Sabtu, 05 Februari 2011

WANIANSE

Wanianse
bagian VI

setelah malam, wanianse mengajak kedua anaknya mendengarkan cerita di rumah nenek. berjalnlah merek bertiga di bawah purnama yang menyinari kampungnya. untung saja ada sinar bulan. beberapa jarak mereka berjalan, tiang lampu yang belum lama dibangun pemda terlewati, listrik tenaga surya itu menyinari menambha terang sinar bulan, semntara angin laut menghangatkan langkah kakinya.

setiba di rumah nenek, Wanianse memanggil ibunya, "Ibu, assalamu alaikum.
dari dalam rumah panggung itu, "Waalaikum salam".
la ijo dan wa leja langsung naik ke dalam rumah, mereka beruda mencium tangan neneknya.

"Nenek, ciritakan kita dong, seperti biasa, saya mau datang ke rumah nenek untuk mendengarkan cerita nenek," kata wa leja sambil menarik tangan neneknya ke dekat lampu minyak.

maka duduklah nenek dan wanianse di dekat lampu minyak, sementara la ijo dan wa nianse berbaring, sarung mereka menutup sampai di ujung jari kakinya, wa leja di tengah antara kaki neneknya dan la ijo.
"Mau cerita apa toh?' tanya neneknya.
La kolo-kolopua dengan landoke-ndoke" nenek, tetapi yang baik ya?

Ok, jawab neneknya. semnatra wanianse juga ikut mendengarkan
begini ceritanya.

suatu waktu, di zaman dahulu, landoke-ndoke dengan lakolo-kolopua berteman. kemana saja mereka berteman. ke gunung sama-sama, ke laut juga sama-sama. maka ketika mereke berjalan menuju gunung, mereka melawati perkampungan manusia yagn sedang menangis.
bertanyalah la kolo-kolo pua, "Mengapa kalian menangis?"
menjawablah orang-orang itu, "Baru saja raja kami meninggal," urai orang itu.
"Jadi, mengapa kalian menangisinya? tanya landoke-ndoke.
"karena Raja kami sangat baik pada kami, ia tidak mementingkan diri dan keluargnya, ia mementingkan kepentingan rakyat banyak.jawab orang itu lagi.

"oh, begitukah? landoke-ndoke heran, dimana mayatnya? tanya landoke-ndoke.
"kami sudah kuburkan, kami tidak mau ia tersiksa di dalam tangis kami," jawab seroagn lagi.

"Apa lagi yang kalian pusingkan? jangan tangisi dia lagi, agar arfahnya bisa menjadi tenang di akhirat sana," jawab yang lain,
nenek tetap semangat bercerita, sementara wa leja dan la ijo beberapa kali membolak-balikan tubuhnya dan telinganya tetap mendengarkan cerita neneknya.

"lalu bagaimana lagi nenek? desak wa leja ketika nenejknya memberi jedah pada ceritanya.

maka menjawablah orang-orang kampung itu, "bahwa kami belum mendapatkan calon penggantinya."
landoke-ndoke dan lakokolopua saling menatap, dan landoke membisik la kolopua agar bagaimana kalau kita jadi pemimpin mereka?
"boleh, yang penting kita dapat memberikan yang terbaik untuk mereka", jawab lakolopua.
"bagaimana kalau kami berdua menjadi raja kalian?" tanya lakolopua pada penduduk kampung itu.
"Bisa saja, asal kalian dapat jujur dan terbuka pada rakyat kami. Tidak mementingkan diri sendiri seperti raja kami, tidak mementingkan partai seperti raja kami, dan yang terpenting lagi adalah mau meningkatkan SDM di negeri ini.

"Itu tidak ada masalah, jawab la ndoke-ndkoe, sebab itu adalah tujuan kami melakukan perjalanan ini.

besoknya, maka berkumpullah semua warga negeri itu, dan hadirlah di situ seekor kancil.
ketika landoke-ndoke dan lakolo-kolopua hadir di atas mimbar untuk membawakan pidato, maka lompatlah kancil dan mengabil microfon dan berkata, "Saudara-saudara, kita baru saja kehilangan seorang raja, dan sekarang akan hadir di depan kita seorang calon dara dan perdana mentri. hanya sebelum mereka dinobatkan sebagai raja dan perdana mentri, saya mau bertanya pada mereka,"

"Apakah mereka berdua ini, mau bekerja untuk kesejahteraan negeri ini atau mau bekerja untuk kelompok dan partainya?
"La Ndoke dan lakolopua saling menatap, dan melangkah la ndoke ke depan dan berkata, kami hanya mau mengbdi pada rakyat, dan bukan untuk kepentingan pribdi kami.
"maka si kancil, begerak ke arah pengeras suara dan berkata, mudah-mudahan, kita dapat membangun negeri kita dengan pasangan ini. ttp ingan saudara-saudara, mereka telah berjanji di depan kita bhawa mereka mau bekerja untuk kita".

Maka dilantiklah lakolo-kolopua sebagai raja dan landoke-ndkoe sebagai perdana mentri.
setelah membentuik kabinet, ka kolopua membuat perencanaan pembanguan negerinya dengan sangat seksama, turun mendengarkan kebutuhan rakyatnya, ia berjalan dari kampung-ke kampung memperkuat pengetahuannya tentang kebutuhan masyarakat, mengadakan dialog dengan masyarakatnya.
maka terwujudlah rencana pembangunan negerinya dengan benar. dan hanya satu kendalanya, yaitu tidak ditemukannya orang ytang dapat menyusun seluruh perencanaan itu dengan baik. seluruh pegawainya tidak mengerti, tidak tahu bekerja, maka diutuslah anjing untuk menelusuri sebab mengapa pegawai tidak dapat bekerja seperti itu? dan tiga hari kemudian, angjing melaporkan bahwa walaupun raja di kampung ini adil dan sangat disukai oleh masyarakat, tetapi perdana menteri merekrut pegawai dengan cara membayar dan nepotisme.

maka dipanggillah la ndoke-ndke sebagai perdana mentri baru, untuk menyusun perencanaan pembangunan bersama raja, maka ditemukan masalah untuk memajukan negeri ini agar lebih maju lagi adalah dengan meningkatkan anggaran pendidikan, agar anak-anak di negeri ini dapat memiliki kesadaran dan dapat memberikan kontribusi dalam pembanguan kampungnya.
setelah mereka bekerja dengan jujur, memberantas korupsi, bekerja untukrakyat, meningkatkan SDM, maka negeri itu menjadi makmur dan kaya raya, tidak ada lagi penerimaan pegawai yang harus membayar, tidak ada lagi nepotisme, dan masyarakat sudah mulai bekerja dengan baik. mereka semua sejarhtara. hahaha

"Nenek, kapan kampung kita sepetrti itu nek"? tanya wa leja.
wanianse dan nenek hanya tertawa, dan berkatalah wa nianse, "Ketika pemimpin kita dapat berpikir untuk membangun negeri kita.
maka tertidurlah la ijo dan wa leja dengan tenang

bersambung.............

Wakatobi: Memahami Kembali Kebudayaan kita

Sumiman Udu 05 Februari jam 21:32
5 Feb 2011

Menghadapi beberapa minggu ke depan yang tidak menentu, dimana masyarakat Wakatobi akan menentukan pemimpinnya di masa depan, maka diperlukan suatu perenungan tentang esensi kebudayaan Wakatobi. Kebudayaan yang telah menjadi identitas masyarakat Wakatobi.
Masyarakat Wakatobi sebagai salah satu wilayah barata dalam Kesultanan Buton, tentunya memiliki nilai-nilai budaya yang mendukung pengembangan Wakatobi di masa depan. Dalam hubungannya dengan itu, Wakatobi memiliki konsep Kangkilo/kabusa yaitu konsep dasar peletakan identitas islam yang dimodifikasi dalam kebudayaan buton.
Dalam kontes itu, masyarakat Wakatobi memiliki konsep kesucian lahir dan batin. suci niat dan suci tubuh sehingga segala langkah dan perbuatan kita berada dalam ranah kesucian (keilahian). Suci niat artinya, jangan pernah berpikir untuk merusak atau merugikan orang lain, misalnya mengambil hak orang lain, mengecewakan orang lain, dan segala hal yang merusak niat kita, mengotorinya. Karena niat yang dibentuk oleh pikiran dan jiwa manusia senantiasa di jaga pada posisi netral, (fitrah). sedangkan suci fisik (tubuh) senantiasa masyarakat Wakatobi harus menjaga dua hal, pertama adalah menjaga berbagai hal yang akan masuk ke dalam tubuhnya, (makan, minum) apakah halal atau tidak? suci atau tidak, dan kedua, apakah yang dia lakukan atau berikan baik dalam bentuk kata-kata juga suci atau tidak? apakah merusak atau mengganggu manusia dan alam atau tidak? sesuai dengan anjuran Ilahi atau tidak?
Ini merupakan landasan kebudayaan Buton yang dibutuhkan untuk menghadapi masa-masa yang tidak menentu di Wakatobi beberapa minggu ke depan. Sehubungan dengan itu, masyarakat Wakatobi sudah saatnya untuk merenungi kembali, apakah masyarakat Wakatobi menginginkan seorang tokoh yang dapat menjaga kebudayaannya, sehingga dalam berpolitikpun harus memperhatikan aspek-aspek niat dan tingkah laku dari calon bupati dan wakil bupati di masa depan, karena itu, akan banyak berpangaruh dalam masa depan pembangunan Wakatobi lima tahun ke depan.
Oleh karena itu, diharapkan masyarakat Wakatobi juga harus menggunakan kriteria budaya dalam memilih calon bupati dan wakil bupati di masa depan. Apakah selama perjalanan seorang calon, penuh dengan nilai-nilai budaya? Apakah pemikiran dan tingkah laku calon bupati dan Wakil bupati telah memenuhi standar dasar budaya masyarakat wakatobi?
Tentunya, tidak ada calon yang sesuci nabi, karena mereka manusia, tetapi jika masyarakat wakatobi mau menjadikan Wakatobi menjadi salah satu negeri yang diperhitungkan di dunia Internasional, maka indikatior dasar kebudayaaan itu harus diperhitungkan dalam pemilihan di masa depan.
Apakah calon bupati itu, masih mementingkan harta? Jika mereka masih terlalu cinta pada harta, maka itu adalah pemimpin itu pasti serakah. Jika mementingka diri dan keluarganya? maka pasti akan korupsi, jika mementingka kampung halamannya? maka ia pasti nepotisme dan jika mereka sudah mementingka hukum? maka akan ada keadilana, dan jika mereka mementingkan agamanya? maka akan melahirkan kedamaian, kesejahteraan, karena Islam adalah rahmatan lilalamin.
Kiranya, nilai-nilai kesucian merupakan indikaator dalam memutuskan siapa yang akan menjadi pemimpin Wakatobi di masa depan.