Selasa, 06 Oktober 2015

Pentingnya Perpustakaan untuk Pembangunan Wakatobi

Oleh:
Sumiman Udu

Duduk di antara ratusan orang-orang hebat dalam seminar Internasional Sastra Bandung 2015 merupakan hal yang paling membahagiakan. Suatu moment yang mengispirasi bagaimana Sunda bisa berada pada percaturan kebudayaan Global. Mereka menata perpustakaan mereka, mereka membangun kelembagaan perpustakaan yang luar biasa. Teringat saya pada keinginan pemerintah Kabupaten Wakatobi untuk membangun Perpustakaan di Wakatobi. Selama sepuluh tahun terakhir, di Wakatobi disediakan mobil perpustakaan keliling, dan untuk melayani masyarakat di pulau-pulau lainnya, seperti Kaledupa, Tomia dan Binongko dengan mengadakan spead boat perpustakaan keliling. Sungguh suatu niatan yang luar biasa, membangun Sumber Daya Manusia Wakatobi, tetapi semua kenangan itu sirna begitu saja, karena mobil dan speat boath itu saat ini belum efektif kalau aku enggan untuk mengatakannya mati suri.


Ketika, di travel Cipaganti, saya bertemu dengan Prof. Abas, pakar Kopi dari universitas Lampung, maka saya menemukan bahwa kematian mobil perpustakaan dan speat boath perpustakaan di Wakatobi adalah masalah kelembagaannya. Kita baru mampu menghadirkan perpustakaan, yang bukan hanya memancarkan performance dingin dan kaku, tetapi harus menghadirkan perpustakaan dengan gaya pusat pendidikan dimana perpustakaan harus digabungkan konsepnya menjadi (1) Tempat buku, (2) tempat bermain, (3) tempat hiburan, (4) tempat bermain internet, (5) tempat dimana semua kebutuhan masyarakat menemukan jabawan atas segala masalah dalam kehidupan mereka.

Konsep perpustakaan itulah kemudian, yang perlu dikembangkan untuk membangun Sumber Daya Manusia (SDM) Wakatobi di masa yang akan datang. Perpustakaan harus menjadi pusat aktifitas kehidupan masyarakat Wakatobi. Karena bagiku, perpustakaan adalah masa depan bangsa, masa depan peradaban. "Kami tidak meninggalkan tambang bagi generasi kami, kami tidak meninggalkan uang yaang banyak bagi generasi kami, karena semua itu dapat dihabiskan hanya dalam beberapa generasi. Tetapi kami harus meninggalkan generasi kami perpustakaan, karena itu kami meninggalkan kebudayaan dan kebesaran pada mereka", suatu tuturan teman sewaktu di Eropa tahun 2011 yang lalu di sebuah diskusi di halaman perpustakaan Universitas Leiden negeri Belanda.

Saat ini, di Kabupaten Cimahi pembangunan Perpusatakaan didorong dengan memberikan perhatian kepada perpustakaan. Sukses meluncurkan dana untuk memberikan anak-anak yang membuat laporan bacaan bagi anak-anak sekolah. Wakatobi yang tidak memiliki Sumber Daya Alam (SDA) tetantunya harus lebih progresif dalam pembangunan Sumber Daya Manusia sehingga generasi Wakatobi dapat bersaing dalam berbagai percaturan nasional, regional dan internasional. Upaya pemerintah kabupaten Wakatobi untuk mendukung perpustakaan sekolah, perpustakaan desa harus didorong dan di dukung oleh kebijakan pemerintah daerah.


Menariknya kemudian yang terjadi di Bandung adalah digarapnya CSR (coorporate soscial Responsibity) melibatkan coca cola dalam pengembangan perpustakaan di jawa Barat. Kepala perpustakaan Jawa Barat mengatakan bahwa perpustakaan harus mampu dibangun komunitas komunitas perpustakaan, atau kelembagaan-kelembagaan yang bergerak.

Suasana Perpustakaan UGM menjelang Sore hari 17:30
Mahasiswa masih asyik bekerja. Adakah Mimpi ini ditemukan di Wakatobi?

Saat ini, pengembangan pendidikan melalui perpustakaan harus di dorong, sehingga wakatobi melahirkan dan memiliki kelembagaan sosial perpustakaan yang tersebar di seluruh Wakatobi. Untuk buku buku perpustakaan desa dan sekolah itu, harus didukung oleh kebijakan diknas, melalui dana bos untuk perpustakaan sekolah dan dana desa untuk perpustakaan desa. Sementara berbagai vendor-vendor yang meyebarluaskan buku-buku dunia dan saat ini sudah dikontrak oleh perpustakaan nasional dan
perpustakaan desa dan sekolah dapat mengakses dengan gratis. Perpustakaan harus dikelola dalam bentuk tempat bermain, nyaman dan membuat orang betah,

Sehubungan dengan itu, Pusat Studi Wakatobi akan melakukan kerja sama dengan pemerintah Kabupaten Wakatobi, DPRD Wakatobi, dan beberapa Pengusaha untuk membangun perpustakaan Wakatobi yang lebih representatif sebagai pusat pembangunan kebudayaan Wakatobi. Pusat Studi Wakatobi juga berharap dapat melakukan kerja sama dengan pihak Dinas Pendidikan kabupaten Wakatobi untuk mendorong pembangunan perpustakaan Sekolah. Karena hanya dengan membaca, anak-anak Wakatobi atau yang saya selalu sampaikan atau kampanyekan "Wangi-Wangi timur Baru" atau dapat diperluaskan Wakatobi Baru yang berbasis Sumber Daya manusia, sudah harus didukung oleh Perpustakaan yang memiliki pelayanan yang memeliki standar Internasional, buka dari jam 8 pagi sampai dengan jam 24:00 malam hari.


Mungkin, kita akan bertanya, adakah pembaca yang akan datang? Maka jawabannya, adalah tergantung pelayanan perpustakaannya. Kalau perpustakaan kita menyajikan ruang permainan, internet gratis, belanja, ruang minum kopi, diskusi, bedah buku, ruang pentas kesenian, ruang menikmasi wisata kuliner dibuat terpadu, maka 24 jampun akan tetap hidup. Sekali lagi ini paradigma yang harus kita rubah mengenai perpustakaan.


Saya teringat ketika saya berada di Leiden, maka sehabis makan malam saya dan teman-temanku menuju perpustakaan, dan kami pulang setiap jam 24 malam hari. Ini juga terjadi pada anak-anak muda (mahasiswa Leiden) yang memang terbentuk karena adanya kondisi perpustakaan yang mendukung. Dan ketika saya di Universitas Gajah Mada, perpustakaan buka jam 8 sampai dengan jam 20:00 malam hari, pengunjung juga tetap hadir. sementara di perpustakaan Provinsi Jawa Barat dikunjungi 750-1.500 orang perhari.

Suasana di Perpustakaan Pusat UGM pukul 17:58 WIB.
Ketenangan, keseriusan, mereka membaca dan menulis di tengah arus internet yang begitu deras

Mungkinkan perpustakaan sebagai pusat kebudayaan dan pembangunan Wakatobi hadir di tengah-tengah kita? Maka semua ini tergantung dari komitmen kita semua, Pusat Studi Wakatobi sebagai penginisiasi pembentukan Masyarakat perpustakaan, Dukungan Dinas Pendidikan Wakatobi, Dukungan Sekolah-sekolah, Dukungan Pemerintah Daerah kabupaten Wakatobi, dan Juga dukungan Para Pengusaha dan Perusahaan di Wakatobi. Kalau kita memiliki satu derap langkah yang satu, maka saya pikir, Wakatobi Baru melalui penguatan Kelembagaan Literasi akan terwujud di masa yang akan datang.


Kutulis, dari ruang seminar Internasional Sastra Bandung 2015.

1 komentar:

nasrun mengatakan...

Sangat menarik. Sangat diharapkan perpustakaan di Pusat Segi Tiga Karang Dunia terwujud. Satu hal yang menjadi pertanyaan saya:
a. Apakah dimungkinkan pelayanan sampai pukul 24:00 akan efektif ?