Sabtu, 27 Juli 2013

Buku Tembaga dan Harta karun Wa Ode Wau dalam Pelayaran Tradisional Buton

Oleh: Sumiman Udu
Dalam suatu diskusi dengan teman-teman di beberapa jejaring sosial, banyak yang membicarakan tentang harta karun Wa Ode Wau. Dimana sebagian dari mereka ada yang mengatakan bahwa harta itu masih milyaran Gulden, dan ada yang mengatakan bahwa harta karun itu tersimpan di gua-gua, ada juga yang mengatakan bahwa harta itu tersimpan di dalam tanah dan ditimbun. Berbagai klaim itu memiliki dasar sendiri-sendiri. Namun, kalau kita melihat bagaimana Wa Ode Wau memberikan inspirasi pada generasinya dalam dunia pelayaran, maka harta itu menjadi sangat masuk akal. Banyak anak cucu Wa Ode Wau (cucu kultural) yang saat ini memiliki kekayaan milyaran rupiah. Mereka menguasai perdagangan antar pulau yang tentunya di dapatkan dari leluhur mereka di masa lalu.

Dalam Makalah yang disampaikan yang disampaikan dalam seminal nasional Sejarah itu, beliau mengatakan bahwa sebutan sebagai etnik maritim yang ada di Buton, sangat pantas diberikan kepada pelayar-pelayar asal kepulauan tukang besi atau Wakatobi. Pengakuan atau klaim yang dijelaskan oleh Ali Hadara tersebut, memiliki argumentasi ilmiah, walau beliau sendiri mengatakan bahwa tidak banyak ditemukan sumber-sumber tertulias mengenai rekam jejak pelayaran maritim masyarakat Wakatobi di masa lalu, tetapi melalui paradigma Historiografi kita dapat menemukan berbagai sumber dan artefak mengenai berbagai cerita dan memeori yang didukung bekas-bekas aktivitas mereka, seperti benda-benda keramik yang ada di Wakatobi.

Masyarakat Wakatobi memiliki banyak memori yang sampai saat ini masih menjadi ingatan kolektif para palayar tentang beberapa wilayah Nusantara yang mereka datangi di masa lalu. Pernyataan Ali Hadara tentang keberadaan Masyarakat Wakatobi di Samudra pasifik, baru-baru ini mengundang pada peneliti dari Universitas Gajah Mada yang tertarik karena mereka menemukan jejak parang Binongka di Kepulauan Hawai Pasifik. Bahkan kalau kita melihat jejak perjalanan orang Bajo di pesisir Utara Australia, maka mereka akan mengatakan bahwa kami tidak melakukan lintas batas dan ilegal fishing, tetapi kami hanya datang melihat kuburan leluhur kamii yang datang lebih dulu, bahkan sebelum bangsa barat di benua itu. "Kami tidak tahu mana batas negara, yang kami tahu hanya kuburan lelhuru kami yang ada di sana" tutur seseorang yang berasal dari Bajo dalam acara sosialisasi ilegal fishing yang dilaksanakan oleh pemerintah Australia di Wakatobi beberapa tahun silam.

Tentunya, jejak leluhur sebagai penakluk lautan Nusantara itu, sampai saat ini masih menjadi motor penggerak ekonomi Maluku, dan Maluku Utara dan Papua. Sejak lama mereka sudah menjadi pedagang perantara antara kawasan Timur Indonesia (Maluku dan papua) dan kawasan Barat Indonesia (Jawa dan Makassar. Masyarakat Wakatobi masih memiliki kontribusi yang besar dalam pelayaran antarpulau di Kawasan Timur Indonesia. Beberapa tokoh dewasa ini yang mampu memodofikasi transportasi mereka ke teknologi modern adalah keluarga H. Arhawi Ruda yang memiliki armada kapal yang kuat yang beroperasi sampai ke Papua. ini merupakan bukti bahwa mereka mewakili lelihur mereka yang sudah menguasi pelayaran sejak dulu. Kalau dalam makalah Ali hadara disebutkan banyak perahu dari Kaledupa, Tomia dan Binongko di masa lalu yang melakukan pelayaran, maka tidak demikian dengan yang dikatakan oleh Rahman Hamid yang menemukan tentang besarnya partisipasi masyarakat Wangi-wangi dalam pelayaran tradisional.

Melihat Konsep dan Jalur perdagangan leluhur tersebut, Hugua merencanakan perdangangan tenggara-tenggara, dimana ia melihat sirkulasi perdagangan tradisional yang meliputi jawa, maluku, NTT, NTB, Bali sebagai kekuatan ekonomi di masa depan. dari rencana tersebut Hugua berpikir untuk membangun Bandara dan Pelabuhan Kontainer dalam mendukung konsep pelayaran tradisional tersebut. Perdangan dimana Wakatobi masih tetap menjadi kekuatan dalam perdagangan dewasa ini. Kebijakan ini menjadi kebijakan strategis, karena akan menghidupkan kembali jalur-jalur perdangangan tradisonal yang selama ini dirintis oleh lelhuru Wakatobi. Wakatobi akan menjadi perantara utara selatan dan timur barat Indonesia. Oleh karena itu, buku tembaga dan harta karun Wa ode Wau harus menjadi ruang inspirasi dalam pembangunan Wakatobi dewasa ini.Pemaparan Hugua mengenai perdangan tengara-tenggara dalam pertemuannya dengan komisi V DPR RI harus mendapatkan apresiasi dari masyarakat Wakatobi dan pemerintah Indonesia. Pembangunan Bandara dan pelabuhan Kontainer yang didukung oleh regulasi yang pas, akan mengantarkan wakatobi untuk menemukan harta karun Wa Ode Wau, karena sistem pelayaran tradisional itu akan menuju kemana tempat penyimpanan harta karun tersebut.

Pelayaran tradisional yang mengispirasi pembangunan Wakatobi ini harus memiliki spirit bahari yang kokoh dan menjadikan mereka sebagai orang maritim. Konsep "Sabangka Sarope" merupakan konsep tentang kebersamaan yang ada dalam kehidupan maritim orang Wakatobi - Buton. Bahkan kalau kita menelusuri masa lalu mereka, maka mereka memiliki ingatan kolektif mengenai salah satu tokoh perempuan yang menguasai pelayaran di Wakatobi - Buton yang mereka kenal dengan nama Wa Ode Wau. Dalam memori mereka menyebutkan bahwa Wa Ode Wau adalah milyarder yang mampu menguasai perdagangan di wilayah ini. Ia memiliki sejumlah harta yang saat ini dianggap sebagai harta karun yang selalu dicari oleh anak cucunya. Hartanya menjadi inspirasi bagi generasinya hari ini. menariknya adalah Wa Ode Wau mampu menyumbangkan hartanya kepada negara dengan menyumbangkannya untuk membiayai pembangunan Benteng Buton. ini yang akan menarik dari kepemilikan harta yang dilakukan oleh leluhur di masa lalu. Mereka menggunakannya untuk membangun negeri, mereka menyumbangkannya untuk kemajuan bangsa Buton.

Dalam melakukan penelusuran mengenai jejak pelayaran Wa Ode Wau, sebagain para pelayar mengatakan bahwa Wa ode wau mampu menundukkan lautan. Bahkan mereka menggunakan nama itu untuk mantra dalam pelayaran mereka. Bahkan salah seorang informan menggunakan nama itu untuk mengatur angin. La Nia (65) menceritakan pengalamannya ketika berlayar dari Taliabo menuju Wanci dimusim timur, tiba-tiba mereka harus berlayar dengan angin utara dari arah belakang. Ia hanya membacakan mantara dan salah satu batatanya adalah menyebut tokoh tersebut. Mereka pun berlayar ke Wanci dengan angin dari belakang. Jika mereka berlayar dengan angin selatan maka mereka membutuhkan berhari-hari baru sampai di wanci, tetapi karena angin utara, maka hanya satu hari dua malam mereka sudah sampai di wanci.

Ini merupakan pengalaman-pengalaman spritual yang mereka dapatkan ketika mereka meyakini bahwa ada leluhur mereka yang pernah memiliki kekuasaan dalam mengarungi lautan. Tetapi banyak generasi Buton hari yang hanya terlibat dalam diskusi mengenai letak harta karun Wa ode Wau yang misteri. Mereka mencarinya di berbagai tempat, menjadi suatu misteri pencarian yang sangat panjang. Namun salah seorang informan mengatakan bahwa harta karun Wa Ode Wau tertulis di dalam buku tembaga yang panjangnya tiga jengkal. Siapa yang mampu membaca dan memahami buku itu, maka ia akan menemukan harta karun Wa Ode Wau yang selama ini menjadi misteri di tanah Buton. Sebuah teka-teki dan sekaligus suatu yang lebih misteri lagi, membongkar buku tembaga yang menjadi warisan leluhur Buton membutuhkan kajian tersendiri lagi. Memahaminya saja masih sangat susah, karena buku itu juga menjadi misteri.

Tentunya, cerita ini sangat menarik, karena pencarian harta karun itu dilakukan sejak lama dan akan ditemukan oleh anak cucu Buton ketika mereka mampu membuka rahasia yang ada dalam buku tembaga tersebut. membuka Rahasia itu memiliki syarat tertentu antara lain, seorang yang bisa menemukan buku itu adalah mereka yang memiliki dan mengenal faham buton dan menjadikaannya sebagai pedoman dalam kehidupannya. Mereka harus mampu menjaga harkat dan martabatnya, sebagaimana yang diamanatkan oleh cerita-cerita leluhur bahwa penemu harta karun adalah mereka yang mampu mengenal dirinya. mengenal kefitraan dirinya. Disinilah masalah yang harus dikaji terus oleh generasi buton, sehingga mereka mampu membaca kita tembaga itu, dan mereka akan mendapatkan petunjuk untuk mendapatkan harta karun itu.

Untuk itu, tulisan ini merupakan tulisan kecil yang mengantarkan kita untuk melakukan kajian yang terus menerus mengenai bagaimana peran Buku Tambaga, Harta Karun Wa Ode Wau dalam Pelayaran Tradisional Orang Buton. Buku yaang akan menjelaskan mengapa Wa Ode Wau memiliki Harta yang banyak, buku yang akan menjelaskan mengenai bagaimana leluhur Buton (kepulauan tukang besi) mampu mengarungi lautan Nusatara? Konsep hidup seperti apa yang dipersyarakatkan untuk membuka Buku Tembaga itu? Dan bagaimana caranya untuk kembali mendapatkan harta Karun Wa Ode Wau. Beberapa generasi muda Buton sudah mengarah kepada harta karun Wa Ode Wau, tetapi mereka semakin jauh dari bagaimana Wa Ode Wau membelanjakan hartanya.

Jumat, 12 Juli 2013

Resensi Buku - Satu Melayu: Serumpun Indonesia-Malaysia

Oleh: Haliadi

(ANTARA KL) - Buku ini merupakan penerbitan hasil penyelidikan di Pulau Buton atau di Kabupaten Buton, Kota Bau-bau, dan Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia yang berlangsung selama dua minggu, 14 hingga 28 Pebruari 2007.