat Negeri Pasai, Hikayat Negeri Banjar dan bahkan Hikayat-hikayat lain yang asal-usul rajannya berasal dari benda-benda yang berasal dari luar tubuh manusia. Ini dimaksudkan untuk menciptakan narasi kesaktian untuk seseorang yang akan dijadikan sebagai seorang raja. Ini merupakan semangat Zaman yang ada pada era itu.

Selanjutnya, Buton melewati kesadaran baru yaitu fase Ideologi. Dalam memasuki fase ini, Buton berhadapan dengan ruang-ruang kekuasaan. Pada ranah inilah, Buton terbagi dalam sistem pemerintahan yang berdasarkan suatu cara pandang tertentu, asumsi dasar tertentu. Dampaknya adalah, terjadi proses-proses penghancuran terhada ideologi-ideologi lain yang pernah berkembang di Buton, dan memilih untuk membiarkan satu ediologi yang tentunya adalah ideologi yang berkuasa. Katakanlah, bahwa Buton kehilangan banyak jejak yang lenyap, yaitu jejak-jejak kebudayaan yang saling berebut pengaruh.

Dampak besar dari fase ini adalah terpecahnya masyarakat Buton dalam berbagai ideologi. Sehubungan dengan masalah tersebut, Ideologi yang berkuasa di Buton membentuk apa yang kita kenal dengan upaya pembentukan ideologi yang dapat kita temukan dalam berbagai tradisi lisan dan naskah kita. Ideologi yang berbasis Islam, telah membentuk Buton sebagai sebuah kesultanan. Tentunya, tetap mendorong Buton pada perpecahan, terutama dalam memperebutkan pengaruh antarideologi yang ada dalam masyarakat Buton.

Untuk itu, masyarakat terpecah, tatanan dibangun dan hanya menguntungkan orang-orang terntentu. Dan secara tidak langsung membangun perlawanan baru, atau saling berebut kekuasaan. Maka terbangunlah kamboru-mboru tolu palena, yang merupakan manifestasi dari ideologi yang ada dalam suatu masyarakat Buton. Terbangunlah, strata sosial yang memisahkan manusia Buton menjadi manusia batua, papara, maradika, walaka dan kaomu. Yang tentunya akan melahirkan kondisi, ada yang diuntungkan dan dirugikan dengan dampak politik seperti itu.

Anehnya, ketika dunia lain, berubah dengan mengadopsi berbagai bentuk epistemologi (ilmu pengetahuan) mulai dari:
1. Evolusionisme (Evolutionism)
2. Paradigma Diffusionisme (Diffusionism)
3. Paradigma (Partikularisme) Historis (Historical Particularism)
4. Paradigma Fungsionalisme (Functionalism)
5. Paradigma Fungsionalisme-Struktural (Structural-Functionalism)
6. Paradigma Analisis Variabel (Variable Analysis)
7. Paradigma Perbandingan Kebudayaan (Cross-Cultural Comparison)
8. Paradigma Kepribadian dan Kebudayaan (Culture and Personality)
9. Paradigma Strukturalisme (Structuralism)
10. Paradigma Tafsir Kebudayaan (Interpretive)
11. Paradigma Materialisme Budaya (Cultural Materialism)
12. Paradigma Materialisme Historis (Historical Materialism)
13. Paradigma Aktor (Actor-Oriented Approach)
14. Paradigma Etnosains (Ethnoscience/Phenomenological)
15. Paradigma Post-Modernisme (Post-Modernism)
rupanya masyarakat Buton, belum pernah berubah, mereka masih tetap pada tahap berpikir mitologi dan ideologis yang pada akhirnya mereka tertinggal dalam segala hal.

Ini perlu direnungkan kembali, kemana arah pembangunan Buton, apakah kita sudah siap memasuki ranah baru, ranah ilmu pengetahuan, sehingga orang buton dapat hidup berdampingan berdasarkan kinerja dan kreatifitas, bukan lagi tergantung pada mitologi dan ideologis yang menyeret perpecahan dan pembodohan. karena di dalam masyarakat Buton, tetap tumbuh orang-orang yang merasa ekslusif dan minder. Dimana orang-orang yang merasa ekslusif akan selalu memandang dan mefonis orang lain dengan pandangannya, sekaligus kecongkakannya, dan ini tidak baik untuk pembangunan buton di masa depan.

Sekali lagi, bangsa buton sudah saatnya untuk bangun berdasarkan epistemologi dan memanfaatkan ilmu pengetahuan sebagai landansan pembangunannya, karena "Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, jika kaum itu tidak dapat mengubah nasibnya sendiri". Dan mereka yang dapat berubah adalah mereka yang memiliki kesadaran, dan tentunya orang yang memiliki kesadaran adalah orang yang berilmu pengetahuan yang dapat dipertanggung jawabkan.

Wasalam,

Umum - Tentang profil

Umum - Tentang profil