Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari 30, 2011

WANIANSE

Bagian V Keesokan harinya, Wanianse terbangun tepat pukul setengah lima subuh, ia merangkak ke dapur untuk mengambil air wudhu. Di telinganya baru saja mengalun azan subuh dari langgar yang tidak jauh dari rumahnya. Langgar kecil yang dibangun oleh masyarakat secara bergotong royong. Subuh itu angin timur begitu kencang, sehingga ketika ia balik untuk melaksanakan shalat, lampu minyak itu mati tertiup angin. “Ya Allah, adakah kesempatan kepada kami mendapatkan listrik?, enam puluh enam tahun negeri ini merdeka, tetapi listrikpun kampung kami belum pernah merasakan. Semoga listrik, dapat menjadi ruang untuk sama dengan anak-anak negeri ini. Enam puluh lima tahun kami masih dalam dunia gelap, bagaimana kami dapat bersaing dengan masyarakat lain di negeri ini, mereka sudah memiliki computer dan internet, tetapi kampung kami, listrik pun belum menyentuh’, Wanianse membatin, telinganya dipertajam sambil tangannya mengapai-gapai di kegelapan mencari kore...

Kuterjemahkan dan kuberi komentar syair ini untukmu, bangsaku!

Oleh: Asrif Wakatobi pada 10 Desember 2010 jam 2:37 Kuterjemahkan dan kuberi komentar syair ini untukmu, bangsaku! Supaya engkau lebih lagi mengetahui betapa sudah tinggi kebudayaan jiwamu di abad-abad yang lalu. Dan, betapa hebat usahamu di masa-masa yang lampau untuk ketinggianmu.                                                   Bukan aku inginkan balik ke masa itu. Tiada yang hendak kembali ke masa perahu layar karoro, ini masa kapal atom, sputnik, explorer! Aku hanya mengharapkan semoga engkau mengadakan perbandingan. Semoga diusahakan keseimbangan: Dahulu, ketika engkau melayarkan perahu karoromu, tanganmu beruratkan kawat dan hatimu bersemangatkan api. Sekarang, di masa sputnik explorer ini, tetapkah kawat urat-uratmu dan api...

Sebuah Tangis Untuk Negeri

  Oleh: Sumiman Udu   30 Januari jam 23:14 Baru saja aku melintasi bebatuan itu kau menatapku, sudut mata yang penuh curiga sebab hampir koyak selangkanganku anak-anak desa tertawa, di rumah, ibu menangis, sebab besok mau makan apa? sementara televisi tetap menyajikan iklan dibalik berita-berita yang tak tentu arah berebut payudara yang telah usang karena semua masih minta di susui dari desa sampai kota, dari simiskin di kolom jembatan tanpa rumah sampai si kuasa di istana banjir, gunung api, gelombang, angin bernyanyi tapi kita tetap tuli juga sementara gedung-gedung rakyat dipenuhi dengan kecoak yang memang butuh racun dan terikan anak-anak kampung yang lenyap sunyi malam sementara gongong srigala dan anjiang liar baru terdengar di dunia maya menembus batas negara, menembus batas budaya ibu, air mata anak-anak kampung itu sudah hampir kering, sebab susu tidak dapat lagi terbeli se...