Selasa, 15 September 2015

ETNOBATANI MENGUNGKAP KEDEKATAN KEBUDAYAAN ANTARA MASYARAKAT WAKATOBI DENGAN MASYARAKAT NUSA TENGGARA TIMUR




Oleh : Sumiman Udu

Uwi pada gambar di atas adalah salah satu jenis Uwi yang dikenal oleh masyarakat Wakatobi Sulawesi Tenggara dengan nama Opa larantuka. Nama yang merujuk pada nama daerah Larantuka di Nusa Tenggara Timur. Ini menunjukan bahwa sejak dahulu kala, telah terjadi kontak dagang dalam pelayaran tradisional masyarakat Wakatobi Buton dengan masyarakat larantuka di Nusa tenggara timur. Kesadaran kolektif masyarakat Buton bahwa orang timur adalah saudara kita bukan hanya pada faham ideologis, tetapi juga dibuktikan dalam beberapa etnobotani yang ada di daerah ini.
Kosa kata etnobatani yang yang juga merujuk pada kedekatan kultural dengan masyarakat di Nusa tenggara timur adalah dikenalnya gula merah di Wakatobi dengan sebutan Gula Rote. Penggunaan istilah ini biasanya dihubungkan dengan asal-usul bahan makanan tersebut. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa Opa Parantuka merupakan salah satu jenis Uwi yang didatangkan dari larantuka. Hal ini sejalan dengan aktivitas bisnis gula aren yang sampai hari ini masih berlangsung antara masyarakat rote dan masyarakat Wakatobi.
Di samping itu, pohon kosambi yang mirip buah kelengkeng di Jawa dikenal dengan kasambi di Kupang Nusa Tenggara timur. Kedekatan nama ini, menunjukan bahwa secara kultural masyarakat Wakatobi dan Masyarakat di Nusa Tenggara Timur memiliki kedekatan kultural, karena nama-nama tanaman yang hampir sama tersebut menunjukan bahwa di zaman dulu sudah pernah ada kontak sosial.
Dalam tradisi lisan masyarakat Kapota, mereka mengatakan bahwa sebagian penduduk Kapota Wakatobi adalah sisa-sisa pasukan alor yang ditugaskan untuk membantuk menghalau parompak Tobelo dan Ternate di pulau itu. Kerja sama kesultanan Buton dengan Kerajaan Alor diperlihatkan dengan kehadiran pasukan tersebut, dan sampai saat ini masih ada sisa-sisa pasukan itu di pulau Kapota. Apakah opa larantuka hadir bersama dengan bahan makanan pasukan alor? Sampai saat ini belum ada penelitian atau data yang menunjuk ke arah bukti itu. Tetapi apakah Opa larantuka di bawa oleh para pelayar yang membeli Opa larantuka sewaktu mereka mengambil air minum di sana? Ya, terdapat juga kemungkinan. Tetapi satu yang pasti bahwa orang Wakatobi mengenal nama bahan pangan itu sebagai opa larantuka.
Pada tahun yang lalu, bupati Wakatobi Ir. Hugua bersama rombongan berangkat ke Nusa Tenggara Timur untuk menjalin kerja sama dengan salah satu pemerintah kabupaten di Nusa Tenggara Timur dengan harapan ingin membangun jalur selatan-selatan, telah melahirkan komitmen bersama untuk membuka jalur pelayaran kapal veri Wakatobi NTT. Jalur-jalur perdagangan tradisional yang pernah dihubungkan oleh perahu karoro, hendaknya dihidupkan kembali guna meningkatkan kesejahteraan dua daerah.
Keberadaan Wakatobi sebagai jalur transportasi Indonesia barat dan timur, bagian utara dan selatan, berpotensi untuk dikembangkan menjadi sentral (pasar) berbagai jenis komoditas yang berasal dari NTT, termasuk pasar gula rote, pisang, kambing, bawang merah dan ayam. Sementara dari daerah Maluku, akan datang berbagai hasil-hasil perkebunan seperti cengkeh, pala, kopra dan berbagai hasil perkebunan dan hutan lainnya. Terbukanya bandara Matahora Wakatobi telah memberikan harapan baru untuk membuka kembali jalur pelayaran tradisional dalam model transformasinya ke kapal veri, kapal cepat, dan pesawat terbang yang melayani rute NTT dan Wakatobi, dan seluruh hasil-hasil itu akan langsung didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia.

Tidak ada komentar: