Minggu, 30 Januari 2011

WANIANSE

Bagian V
Keesokan harinya, Wanianse terbangun tepat pukul setengah lima subuh, ia merangkak ke dapur untuk mengambil air wudhu. Di telinganya baru saja mengalun azan subuh dari langgar yang tidak jauh dari rumahnya. Langgar kecil yang dibangun oleh masyarakat secara bergotong royong. Subuh itu angin timur begitu kencang, sehingga ketika ia balik untuk melaksanakan shalat, lampu minyak itu mati tertiup angin.
“Ya Allah, adakah kesempatan kepada kami mendapatkan listrik?, enam puluh enam tahun negeri ini merdeka, tetapi listrikpun kampung kami belum pernah merasakan. Semoga listrik, dapat menjadi ruang untuk sama dengan anak-anak negeri ini. Enam puluh lima tahun kami masih dalam dunia gelap, bagaimana kami dapat bersaing dengan masyarakat lain di negeri ini, mereka sudah memiliki computer dan internet, tetapi kampung kami, listrik pun belum menyentuh’, Wanianse membatin, telinganya dipertajam sambil tangannya mengapai-gapai di kegelapan mencari korek api. Desah napas kedua anaknya menyadarkannya pada tempat mereka berbaring, ia berjungkal-jungkal mencari tempat korek itu.
Beberapa lama kemudian, tangannya mengapai korek api. Ia langsung nyalakan, dan terlihatlah Wa Leja dan La Ijo yang sedang tertidur pulas. Selintas kemudian bayangnya terbang pada suaminya tercinta yang jauh berjuang untuk membangun rumah, sebagai sebuah martabat dari seorang suami. Teringat pondasi rumahnya, terbayang mereka akan pindah ke rumah baru itu suatu saat, ia tersenyum.
Sesaat kemudian Wanianse menggapai mukenanya, dan sajadah, ia melakukan shalat shubuh.  Dan setelah selesai, ia berdoa, “Ya Allah, berikanlah cahaya pada negeri ini. Keluarkanlah kami dari kegelapan, berikanlah kami cahaya ilmumu, berikanlah kami rizki yang halal yang Allah, agar anak-anak kami dapat hidup sejahtera. Hidup bahagai dan damai,” air matanya terurai membasahi pipinya, Ya Allah, berikanlah kekuatan dan kesabaran pada suamiku Ya Allah, jadikanlah ia suami yang selalu kuat dalam berjuang untuk kemaslahan anak-anak kami.
Di benaknya, terbayang wajah dan kekacauan negerinya, dan mulutnya mengucap doa, “Ya Allah, andai saja Kau mau menguji kami dengan kemiskinan harta, maka ujilah Ya Allah, sebab kami akan lulus dengan nilai terbaik, karena kami sudah terbiasa, tetapi jika Kau mau menguji kami dengan kebodohan, maka demi namaMu yang Allah, aku memohon jauhkan ujian itu dari kampung kami, sebab itu akan membuat kami lebih tidak bersyukur, bahkan kami dapat kafir kepadamu Ya Allah.” Pikirnnya terbayang anak-anak kampung yang hidup dari kerja fisik, tanpa pikiran, hanya karane mereka tidak pernah sekolah.
“Ya Allah, yang maha suci, sucikanlah diri kami ya Allah, sebagaimana engakau mensucikan manusia pilihanmu, sucikanlah pemimpin kami dari segala niat dan tingkah yang membuat dosa, Ya Allah, membuat mereka terbelenggu dengan segala keterikatan. Ya Allah, jagalah mereka agar mereka tetp sabar dalam kebenaran dan kesabaran, agar mereka lebih bebas dalam membangun negeri ini. Mereka tidak hidup dalam ketakutan, karena saya tahu bahwa yang paling ditakuti oleh seorang manusia adalah adalah perbuatannya yang melanggar kebenaran dan sunatullah .  Karena kesengsaraan sejati adalah ketika kita diadili oleh diri sendiri. Sebab pengadilan sejati adalah pengadilan hati nurani, Ya Allah jagalah pemimpin kami dari segala hukuman nurani itu dengan membuat mereka tetap pada kebenaran dan kesabaran.
Lama Wanianse termenung dalam doanya, suara sapu dari tetangganya sudah mulai masuk dalam telinganya, ia tutup doanya dengan doa sapu jagat.
Kemudian, ia pergi ke dapur, lalu kembali ke ruang tengah rumahnya dan membangunkan Wa Leja dan La Ijo, sebab Wa Leja harus pergi ke sekolah.
“Bangun Nak!, hari ini kau harus ke sekolah,” kata Wanianse pada anaknya.
Wa Leja terbangun, sementara La Ijo masih malas, Wa Leja menggosok matanya dengan panggung tangannya.
“Ina, pake baju apa sebentar?” Tanya Wa Leja pada ibunya, sementara La Ijo menangis minta di gendong.
Wanianse membawa kedua anaknya ke sumur di halaman rumahnya. Sumur yang dalamnya dua belas meter itu membuat tangan Wanianse bekerja keras, tetapi ia menimba beberapa ember untuk memandikan kedua anaknya. Wa Leja sudah bisa ke sekolah tanpa di antar, sementara La Ijo dititip di tetangga. Ia berencana pergi ke kebun di dangkuku, melihat bawangnya.
Setelah mandi, Wa Leja langsung berpakaian dan sarapan, dan tidak lama kemudian, teman-temannya sudah datang menjemput dan langsung mereka menuju sekolah yang tidak jauh dari rumah, tepat di ujung kampung pas dibelakang rumah kepala kampung.
“Ina, kuwilamo,” panggil Wa Leja, dan langsung menjabat tangan ibunya dan langsung berlari mengejar teman-temannya. Wa Leja pergi ke sekolah, dengan hanya membawa air minum yang diisi di dalam botol. Ia pergi tanpa membawa uang jajan, ibunya tidak membiasakannya, dengan uang jajan, sebab itu tidak baik, dan lebih-lebih pada kesehatannya.
Setelah Wa Leja pergi, Wanianse mengurus La Ijo, setelah dimandikan dan diberi sarapan, La Ijo di bawah ke rumah neneknya. “Ina jaga La Ijo, saya mau lihat bawangku, sudah lama baru saya pergi lihat”.
“Maimo di ana La Ijo,” panggil neneknya, La Ijo yang sudah terbiasa di tinggal ibunya ke kebun, langsung berlari untuk bermain dengan sepupu-sepupunya.
Wanianse langsung pulang ke rumahnya, dan di sana tetangganya sudah menunggu. Keduanya pergi ke kebun, sekitar satu setengah liko meter. Keduanya berjalan di bawah sinar matahari pagi, “Saya kira kau sudah mulai melupakan bawangmu Wa Unga,” ucap Wanianse pada tetangganya.
“Oe, tapumasa te lisitirii ara mbea’e Wanianse?” terlalu mahal itu.
“Iya, masa habis dijanji bahwa peraturan presden harga dasarnya Sembilan ratus ribuan, masa sama kita orang miskin ini, dinaikkan menjadi lima jutaan, kasian kita ini. Kalau satu juta, kita pasti dapat memasang listrik, jawab Wanianse.
“Kalau saya tidak bisa Wanianse, nanti saya pasang saja sama kamu, mudah-mudahan kamu dapat pasang,” ucap Wa Unga dari belakang Wanianse.
“Mudah-mudahan hanya satu juta, kalau satu juta, saya akan menunda beli semen, saya akan membeli listrik dulu,” jawab Wanianse.
“Kalau kamu ada kiriman suamimu, saya berdoa saja semoga kita dapat menikmati listrik.
Tidak lama kemudian, sampailah mereka di kebun bawang, di padangkuku. Wanianse menuju kebunnya, sementara wa unga juga ke kebunnya. Jaraknya tidak terlalu berjauhan. Memasuki kebunnya, Wanianse menatap bawangnya tumbuh, tetapi rumput juga sudah maulai tumbuh, mentimun pun sudah tumbuh disudut-sudut kebunnya. Batangnya merambat ke mana-mana. Ia juga sudah melihat buahnya yang sudah mulai matang, “satu, dua, tiga, empat,” Wanianse mulai menghitung beberapa buah semangkanya.
“saya akan memetik satu buah sebentar, untuk La Ijo dan Wa Leja, ia juga teringat suaminya, karena suaminya sangat suka dengan buah semangka.
Menjelang tengah hari, mereka pulang. Di tempat perhentian di atas bukit, kabanyakan petani berhenti di bawah pohon beringin, sambil menyaksikan bentangan pandang belukar dan sentuhan angin segar. Kebanyakan orang-orang yang kebunnya jauh berkumpul di situ. Ada mengupas ubi kayunya, ada yang baring-baring, ada juga yang menyanyi.
Wanianse menghampiri beberapa teman-temannya, dan menyuguhkan air minum. “Jari Wanianse, toumpa na ahu ana?” Tanya salah seorang ibu yang sedang mengupas ibu kayunya.
“Oho, wa tuha, kambana marasai ana, mudah-mudahan kita dapat membeli sesuai harga dasar listrik yang ditetapkan  pemerintah,” jawab Wanianse. “kita berharap saja, semua wagra kampung sepakat dan komitmen dengan hasil pertemuan itu hari. Keputusannya ‘kan, siapa yang memasang dengan harga lima jutaa, berarti tidak bersatu dengan masyarakat. Dan keputusan rapat, rumahnya dilempar oleh masyarakat.
“Teatumo, mudah-mudahan, kita dapat bersatu, atau pemerintah daerah dapat membantu kita dalam harga dasar pemasangan baru,” ucap yang lain.
“Ara umane nabantu te masyarakat I kampo ana, te pasa’a nulisitiri, maka takumene’emo ala’a,”  kata salah seorang bapak-bapak mendengarkan pembicaraan ibu-ibu di sampingnya.
“Kakuaka ara teparenta mai ana mau mendengarkan hati dan suara rakyat, maka kita rakyat ini akan selalu mendukung mereka, tetapi ini, mereka hanya berebut tanah-tanah rakyat, bahkan tanah adat yang diklaim orang pun dibeli untuk kepentingan pribadinya. Kalau begini, kita akan menderita dalam jangka waktu yang panjang. Anak-anak kita akan tetap melarat, karena pendidikan juga tidak dapat perhatikan dengan baik oleh pemerintah,” urai salah seorang lelaki muda yang lain.
“Makanya, sudah saatnya sekarang untuk memberitahu saudara-saudara kita untuk tidak menjual tanah kepada para kapitalis itu, sebab model-model penjajahan modern adalah usaha untuk menguasai asset-aset masyarakat (termasuk tanah) agar menciptakan ketergantungan yang besar pada kapitalisme, urai Wanianse.
“Lihat saja, hampir semua tanah di kampung ini sudah dijual, mau jadi apa mereka yang sudah menjual tanahnya. Tiap hari orang datang cari tanah, mengapa? Karena memang itu adalah cara halus untuk mengusir orang di kampung kita ini, yaitu dengan membeli tanahnya, dengan menggantikan tanah itu dengan uang yang tidak berharga apa-apa,” Lanjut pria muda itu.
“Kalau begini terus, anak-anak kita akan kehilangan segalanya, kehilangn hak untuk hidup karena ingat, daerah ini adalah pulau kecil yang sangat terbatas,” sambung lelaki tadi.
“Begini saja, sekali lagi, sampaikan pada orang-orang kampung bahwa, jangan lagi menjaul tanah. Karena itu hanya uang sesaat, dan bagaimana kalau kita meminta pekerjaan dan pendidikan dari masyarakat,” ucap Wanianse.
Sementara angin sejuk membelai wajah-wajah mereka. Dan air minum laksana air surga datang untuk menyejukkan, rasa menambah sejuknya tempat peristerahatan itu. Tidak terasa, matahari sudah mulai condong kea rah barat, Wanianse langsung pulang menuju rumah, karena anak-anaknya sudah menunggu di rumah ibunya.
“Perjalanan yang sekitar satu kilo meter itu, terasa dekat, karena pikirannya telah menyaksikan anak-anaknya menikmati semangka hasil kebunnya sendiri.
Bersambung…………………..

Kuterjemahkan dan kuberi komentar syair ini untukmu, bangsaku!

Oleh: Asrif Wakatobi pada 10 Desember 2010 jam 2:37

Kuterjemahkan dan kuberi komentar syair ini untukmu, bangsaku! Supaya engkau lebih lagi mengetahui betapa sudah tinggi kebudayaan jiwamu di abad-abad yang lalu. Dan, betapa hebat usahamu di masa-masa yang lampau untuk ketinggianmu.
                                                 
Bukan aku inginkan balik ke masa itu. Tiada yang hendak kembali ke masa perahu layar karoro, ini masa kapal atom, sputnik, explorer! Aku hanya mengharapkan semoga engkau mengadakan perbandingan. Semoga diusahakan keseimbangan: Dahulu, ketika engkau melayarkan perahu karoromu, tanganmu beruratkan kawat dan hatimu bersemangatkan api. Sekarang, di masa sputnik explorer ini, tetapkah kawat urat-uratmu dan api hatimu? Tetappun kau masih memalukan. Seharusnya tanganmu sudah waja dan hatimu cahaya kosmos.

Inilah salah satu terjemahan dari salah satu karangan-karanganmu di masa yang lampau. Ketika engkau masih menulis dengan bulu burung atau dengan segar. Sekarang, dengan vulpen atommu, kutanya engkau, “Berapa lebih tinggi mutu karanganmu?” Dan yang terpenting: isinya, kebesaran isinya, kekerasan citanya! Lihatlah cita Ubermenschmu yang telah kau buat dahulu ini. Cita Ubermensch yang Uber karena dan demi Tuhan! Sekarang katanya engkau, “Sudah kau realisasikankah cita Ubermenschmu dewasa ini?”

Aku bukan hendak memalukanmu. Engkau telah merana ketika engkau sedang tumbuh karena tindakan bangsa yang lebih tua dirimu. Kalau engkau bertumbuh terus tak terusik, sekurang-kurangnya engkau akan lebih dari kini. Itu yang kukehendaki supaya engkau ketahui dengan nyata! Di dirimu ada benih yang besar. Tumbuhkanlah! Dan tunas-tunasmu yang telah tumbuh dahulu, segarkanlah!

Semoga, zaman kemerdekaan ini akan menghebatkanmu kembali jauh lebih dari masa-masa yang lampau, di lapangan materi dan di dunia rohani.

Jakarta, 10 Oktober 1958
La Ode Malim

Catatan di atas merupakan catatan pendahuluan almarhum La Ode Malim pada buku berjudul “Membara di Api Tuhan” yang ditulis pada tahun 1958 dan dipublikasikan pada tahun 1983. Buku “Membara di Api Tuhan” merupakan terjemahan dan penghayatan La Ode Malim atas syair “Bulamalino” gubahan Sultan La Ode Muhammad Idrus Kaimuddin. Akumulasi terjemahan dan penghayatan La Ode Malim melahirkan deskripsi yang kemudian terangkai menjadi sebuah buku “Membara di Api Tuhan”.

Bun, walau saya tidak pernah melihat wajah ayahmu, tidak pernah mendengar suara ayahmu, tidak pernah bersalaman dengan ayahmu, tetapi saat ini, saya merasa melihat sosok ayahmu yang kuat, tegas, cerdas, dan dekat dengan-Nya.

Bun, sejak di bangku kuliah tahun 1996, kita telah banyak menghabiskan waktu bersama. Bahkan, Bun telah menyempatkan dirimu ke kampungku di pulau Tomia. Begitu juga sebaliknya, rumah tempat tinggalmu di Tanah Abang dan kini di Bukit Wolio juga telah saya kunjungi. Tetapi, tidak sepatah kata pun keluar dari bibirmu tentang ayahmu. Bun tidak pernah cerita jika ayah Bun adalah seorang cendekia, agamis, tokoh pendidikan, bahkan pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Haluoleo, Kendari, Sulawesi Tenggara.

Di pertengahan waktuku di Leiden, Belanda, saya dipertemukan dengan sebuah buku tulisan ayahmu. “Kesenian Daerah Wolio” ayahmu menamai buku itu. Dan, pada ujung waktu saya di Leiden, tiga hari sebelum meninggalkan kota ini, saya berjumpa dengan karya ayahmu, “Membara di Api Tuhan”., ditulis oleh ayahmu, 19 tahun  sebelum dirimu lahir. Perjumpaan saya dengan karya ayahmu yang terakhir, terinspirasi komentar seorang senior di Kendari yang menceritakan “semangat” ayahmu yang ternyata sangat dikaguminya.

Komentar senior itu menggerakkan jemariku untuk mengetik nama ayahmu “La Ode Malim” di akun sebuah perpustakaan di negeri Belanda. Dari layar notebookku, terpampang dua buah buku dengan judul yang berbeda dan nama yang berbeda. “Ini tidak mungkin!”, pikirku. Walau baru beberapa bulan di perpustakaan ini, saya tau-tau sedikit dengan kemampuan profesional pengelola perpustakaan ini. Bun, saya tidak tahu, perasaan apa yang saya alami saat melihat dua buah buku, berbeda judul, berbeda nama, padahal, nyata-nyata saya hanya mengetik satu nama “La Ode Malim!”

Di layar notebookku, ada dua buku hasil pencairan dengan menggunakan nama ayahmu. Buku 2 rupanya telah saya baca diparuh kehadiranku di negeri ini, sedangkan buku bernomor urut 1 belum pernah saya lihat apalagi membacanya. Ada yang aneh, hatiku berkata. Setahu saya, perpustakaan ini akan memunculkan buku yang memiliki keterkaitan dengan buku yang kita cari. Tetapi, entah karena apa buku “Membara di Api Tuhan” tidak pernah hadir saat saya mengetik “Buton”. Bukankah buku itu harus terpampang di layar monitor?

Bun, pada halaman pendahuluan buku “Membara di Api Tuhan”, ayahmu telah memperlihatkan baranya yang membara ke relung jiwa. Ayahmu juga menyatakan sikap tegasnya terhadap bangsa dan generasi, setegas waja yang seharusnya telah menjalari urat-urat nadi generasi hari ini. Bun, ayahmu berkata:

Bukan aku inginkan balik ke masa itu.
Aku bukan hendak memalukanmu.
Di dirimu ada benih yang besar.
Tumbuhkanlah!
Dan tunas-tunasmu yang telah tumbuh dahulu, segarkanlah!

Tiga hari sebelum mudik ke tanah air, saya baru dipertemukan dengan "Membara di Api Tuhan" tulisan Bapak La Ode Malim.
Ayah dari sahabat saya yang tidak pernah mengisahkan tentang ayahnya kepada saya selama tahunan kami berkawan.
Buku ini mendeskripsikan banyak hal tentang kebudayaan Buton dan kebudayaan daerah di sekitar Buton.

Suasanya nyaman berada dalam ruang perpustakaan.
Loker pengambilan buku yang telah dipesan. Scan kartu perpustakaan, loker pesanan buku akan terbuka secara otomatis, (Asrif).

Sebuah Tangis Untuk Negeri

  Oleh:
30 Januari jam 23:14


Baru saja aku melintasi bebatuan itu
kau menatapku, sudut mata yang penuh curiga
sebab hampir koyak selangkanganku

anak-anak desa tertawa, di rumah,
ibu menangis, sebab besok mau makan apa?
sementara televisi tetap menyajikan iklan
dibalik berita-berita yang tak tentu arah

berebut payudara yang telah usang
karena semua masih minta di susui
dari desa sampai kota,
dari simiskin di kolom jembatan tanpa rumah
sampai si kuasa di istana

banjir, gunung api, gelombang, angin bernyanyi
tapi kita tetap tuli juga

sementara gedung-gedung rakyat
dipenuhi dengan kecoak
yang memang butuh racun

dan terikan anak-anak kampung yang lenyap sunyi malam
sementara gongong srigala dan anjiang liar
baru terdengar di dunia maya
menembus batas negara,
menembus batas budaya

ibu, air mata anak-anak kampung itu
sudah hampir kering,
sebab susu tidak dapat lagi terbeli
sebab tangan tidak dapat lagi bekerja

walau kami harus memilih,
tetapi kami tidak bisa sebab dunia terlalu sulit
di balik awan kebohongan

air mata itu mengalir lagi
hingga darah mengalir ke jalan-jalan
dan mengucap
hentikan kebohongan ini.....