Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November 10, 2011

Tarian Balaba dan Senandung kaбanti: Dua Benang untuk Merajut Kembali Kebudayaan Buton

(Sebuah mimpi dari Botermarkt 19a Leiden, Belanda , 1 November 2011, 02:13 am) Oleh: Sumiman Udu                 Ketika generasi Buton mulai merasakan pentingnya mengenal identitas dirinya di tengah-tengah globalisasi kebudayaan, maka benang-benang kebudayaan Buton itu ingin kembali dirajut. Helai demi helai kembali dikumpulkan untuk menyulam kembali kebudayaan itu. Lalu, benang apakah yang bisa menyulam helai-helai kebudayaan Buton yang telah tersobek itu? Sehingga ia menjadi kebudayaan yang kelak dapat menjadi kebanggaan dan indentitas generasi anak-anak Buton ini? Pertanyaan-pertanyaan di atas, harus dikembalikan kepada kesadaran sejarah, terutama mengenai bagaimana leluhur Buton menyulam kebudayaan Buton itu? Ketika menelusuri beberapa arsip kebudayaan Buton di Perpusatakaan Universitas Leiden, maka jejak leluhur itu pelan-pelan terungkap. Beberapa tulisan tentang kaбanti dapat dilihat disini, misalnya k...

MERAJUT KEMBALI RUMAH BESAR KEBUDAYAAN BUTON: SUATU REFLEKSI

Oleh : Sumiman Udu                 Sejak bergabungnya kesultanan Buton ke dalam NKRI tahun 1960-an, rumah besar kebudayaan Buton seakan terkoyak, karena kesiapan lembaga adat dan lembaga sara untuk tetap menjaga rumah besar kebudayaan Buton itu sama sekali tidak siap. Rumah besar kebudayaan Buton seakan hilang begitu saja, seakan semua itu telah tergantikan oleh rumah besar kebudayaan yang bernama Indonesia. Pada hal, di dalam kesadaran pendiri rumah besar kebudayaan Indonesia dijelaskan bahwa kebudayaan Indonesia adalah puncak-puncak kebudayaan daerah, dan itu artinya rumah besar kebudayaan Buton seharusnya tetap utuh dan menjadi landasan berpikir, berakhlak dan berkehidupan bagi masyarakat Buton, baik di dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam bingkai rumah besar kebudayaan yang bernama Indonesia.            ...