Sabtu, 29 Januari 2011

WANIANSE


WANIANSE II

Oleh: Sumiman Udu
Sambungan Cerber

Ibu yang ternyata bernama Wanianse itu, tersenyum ketika melihat anak-anak tetangganya yang sudah minum susu besok paginya. ia menyaksikan betapa berharganya uang yang diberikan kemarin itu.

"tetapi itu tidak penting, saya pikir, mereka butuh pekerjaan," pikir Wanianse dalam hati.
Wanianse menatap anak-anak itu dengan lembut, di hatinya ada rintihan, "mengapa terjadi hal seperti ini.
Wanianse pergi ke dalam rumah untuk menganti bajunya, ia akan pergi ke pasar menjual jagung yang dipetiknya kemarin sore. Matanya menatap beberapa ikat jagung, ia akan memnjualnya dengan harga lima ribu rupiah dalam satu ikatnya.
seluruh jagungnya ia telah isi di dalam karung dan mengangkatnya ke pinggri jalan menunggu mobil yang lewat. Tidak lama kemudian, sebuah mobil angkutan desa lewat di jalan poros, maka naiklah Wanianse.
di beneaknya, sudah tercatat daftar bahan-bahan ytang akan dibelinya jika jagungnya dapat laku, "ikan, sandal, gula, dan beras." "Eh, terlalu banyak," pikirnya dalam hati. diingatnta uang yang ada di dompetnya, dan sisa uang yang menjadi persiapannya, jika suaminya terlambat mengirim uang dari rantauan.
"dua puluh ribu rupiah, ia mencoba mengingat uang didompetnya, "sewa dua belas ribu, semoga jagungku dapat laku semua.
karena mobil terlambat, Wanianse tiba di pasar, matahari sudah tinggi dan orang-orang di pasar lama sudah mulai habis, sekitar pukul sebelas siang, tak satu ikatpun jagungnya yang laku.
"Sudah pulangmi orang Wa", sapa seorang ibu yang kebetulan membawa kaopi.
"oho da'o, kusala moturu di raneo, mbeaka kudahani'e na oto. jawab WaNianse.
"Bawa emo di Mola, bara ane nomoala, perintah penjual kaopi itu sambil melihat ke arah selatan. di kejauhan, mobil merek 6 sudah mulai mendekat.
Di tangan ibu itu telah ada seikat ikan lajang.

"Sapairamo na ika'u," tanya wanianse.
"Dua hulumo nana, nomohali na ika," jawab ibu itu.
di dalam hati Wanianse jatuh air matanya, mengingat anaknya yang masih kecil yang dititip di tetangga. "Apa saya dapat membeli ikan?" seandainya jagungku tidak laku, maka saya akan menangis saja.
"Matahari semakin, siang, akhirnya Wanianse menjunjung karung jagungnya ke arah selatan menuju Mola. hampir setengah jam, Wanianse berjalan di bawah terik matahari, keringat memenuhi seluruh tubuhnya.
menjelang azan Zuhur, ia tiba di pasar sentral. tubuhnya sudah bermandikan keringat. dan ia langsung menuju tempat penjualan ikan, di sana ia duduk menjual jagungnya, dan tidak lama kemudian, datang beberapa anak muda yang mau acara bakar jagung.
"Berapa ikat kita mau ambil? tanya salah seorang anak muda itu kepada salah seorang temanya.
"Ambil saja semuanya, karena akan banyak tim yang datang sebentar malam, jawab lelaki yang memakai jas hitam itu.
"berapa jagungnya "Bu? tanya salah seorang anak muda itu.
"5000 perikat pak, jawab ibu itu.
"masih berapa ikat bu?" tanya anak-anak muda itu lagi.
"dua puluh ikat, pak. berapa semuanya.
tidak lama kemudian, anak muda itu mengeluarkan uang 100.000 untuk harga jagung itu.
Wanianse, dengan tangan gemetar dan persaaan senang menerima uang itu dengan pikiran pada ikan yang ada di depannya. "Anakku, akan makan ikan hari ini,” pikirnya dalam hati.
Namun setelah anak-anak muda itu berangkat, ia berpikir, "Betapa enaknya kalau kita jadi tim sukses? pasti mereka dapat banyak uang.
Stelah ia membeli ikan,Wanianse membeli beras, dan semua kebutuhannya, dan menuju terminal. namun di sana mobil ke kampungnya baru saja berangkat. Ia hampir menangis, karena bisa jadi itu adalah mobil terakhir.
Tidak, lama kemudian, Waniase dihampiri seseorang dan mengatakan bahwa "Apakah kau pernah dengar, ada orang yang selalu menculik anak-anak dan perempuan?"
Wanianse langsung teringat jalan kaki, karena takut. Dan ia berpikir untuk pualng naik mobil walau hanya setengah jalan, ia naik mobil patuno.

maka naiklah, ia di mobil itu. Di dalam mobil ia membaca Stiker yang tertuliskan, PILIHLAH BUPATI DAN WAKIL BUPATI YANG MEMILIKI KOMITMEN UNTUK RAKYAT, JANGAN YANG BERPIKIR UNTUK DIRI DAN KELUARGANYA SAJA.
Wanianse teringat pada stiker yang diterimanya kemarin. Dan setelah ia menoleh ke kaca belakang, tertulis, SELAMATKAN BUDAYA, dan DAN ASET BUDAYA dari tangan-tangan kapitalis.
Wanianse, teringat pada gadis cantik yang memberinya striker kemarin. tetapi ia tiba-tiba di kagetkan dengan hadirnya dua orang laki-laki dan mereka bercerita tentang calon bupati yang akan membeli suara sampai satu juta rupiah/perorang/suara.
"Saat ini masyarakat sudah saatnya harus bersatu untuk tidak lagi mau suaranya dibeli. dan kita harus kampanyekan agar mereka mengabil saja uang calon, dan tidak perlu dipilih.
"Kalau begitu, bapak akan disuruh untuk mengembalikan uangnya Pak, kalau pasangan itu tidak naik, jawab seorang laki-laki, karena di kampungnya banyak orang yagn datang menagih uang mereka setelah ia tidak lolos jadi anggota dewan. Ada juga yang dipukul, karena mereka tidak mampu membayar lagi.
Wanianse termenung, dalam hati ia bertanya, "MAU JADI APA KAMPUNG KALAU BEGINI?
"Kasian, kalau begini terus, kita mau makan apa? " rintih wanianse dalam hati
Bersambung.....................



Bagian III
                Setiba di rumah, Wanianse disambut oleh anaknya yang masih kecil, “Horee, Wa ina sudah datang,” teriak anak pertamanya. Sementara anak keduanya, berlari kea rah ibunya. Waniase mengambil kue-kue dan memberikannya pada anaknya.
“Nak, adikmu tidak menangis? Tanya Wanianse pada anaknya Wa Leja. ”Tidak Mama, jawab Wa Leja.
“Ina, tadi ada yang datang ke rumah, menanyakan mama,” sambil membuka bungkus kue yang diberikan ibunya.
“Siapa Na?” jawab ibunya berusaha untuk mengendong anak ke duanya yang bernama La Ijo.
Wa Leja berlari mengambil poster yang diterimanya dari tim sukses, dan memperlihatkannya kepada mamanya. Oh, itu, jawab ibunya lagi. “Mereka bilang apa Nak?” Tanya Wanianse  pada anaknya. “mereka bilang, nanti kau berikan pada mamamu, jawab Waleja.
Setelah menyusui anaknya, Wanianse langsung pergi ke dapur untuk memasak ikannya. Di belakang Wa Leja dan La Ijo mengikut. Mereka memakan kue yang dibeli oleh ibunya. Setiba di dapur, ia melihat kayu bakar tidak ada, maka keluarlah Wanianse untuk mengambil kayu bakar di halaman rumahnya. Di sana ia bertemu dengan tetangganya.
“Nu waliakomo mina di daoa? Tanya tentangganya.
“Oho, laamo bai,” jawab Wanianse.
“Eh, ane bai kenemia ma’i tegambara ako ane uka tasumku’e dipilikadana,” tetangganya itu menjelaskan. Di pikiran Wanianse, “calon yang mana lagi itu”, renungnya dalam hati. Di dalam hatinya ia tersenyum.
“Mereka bilang apa?” Tanya Wanianse. Ia menatap tetangganya yang sudah senyum-senyum, dipikirnnya, ini pasti sudah dapat uang lagi nih.
Tahu bahwa Wanianse mengetahui senyumannya, tetangganya itu mengeluarkan uang seratus ribu rupiah lalu diberikannya kepada Wanianse.  Lalu tetngga itu membisik Wanianse, “Eh, jangan ko bilang-bilang na, saya tadi ambil uang tim sukses itu.
“Apa mereka bilang? Tanya Wanianse. “mereka bilang, ini baru teheporae’a,” jawab tentangganya.
“Terus, apa kobilang sama mereka?”
“Tidak ji, kan kemarin ada penyampaian yang dilakukan oleh teman-teman mahasiswa kemarin. Ya, saya pikir itu ada baiknya, kita ambil saja. Soal pilihan, rahasia,” hahaha.
“Iya juga sih, itu lebih bagus, supaya calon-calon bupati yang mau membeli suara rakyat itu jadi tobat”. Jawab Wanianse.
“Itu dia,” jawab tetangganya.
“Eh, nanti kita cerita sebentar, saya memasak dulu, kasian anak-anakku, nanti mereka keburu tidur.
Di kampung itu, Wanianse banyak diikuti oleh teman-temannya, karena disamping ia cantik, ia juga baik hati dan banyak pengetahuannya. Maklum, ia tamat SMA, hanya karena tidak ada uang, maka ia tidak dapat melanjtkan ke perguruan tinggi. Akhirnya ia dinikahkan oleh orang tuanya dengan pacarnya, yang saat ini bekerja di Malaysia.
Selesai shalat isya, anak-anak waniase sudah tertidur, maka seperti biasa keluar dibawah bulan purnama untuk melakukan latihan pada anak-anak sekolah dikampungnya. Ia melatih mereka dengan beberapa hal, yaitu keterampilan membuat humbu-humbu, keleu, dan pada malam-malam tertentu mereka berlatih tari tradisional. Maka malam itu, banyak sekali gadis-gadis di halaman rumah Wanianse yang kebetulan halamnnya sangat luas.
“Malam ini, jangan dulu kita latihan, saya mau mendengarkan apa pikiran kalian tentang kondisi kampung kita yang sering didatangi oleh orang-orang beberapa minggu terakhir ini.”
“Oho, ina Wa Leja, teikamido uka kobingumo, tapimilimo te emai nana? Jawab salah seorang ibu-ibu yang kebetulan berlatih pelatihan pembuatan humbug-humbu.
“Oho, wada’o, kenemo tobingu, maka diamo nohedoe kitamo ala’a. tunggala mia nomangaku te tuha.” Soba gara ara nalumealama mida di molengo awana iso, naleuno”, mereka berdiskusi di bawah purnama dengan tiupan angin laut.
“Ara teikomiu ina Wa Leja?, toumpa na fikiri miu? Tanya salah seorang ibu.
“Ara teiyaku, kufikiri kua, na leuno ara te amai calon mai ana, nafumikiri kua, tekarajaa paira ako ane teiido akonto, ara awana iso nafikirino na amai, teatumo ta pumili”, jawab Wanianse dengan penuh yakin.
“Soba fikiri’e, seandainya calon-calon ini berpikir bahwa kita ini perlu bekerja, maka mereka tidak akan membawa uang tunai untuk membeli suara kita. Tetapi karena dipikiran mereka hanya untuk membeli suara kita, maka mereka datang member kita uang, sebagai harga diri kita,” kasian kita ini.
“Jari toumpamo? Tanya salah seorang ibu.
“Ara teiyaku, meana’e ai, tabeda tawumikirimo, kua teemai-emai ane nafumikir ako te idonto, teatumo ta pumili, toka ara buntumo nohu’u kit ate doe, maka alaemo laa, toka pili laa tepoilu amiu,” jelas Wanianse.
“Tapumili tetuhanto  ara ta pumili te paira? Tanya salah seorang gadis.
“Tidak juga, nongaa’e temanusuana mai kua, bara topotuhan-ntuha ako’e na togo, artinya apa itu. Te togo ana kita harus bangun, pada tujuan untuk mensejahterakan seluruh rakyat, bukan hanya Tuha jasa.” Jawab Wanianse.
“Oho uka, ara tapumili te tuhanto, ara teikami mbea’e natuhamami cumalon ana, mbeakamo ka pumili dahani,” jawab seroang anak gadis yang lain.
“begini kalau begitu, mulai saat ini, kita harus melihat baik-baik ini calon bupati, temia gole-gole ara? Temia nafusuu ara, temia malimpu, ara temia ako temokoleama te togo?” urai Wanianse.
“Bara piamo topili te bupati, nafusu, mou tedawu numia na mala’e, termasuk tedawu ikita rakyati ana.
Beberapa lama kemudian, awan menutupi bulan, angin bertiup mulai kencang, maka semua yang hadir bubar.
“Tamoga’a-ga’amo dahani, I lange morondoho uka maka tolanjuti’e natula-tula.
“Toka awana umpa ara ane kene mia di lange? Tanya tentangga Wanianse.
“maksudmu apa? Tanya Wanianse.
“Ada yang bawa uang, hahaha. Jawab tentangga Wanianse itu lagi.
“untuk sementara ambil uangnya dan itu jangan dianggap utang, karena uang itu diberikan tidak ikhlas.”
Selamat malam semua, besok, kita mau pergi di kebunnya siapa?” Tanya Wanianse pada teman-temannya.
“kita istrahat saja besok, tungu-tuinggu uang tim sukses, hahaha”, jawab tetangganya.
Selamat malam, semoga mimpi indah.


Bersambung…..






Wanianse
Bagian IV
Setelah semua tentangganya pulang, Wanianse menuju tangga rumahnya. Rumah panggung yang berdiri di tengah kampung. Rumah yang berdindingkan jelaja. Ia menatap lampu minyak yang bertengger di dinding, di atasnya sudah penuh dengan arang yang hitam. Di benaknya, kapan rumahnya selesai, seperti biasa.
Kemudian, ia berbaring di samping anak-anaknya. Beberapa lama ia mau menutup matanya, tetapi justru ia teringat pada beberapa peristiwa yang ada di kampungnya beberapa minggu terakhir. Ia teringat lima tahun yang lalu saat tim-tim sukses itu datang ke kampungnya dan menjanjikan segala yang indah-indah, yang baik-baik.
“Tuhan, mengapa kampungku menjadi tertinggal seperti ini?” tanyanya dalam hati. Ia menatap lampu meninyak yang nyalanya ia kecilkan sebelum membaringkan diri. Pikirannya terbayang masa-masa mudanya, masa ia masih menuntut ilmu di madrasah. Ia teringat pada cita-citanya untuk sekolah, ketika suatu waktu ia mengikuti ibunya ke kebun. Melihat penderitaan orang-orang kampungnya.
“Andaikan, seluruh calon-calon bupati mau berpikir untuk membuat perubahan di negeri ini, maka tidak ada acara lain, kecuali mengubah perubahan pikiran pada manusianya.” Bukan uang tunai, BLT dan dan bantuan yang harus dijanjikan kepada masyarakat. Lebih-lebih dana kampanye yang cenderung untuk membeli kebebasan rakyat, membeli suara rakyat, Tidak, itu tidak akan membuat perubahan.” Negeri ini membutuhkan pemimpin yang dapat membuat perubahan,” pikirnya dalam hati.
Badannya dimiringkan ke kanan dank e kiri, bukan sumianya yang jauh yang dia pikirkan, tetapi kondisi kampungnya, yang setiap hari semakin terasa kemiskinan.
“Andai saja semua calon pemimpin di negeri ini memikirkan, bagaimana masyarakat dapat bekerja, maka negeri ini akan lebih maju,” pikirnya dalam hati. Tetapi pikirnnya dibantahnya sendiri, “Bagaimana mungkin mereka dapat berubah, walau mereka punya keinginan untuk berubah, tetapi kalau mereka tidak dapat mengubah pikirannya, maka tetap mereka akan tetap menjadi santapan orang-orang pintar dan kaya. Tidak, diperlukan keinginan pemerintah untuk membantu masyarakat untuk mengikuti sekolah. Jangan lagi seperti saya, berhenti sekolah hanya karena saya adalah orang miskin,” pikirnya lagi dalam hati.
Pikiran Wanianse melayang jauh ke belakang saat bersama teman-temannya melewati gunung untuk menuju sekolah, di dalam perjalanan itu, pernah ia tanamkan semangat yang tinggi pada teman-temannya untuk mengubah kampung dengan meningkatkan Sumber Daya Manusia. Waktu itu, di minggu sore, anak-anak kampungnya berangkat ke sekolah dengan memikul kaopi sebagai bekl mereka selama di Togo selama satu minggu. Keringat mereka membasahi tubuh, maka di atas bukit di dekat air jatuh wanduha-nduha menjelang terbenama matahari, semua memandang pemandangan itu, dan di antara mereka, ada Imam mengatakan bahwa, “Kalian lihat matahari itu?”
Semua mata mengarah kea rah matahari itu, “Iya, kami lihat, mengapa? Tanya teman Wanianse saat itu.
“Lihat, itu adalah energy yang menerangi alam. Dan dalam kehidupan kita, energy itu ada dalam jiwa dan pikiran kita, maka kita harus membuat matahari itu hadir di dalam hidup kita. Dengan begitu, maka matahari itu akan muncul di kampung kita, menerangi pulau ini, menerangi Wakatobi, menerangi Buton, menerangi Sulawesi dan bahkan dunia,” Wanianse, seakan hadir kembali menyaksikan matahari di sore itu.
Pikirannya yang terus melayang ke masa lalunya, membawanya tertidur pulas. Dan dalam tidur itu, ia bermimpi, bahwa ia sekolah di perguruan tinggi. Di dalam tidurnya ia bertemu kembali dengan Imam”, lelaki sepupunya yang kini telah putus sekolah, hanya karena persoalan uang, sama dengan dia.
“Wanianse, kita telah gagal dalam menuntut pendidikan formal ke perguruan tinggi, tetapi janganlah kau berkecil hati, pendidikan sesusngguhnya adalah ketika kita berada di tengah-tengah masyarakat. Inilah universitas yang sesungguhnya Wanianse?” ucap Imam. Di kejauhan sana Imam menuju sekelompok anak-anak, dan di sana ia menanyakan pada anak-anak itu.
“Apa yang membuat kita miskin? Tanyanya. “Coba kalian pikirkan, mengapa sejak dulu orang tua kita hidup dalam kemiskinan? Imam bertanya lagi.
Anak-anak itu, saling menatap, “Bukankah sejak kita kecil, orang tua kita kecil, kakek nenek kita kecil, semuanya tetap seperti ini? Hidup miskin, walau kita ingin sekolah, tetapi tidak ada uang.”
Wanianse tiba-tiba berdiri dan berkata, “Mari kita cari apa yang menyebabkan mengapa kita miskin?” ia menatap anak-anak di sekelilingnya.
“Coba kalian pikirkan baik-baik, karena kita harus keluar dari penderitaan ini,” kata Imam lagi.
“Kalau menurut saya, kita miskin, karena orang tua kita tidak kaya sehingga mereka tidak member kita uang dan kesempatan”, anak laki-laki gondrong itu berkata lantang.
“yang lain?” Tanya Imam lagi.
“Kalau menurut saya, karena kampung kita ini tidak punya hasil bumi”, jawab yang lain. Imam menatap Wanianse, dan menggelengkan kepalanya.
“Kalau kau Wanianse?” Tanya Imam pada Wanianse.
“Sebenarnya, yang membuat kita miskin bukan karena orang tua kita tidak punya uang yang akan diwariskan, bukan pula karena kampung kita tidak punya hasil bumi, tetapi menurut saya kemiskinan kita adalah kemiskinan cultural dan kemiskinan strutrual. Apa itu? Tanya Wanianse dan matanya berkeliling pada teman-teman di kampungnya.
“Salah seorang perempuan, Wa Kamba, berdiri dan berkata, “Saya tidak dapat berbuat apa-apa, karena orang tua saya tidak dapat menyekolahkan saya, sehingga sekarang saya tidak dapat membaca dan menulis,” air matanya jatuh, sebab ia merasa bahwa ia tidak dapat berbuat apa-apa pada anak-anaknya, terlebih suaminya yang kerja hanya minum setiap malam.
“Kalau menurut saya, yang membuat kakek nenek kita, orang tua kita, dan kita sekarang jadi miskin, karena kita tidak punya pengetahuan. Kita tidak punya kesempatan untuk mengikuti pendidikan, orang tua kita terlalu cepat putus asa untuk mengantarkan kita ke ruang pendidikan. Memang, ada beberapa orang yang berhasil di dunia pendidikan walau orang tuanya miskin, tetapi itu hanyalah orang-orang terpilih. Mereka yang bersabar dan semangatnya tinggi,” urai imam panjang lebar.
“Wanianse teringat, saat ia menangis melawan orang tuanya sewaktu ia menamatkan pendidikanya di Madrasah Aliyah delapan tahun yang lalu. Waktu itu, ia menangis meraung-raung di hadapan orang tuanya, ia minta di sekolahkan, tetapi semua mengatakan bahwa tidak ada uang, dan jangan kau susahkan keluarga”. Wanianse lari ke kamar dan menangis merauang-raung, dan dalam tangisnya itu, Wanianse terbangun.
Ia menatap kedua anaknya, ia memeluk anaknya, dan berdoa, semoga suatu waktu nanti, sudah ada yang mau membantu pendidikan anak-anak kampung, sehingga anak-anaknya tidak merasakan kemiskinan sebagaimana ia alami sekarang ini.
Pikirannya kembali, teringat pada anak-anak tetangganya yang tidak disekolahkan. “Andaikan, calon bupati dan wakil bupati datang untuk member harapan pada anak-anak untuk sekolah, dengan mambuka lapangan kerja untuk orang tuanya, maka suatu saat kampung ini dapat maju. Semoga!!!!!
“Semoga ada yang berpikir untuk kebangkitan ini…
Wanianse pun tertidur kembali dengan pulasnya, di benaknya ia menghadiri wisuda anak-anaknya di perguruan tinggi.

Bersambung……