Rabu, 28 Maret 2012

Wanianse Bagian 15

Oleh: Sumiman Udu

Hari-hari yang gelap melanda Desa di Sebelah Timur Pulau Wanci itu. Hanya suara laut Banda yang terus mengamuk. Lampu minyak terkadang mati, oleh angin timur yang mengamuk sejak dua minggu yang lalu. Terik matahari yang kian memanas terus menjadi teman Wanianse dan teman-temannya ketika bekerja bergotong royong membersihkan kebunnya. Beberapa lantunan penghilang rasa rindu sering kali dilantunkan di tengah ke kalutan hidup yang semakin susah.
Di tengah kekalutan itu, menjelang siang para ibu-ibu itu pulang. perjalan panjang menuju rumah membuat mereka harus istrahat di atas perbukitan. Mereka menikmati lembah, dan pemandangan gunung Tindoi yang jauh. Di Bawah pohon beringin itu mereka beristrahat, ada yang tidur-tiduran, ada juga yang bercerita.
"Eh, saya kemarin ke pasar, sudah sangat susah, harga Opi (sebuatan untuk singkong barut yang dikeringkan untuk bahwan soami atau sering dikenal dengan orang luar sebagai kasoami) turun. sementara sewa mobil sudah 10000 pulang pergi karena naik minyak, kata salah seorang ibu di dekat Wa Nianse.
"Tamatemo ara awa nana," kita matimi kalau begini, keluh yang lain.
Tapi 'kan ada bantuan, potong yang lain.
"berapa mi itu bantuan, kata Wanianse, kalau saya tidak salah dengar di TV bantuan itu hanya 150 ribu rupuah perKK, itu tidak akan membantu keberadaan kita di desa ini.
Anak-anak kita tidak mungkin sekolah kalau seperti ini, dan akan terjadi masalah kemiskinan ini semakin panjang. Dan bahkan menurut saya kemiskinan ini akan lebih parah di banding orang-orang tua kita yang dulu.
"kalau anak-anak saya yang bodoh seperti saya ini, kelak akan jadi apa?" potong seorang ibu yang biar tamat SD saja tidak. Di benaknya, mungkinkan anak-anaknya yang banyak itu harus merasakan penderitaannyanya setiap waktu.
Iya, kalau saya pikir, anak-anak kita kedepan akan semakin menderita saja, karena lahan santuha (keluarga) sebagain sudah dijual oleh keluarg kita yang lain. pada hal kalau anak-anak kita tidak sekolah, maka satu satunya harapan hidupnya hanyalah bergantung pada akar ubi kayu dan itu artinya harus ada tanah.
"Eh benarkah itu, tanah yang dijual tanpa dimusyawarahkan oleh seluruh anggota keluarga itu dapat digugat?, tanya ibu yang lainnya.
"saya dengar begitu, bagusnya mi kalau kita menggugat kembali tanah itu dari para pembeli itu. Kita akan terjajah mi kalau begini.
Beberapa menit yang lalu, seorang ayah yang sangat menderita, sudah sakit-sakitan tiba di tempat peristrahatan itu. Ia suda lama mendengarkan pembicaraan ibu-ibu itu.
"Kalau ada yang menggugat, dan membutuhkan tumbal, saya siap untuk menjadi tumbal perjuangan ini, asal tanah-tanah itu dapat kita miliki kembali. Lelaki itu kemudian terdiam, di pikirannya, mungkin ini yang dapat saya sumbangkan untuk generasi kampung ini di masa depan.
semua yang ada di situ menoleh ke arah La Toke yang sudah hampir putus asa itu.
Mendengar itu Wanianse berpikir, bahwa menggunggat atau memperkarakan tanah yang sudah di jual ini harus membutuhkan bantuan Hukum, kalau tidak kita akan amsuk penjara semua.
Semestinya pemerintah daerah harus menyadarkan masyarakat tentang pentingnya tanah, pikir Wanianse lagi. Tapi ia pun berpikir, bahwa yang banyak membeli tanah ini adalah pada penguasa. Bayangnya terbayang pada buku yang dibacanya dan cerita gurunya tentang revolusi Prancis tahun 1917 yang dipicu oleh hilangnya akses rakyat kecil pada tanah yang sebagian besar dikuasai oleh pada borjuis.
"Jadi bagaimanami kalau begini terus, tanya seorang ibu yang lain lagi. Ibu itu mengupas ubi kayunya.
"kalau menurut saya, di samping kita harus menyadarkan saudara-saudara kita untuk tidak menjual tanah, kita harus menyekolahkan anak-anak kita untuk menggugat kembali tanah-tanah itu dari sekrang, dan ketika mereka sudah memahami hukum, kasus itu akan di buka kembali," jawab Wanianse.
"Kalau sekarnag, caranya adalah bahwa yang membeli itu harus di tunggu dan diberi tahu bahwa tanah ini berkasus, kalau mereka memaksa, kita juga harus memaksa.
"Saya pikir itu sangat baik la Toke, dan ini harus semua laki-laki komitmen untuk mengambil seluruh tanah yang ada di daerah kita ini. Tak sejengkal pun tanah tidak boleh di jual, di beli oleh siapa pun.
"Iya, beberapa tanah yang dikasuskan sekarang, harus dilarang jangan sampai dibangun oleh yang membeli, sebab kalau itu diberi kesempatan, maka kita sudah bisa ditiuntut merusak.
"Cara-cara kasar dengan menggunakan uang seperti ini sangat berbahaya, apalagi dilakukan oleh oknum-oknum penguasa.
"Sekolahkan anak-anakmu, dan tuntut kembali tanah-tanah adat dan keluarga itu.

Menjalang tengah hari, berbegaslah satu-satu orang meninggallkan bawah pohonberingin itu menuju rumah masing-masing. Wanianse berjalan dengan membawa ubi kayu yang di atasnya disimpan makanan kambing. Berjalan di belakangnya tetangganya, ibu muda yang lebih sial lagi nasibnya karena suaminya sudah putus asa sehingga kerjanya hanya mabuk dan mabuk, sesekali diberinya menu tendangan dan pukulan.

"Jadi kalau seperti ini, minyak naik, tanah sudah tiada, apa mi yang akan kita akan lakukan ina Wa Leja, tanya perempuan itu dari belakang.
Lama Wanianse baru menjawab, beban yang dipunggungnya hampir membuat pikirannya macet.
"satu-satunya jalan untuk dapat membuat kitaberubah adalah menyiapkan anak-anak kita untuk mengikuti pendidikan ke perguruan tinggi. Kita harus berusaha untuk menyekolahkan mereka. Krena satu-satunya jalan untuk mengubah kemiskinan ini adalah hanya dengan jalan pendidikan dan keterampilan.
Kita beruntunglah, sudah ada SMP dan SMK di kampung kita ini, maka doronglah anak-anakmu untuk sekolah.
saya dengan Bapaknya Wa Leja, agar Wa Leja dan La Ijo harus di sekolahkan sampai di universitas, karena saya berpikir untuk dapat keluar dari masalah kemiskinan ini adalah harus dengan mengubah pemikiran dan pemahaman kita tentang hidup. Tidak ada cara lain selain sekolah.
"Iya dik, jawab ibu itu. terbayang dibenaknya saat kelas empat SD saat ia mendapatkan hadiah sebuah buku dari gurunya karena ia juara kelas.
Perempuan itu membayangkan andaikan ia sekolah, maka mungkin ia akan berubah, hanya saja kerena orang tua tidak punya uang, maka jadilah ia seperti itu.
"Saya juga akan memberitahu suamiku agar, kita harus menebus masa depan anak-anak kita dengan penderitaan dan kerja keras asal mereka sekolah, tidak peduli dengan rumah baik atau tidak, yang penting makan dan anak-anak dapat sekolah.
Wanianse berjalan dibawah terik matahari, di benaknya terbayang, bahwa sudah mesti ada ruang berkumbul untuk ibu-ibu di setiap minggu untuk mendiskusikan bagaimana bisa bertahan hidup di zaman yang serba sulit sperti itu.
Di rumah, Wa Leja dan La Ijo sudah lama pulang dari sekolah. Wa Leja menunggu di bawah kolom rumah, sementara La Ijo menunggu ibunya di bawah pohon kedondong. sedangkan Wanianse menuju kolom rumah dekat Wa leja untuk menyimpan ubi kayunya. Keringatnya menyengat tercium asin ke hidung La Ijo. dalam hatinya terbayang, betapa menderitanya mamanya, demi bertahan untuk hidup.
"Nak, berapa nilaimu di sekolah hari ini? tanya Wa Nianse pada La Ijo.
"sepuluh ibu, jawab La Ijo sambil tersenyum.
"Wanisne tersenyum, "Bagus Nak, kau harus belajar baik-baik, karena hanya dengan sekolah sampai diperguruan tinggi kau akan berubah, hidup ini akan berubah.
Berjuanlah Nak, masa depan dan harapan ayah dan ibu hanya pada kalian berdua, ibu khawatir kalau kalian tidak bisa kuliah, maka nasib kalian akan lebih jelek lagi dari nasib ibu hari ini.
Wa Leja dan La Ijo terdiam, dalam benaknya La Ijo ingin mengubah hidupnya, ingin mewujudkan cita-cita ibunya.
"Terima kasih Bunda, Aku dan Adikku harus sekolah untuk mewujudkan kehidupan baru.


Bersambung