Jumat, 10 Juni 2016

Benteng Tindoi: Pusat Konservasi Hutan Wangi-Wangi

Oleh: Sumiman Udu

Sekitar tahun 2008, bersama Rustam Awat dan Aslim perjalanan dimulai dengan mengendarai Motor menuju Wuta Mohute Desa Posalu Kecamatan Wangi-Wangi. Dari Kampung Tai Bhete, kami belok kiri menuju Kampung Tai Bhete. Di Kampung itulah, sepeda motor kami titipkan di dekat mesjid. Perjalan dilanjutkan dengan jalan kaki melalui jalur timur ke arah benteng Tindoi. 

Sebelum saya masuk ke dalam lingkungan benteng, menghadaplah ke arah timur, Anda akan menyaksikan lanskap yang indah, pemandangan padang savana yang terbentang luas antara Desa Longa dengan Tindoi dan Desa Pookambua. Di kejauhan sana juga anda akan menyaksikan Bandara Matahora dituju oleh pesawat. Melewati pulau, anda akan menikmati pemandangan bentangan laut Banda, serta kembang-kembang melati yang selalu menghiasi cincin karang Longa. Tentunya Anda akan menyaksikan keindahan yang luar biasa, jika anda menyaksikan matahari yang baru terbit di batas cakrawala di atas Longa.


Berjalan ke arah kiri, anda sudah akan memasuki hutan Tindoi, di sanalah Benteng itu berdiri kokoh, sebagai lambang kebesaran Leluhur Masyarakat Wangi-Wangi. Yang menurut salah satu kisah cerita rakyat Lokal, disebut Tindoi karena berasal dari Cerita Pelayaran kapal Nabi Nuh, dimana setelah sekian tahun berlayar, mereka melihat warna putih di tengah lautan. Di perintahlah burung Gagak dan Itik untuk melihat buih itu. Maka terbanglah kedua burung itu, hanya saja setelah melihat apa sebenarnya, gagak pulang melapor ke kapal perihal karang yang penuh dengan makanan. Itik tidak mau pulang, tetapi langsung makan, ia menggaruk di atas karang itu. Maka setelah kapal merapat, maka dikutuklah itik untuk tidak dapat menggaruk seumur hidupnya. Kakinya diberikan daging yang membuat itik tak tak dapat menggaruk lagi seumur hidupnya sampai dengan anak cucunya.

Memasuki hutan Tindoi, sekitar dua puluh meter dari pinggir hutan setelah melewati jalan diantara batu-batu, anda akan menemukan satu kuburan. Namanya kuburan Bhonto. Jika anda sudah di Kuburan itu, berdoalah Insya Allah hajat anda terkabulkan, setelah itu Anda akan melanjutkan langkah Anda dengan sedikit menanjak, - hati-hati jika jalan licin- karena jalan menanjak sekitar sepuluh meter. Di atas Anda sudah mulai memasuki Benteng. 

Jika Anda terus, anda akan menemukan pintu bagian barat, tetapi jika Anda belok kanan, maka Anda akan menuju Kuburan La Samburaka dan Wa Ode Rio. Namun sebelum masuk ke dua kuburan itu, Anda harus tahu bahwa etika masuk ke dalam wilayah benteng ini adalah (1) Anda tidak diperbolehkan memakai baju merah, (2) di depan pagar menuju kuburan Wa Ode Rio dan Samburaka bukalah alas kaki Anda, (3) Anda tidak diperbolehkan memetik atau mematahkan ranting pohon di dalam benteng dan Hutan Tindoi. Karena itu dilarang oleh masyarakat Adat.

Jika kaki Anda telah masuk ke dalam pusat beteng, maka di kanan Anda akan melihat kuburannya Wa Ode Rio, putri dari kesultanan Buton yang menjadi Istri La Samburaka karena jasanya memadamkan pemberontakan yang mengancam eksistensi kesultanan Buton. Sebagai jasanya atas penumpasan pemberontak itu, maka La Samburaka ketika ditanya apa yang Anda Inginkan, maka ia hanya meminta sebutir telur. Maka dinikahkanlah beliu dengan Putri Sultan yang bernama Wa Ode Rio. Hanya saja perkawinaan itu tidak memiliki keturunan.

Perjalanan kami bersama Rustam Awat dan Aslim untuk menyelusuri Benteng dan Hutan Tindoi melahirkan beberapa temuan, antara lain benteng Tindoi merupakan salah satu benteng tertua di Wakatobi. Bekas-bekas pemukiman ditemukan kulit kerang dan keramik. Di Bawah Benteng di bagian tenggara sebelah kiri Baluara di selatan ada kuburan Anak-anak, yang merupakan kuburan sakti. Sementara di sebelah kanan pintu keluar di arah Selatan barat daya atau pintu menuju Sawurondo juga ada kuburan.

Jika Anda sedang berdoa di kuburan La Samburaka, sekitar dua puluh meter ke arah timur laut, di sana ada tebing alami, di pinggir tebing itu, ada gua yang konon kabarnya di dalam gua itu kuburan aslinya terdapat. Saat ini gua itu sudah mulai mengecil. sementara di sebelah barat dan utara adalah jurang alam yang terjal.

Bagaimana dengan hutan Tindoi? Ketika saya bersama tamu dari Jakarta yang datang ke Benteng Tindoi, salah seorang dari mereka bertanya kepada Wa Yai yang saat itu menjadi pemandu, ia menjelaskan  bahwa "Kayu yang ada di Benteng ini lurus-lurus, karena di jaga oleh leluhur yang memiliki hati dan pikiran yang  lurus-lurus pula. Maka untuk Anda dapat mendapatkan karomah dari leluhur yang ada di Benteng Tindoi, maka Anda Cukup menerapkan pronsip hidup mereka, Sucikan diri anda (fisik, pikiran dan rasa) anda. jangan Korupsi karena itu akan merusak fisik, pikrian dan perasaan Anda dan anak anak Anda". Suatu penjelasan yang sederhana, bahwa untuk mendapatkan barokah, maka kita harus memegang prinsip hidup leluhur yang pernah ada di Tindoi.

Ia juga melanjutkan bahwa Ketika Anda di dalam Benteng ini, Anda tidak boleh memetik daun atau mematahkan ranting. Ini disebabkan jika Anda mematahkan ranting, maka akan berdampak pada keselamatan Anda dan anak-anak Anda, jika memematahkan ranting kecil, yang akan meninggal adalah anak kecil, tetapi jika yang patah atau tumbang adalah kayu besar, maka yang akan meninggal adalah orang besar, atau bahkan tokoh masyarakat.

Keparcyaan itu, sampai saat ini masih tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat Wangi-Wangi Khusunya masyarakat di sekitar benteng Tindoi. Oleh karena itu, masyarakat Adat Wakatobi melakukan konservasi Hutan di benteng Tindoi dengan model Mitos mengenai dampak dari perusakan hutan. Di sini, bagi para turis, (lokal maupun manca negara) mitos itu mungkin tidak rasional, tetapi etika atau tata moral untuk masuk ke wilayah benteng Tindoi hendaknya mengikuti model konservasi lokal masyarakat Wakatobi. Jangan melanggar, sebab jika diketahui Anda melakukan pelanggaran di dalam hutan Tindoi, Anda akan mendapatkan hukuman dari Masyarakat Adat, khususnya masyarakat di pesisir Hutan Tindoi. Karena mereka amsih percaya bahwa patahnya ranting dan Dahan akan berdampak pada keselamatan mereka.

Untuk konteks rasionalitasnya, konteks masyarakat modern yang menggunakan rasionalitas yang tak percaya lagi pada mitos, maka konservasi lokal itu adalah upaya untuk menyelamatkan tiga mata air yaitu (1) mata air sawurondo, (2) mata air polio, (3) mata air disebelah timur benteng. Untuk ketiga mata air itulah hutan di benteng Tindoi ini harus dijaga dan dikonservasi oleh siapa pun, termasuk dalam konteks pariwisata. Seorang Wisatawan harus menghargai nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Wakatobi, khususnya masyarakat Kadia Wanse.

Sebaiknya kalau Anda datang ke benteng Tindoi, carilah masyarakat lokal, agar mereka dapat menuntun perjalana wisata Anda dengan berbagai cerita yang berhubungaan dengan Hutan dan Benteng ini. Karena Anda akan mendapatkan kesejukan hutan, lanskap, dan juga pengalamanan spritual yang luar biasa.

Baca juga
Tradisi Duata dan Keberlangsungan Kehidupan Suku Bajo Di Wakatobi

Tidak ada komentar: