Selasa, 31 Mei 2011

Senin, 30 Mei 2011

Wanianse bagian 11

Oleh: Sumiman Udu

Hari berganti minggu, minggu sudah berganti bulan, berganti tahun hingga akhinrya membuat rindu semakin menjadi dalam benak Wanianse. Keberangkatan suaminya ke rantau orang telah membuat hari-harinya berperan ganda, di samping menjadi ibu buat anak-anaknya, juga menjadi kepala keluarga kecilnya. Hari-harinya menjadi lebih pada sebuah ketegaran. Hanya kisah-kisah lamalah yang membuatnya berbahagia disaat menidurkan kedua belah hatinya.
Suatu malam, Wanianse duduk lagi di bawah temaram lampu minyaknya, di ruang tengah rumah gubuknya, ia kembali menidurkan kedua anaknya setelah makan malam. Seperti biasa ia kembali duduk untuk bercerita sambil mengupas ubi kayunya. Di ruang itulah ia selalu menceritakan berbagai kisah kepada kedaua anaknya. Kedua anaknya selalu menunut ibunya untuk bercerita sebagai pengantar tidur.
“Ina, cerita dong, mala mini saya belum mengantuk”, kata La Ijo pada ibunya Wanianse.
“Iya, Ina, ceritakan kita tentang yang bagus”, sambung Wa Leja anaknya.
“Kalian mau mendengarkan apa?” Tanya Wanianse pada kedua anaknya. Sambil tanganya mengupas ubi kayu.
“Kalau menurut saya, ceritakan kita tentang kisah Wa Ode-Ode Sandibula, ucap La Ijo, karena cerita itu sangat baik. Maka berceritalah Wanianse tentang cerita Wa Ode-Ode Sandibula.
Bagaimana, Wanianse apa kau setuju dengan kisah Wa Ode-Ode Sandibula?” Tanya Wanianse pada anak perempuannya.
“Saya belum pernah dengar itu, Ina” saya setuju saja. Maka mulailah Wanianse bercerita. Begini ceritanya Nak.
Wa Ode sandibula adalah anak seekor tikus putih. Tikus putih itu  mempunyai tujuh ekor anak, satu diantaranya  menjadi manusia  dan enam lainnya menjadi tikus. Tikus putih itu melahirkan anak-anaknya di sebuah gua, kebun milik  La Ode. Kebun itu ditanami pohon pisang. Suatu hari La Ode pergi melihat pohon pisangnya. Ternyata buah pisangnya di makan tikus.  Akhirnya ia  pergi ke kebun dan menyelidikinya hingga  di dalam gua. Ketika ia menyelidiki gua  itu, ia mendengar nyanyian  yang bersal dari dalam gua itu. Rupanya suara Bula Putih  yang sedang menyanyikan  Wa Ode Sandibula. Ia menyanyikan syairnya
“Wa Ode-Ode Sandibula, kau berbeda dengan saudara-saudaramu”
Mendengar syair itu, La Ode kemudian berkata  “Ee. Rupanya ada yang menyanyi di dalam  gua. Coba kulihat dulu” ia segera memeriksa gua itu. Tampak olehnya seberkas cahaya dari dalam gua.  Ia lalu mendekati cahaya itu, ternyata yang bercahaya adalah  La Ode Sandibula. Ketika La Ode mendekat semua tikus (saudara Wa Ode Sandibula) berlarian  tinggal seorang anak tikus yang menjadi manusia terbaring sambil menangis. Ketika La Ode mengambil anak itu,  Wa Ode Sandibula  memancarkan cahaya dan cahanya menerangi  isi gua. Ia pun dapat melihat anak itu dengan jelas. Anak tikus (yang jadi manusia) di beri nama Wa Ode Sandibula. Sementara induk Wa Ode terus  bernyanyi menyanyikan Wa Ode Sandibula, syairnya sebagai berikut
                “Wa Ode-Ode Sandibula, kau berbeda dengan saudara-saudaramu”
Saat itulah La Ode mengambil Wa oDe Sandibula dan dibawa ke rumahnya. Anak tikus putih itu kemudian di rawatnya hingga dewasa. Setelah dewasa La Ode mengutarakan maksudnya pada Wa Ode Sandibula. Akan tetapi Wa Ode Sandibula menjawab bahwa bukankah kau yang telah merawatkan hingga besar mengapa engkau mau menikah denganku? Di jawab oleh La Ode,” Ku mohon agar kau mau menikah denganku.” Karena La Ode terus bermohon pada Wa Ode Sandibula akhirnya, ia bersedia dinikahi oleh La Ode.
Setelah  mereka menikah pada saat makan malam, Wa Ode-Ode Sandibula selalu  selalu membagi makanannya dalam tiga bagian sebelum makan. Satu bagian disimpan disampingnya dan yang lainnya untuk mereka. La Ode kemudian bertanya bahwa mengapa Wa Ode-Ode Sandibula membagi makanan dalam tiga porsi? Sedangkan kita hanya berdua. Akan tetapi, dijawab oleh Wa Ode-Ode Sandibula “ Tidak ada apa-apa. Ini persiapan kalau kita kehabisan makanan dan kalau habis kita tinggal ambil.”
Suatuketika mereka makan malam kembali, Wa Ode-Ode Sandibula melakukan hal sama, yaitu setelah makan malam Wa Ode mendorong makanan ke dekat dinding kemudian meninggalkan tempat itu. setelah agak larut malam, makanan itu ternyata dimakan oleh ibunya. Keesokan malamnya, hal itu terjadi lagi. Suatu ketika La Ode melihat seekor tikus putih sedang makan makanan yang disimpan istrinya di dekat dinding. Mengetahui hal itu La Ode kemudian mengambil seekor kucing untuk dipelihara hingga besar. Setelah kucing itu besar, kucing itu mengganggu tikus putih itu makan kemudian menerkamnya. Wa Ode Sandibula menangis sejadi-jadinya ketika mengetahui hal itu. La Ode kemudian bertanya mengapa ia menangis? akan tetapi ia tidak mau menjawab.
   Ia menangis sejadi-jadinya? Ia tidak mau menjawab atau mengatakan  kalau ibunya adalah seekor tikus. Akhirnya La Ode memukul istrinya dengan bambu, La Ode memukul istrinya dengan bambu, bambu kemudian patah,  dipukul dengan kayu, kayunya patah.  Wa Ode kemudian meninggalkan rumahnya.
                Semenjak Wa Ode Sandibula meninggalkan rumahnya. Tidak diketahui lagi dimana rimbanya. Meskipun semua kampung telah didatangi. Setiap kampung yang di datangi  dan dilalui La Ode bertanya pada setiap orang yang dijumpainya. Suatu waktu ia mendatangi sebuah kampung dan bertemu dengan seseorang lalu bertanya “Apakah kalian melihat orang ini sambil menunjukkan fotonya.”
“ Siapa orang ini”, orang  kampung balik bertanya.
“Wa Ode Sandibula”  jawab La Ode.
“ Tidak, jangankan melihatnya, namanya saja baru kami dengar.”             
                Setelah sekian lama La Ode mencarinya, akhirnya ia menemukan di rumah Jamila, di ladang Kamali. Setibanya di loteng Kamali La Ode berteriak apakah ada orang ini atau  pernah mendengar namanya?”
“ Siapa namanya?”
“Wa Ode Sandibula”, kata La Ode.
Orang  yang berada di kamali  menjawab “Ada  kami melihatnya, mungkin yang ada di kamali. ”Pergilah ia ke kamali, setibanya di kamali  ia memanggil, “Apakah ada di sini yang namanya Wa Ode Sandibula.”
“Siapa?’
“Wa Ode Sandibula,” kata  La Ode.
“ Ada”, jawab orang itu
Akhirnya ia  memanggil-manggil, ”Kemarilah  Wa Ode Sandibula, kita pulang ke rumah!”
“ Tidak mau”, kata Wa Ode
“ Mengapa”
“ Tidak, saya meninggalkan rumah karena ibuku meninggal dan penyebabnya kematiannya adalah kau.”
La Ode menjawab, ”Karena setiap  kali saya tanyakan  mengapa kau selalu membagi makanan menjadi tiga bagian? kau selalu merahasiakannya. “Pulanglah! jika kau kembali ke rumah ibumu hidup kembali, ia sudah ada di rumah, ” kata  La Ode.
                Wa Ode Sandibula  bersedia  kembali ke rumahnya. Setibanya di rumah La Ode membunuh kucing itu, maka hiduplah kembali ibu Wa Ode Sandibula. Akhirnya kehidupan keluarga mereka rukun kembali.    
Setelah tertidur kedua anaknya, Wanianse menuntaskan pekerjaannya, ia memarut ubi kayunya dan menjelang tengah malam ia harus turun ke halaman rumahnya untuk mengeringkan kaopinya dengan menindisnya di tempat pengeringan yang disebut Opia yang dibuatnya di batang pohon kelapa. Ia memasangnya dan mengangkat beberapa batu lalu menyimpanya di atas papan yang menindis papan. Setelah semua batu tersimpan di atas papan, maka naiklah ia ke rumahnya untuk beristrahat.
Namun setelah ia berbaring, pikirannya terbayang pada cerita tetangganya yang menceritakan perkawinan antara Kura-Kura dengan Monyet , dimana Monyet berpura-pura menikah dengan kura-kura agar kelak ia akan membunuh si kura-kura karena selama ini selalu mengalahkan monyet.  Maka setelah Kura-kura melamar Monyet, maka monyet menerima tawaran itu, tetapi ia telah juga memikirkan agar membunuh si kura-kura kelak mereka melakukan malam pertama.
Dalam adat mereka, mereka harus menikah dengan pesta yang besar, pesta yang membutuhkan uang yang banyak sekali. Semua rakyat diberi makan. Semunya senang. Maka pernikahan pun dibuat sedemikian meriah. Tujuh hari tujuh malam pernikahan itu dilangsungkan. Menjelang pernikahan itulah Monyet menyiapkan strategi untuk membunuh Kura-kura dengan harapan kelak harta karun dan kerajaan Kura-kura di ambil alihnya.
Maka suatu malam, Monyet memanggil para anak buahnya. “Tikus, tolong beritahu lalat agar mempersiapkan bangkai yang besar, karena sebentar lagi kita akan melakukan rencana jahat kita. Kura-kura setelah peseta pernikahan dan saya resmi menjadi istrinya, maka rencana kita sudah harus dilaksanakan. Sebab kalau tidak, rencana ini akan bocor dan kura-kura akan melakukan serangan kapada si monyet.”
Maka bekerjalah tikus dengan lalat, mereka melakukan konsolidasi untuk kembali menyadarkan anak buahnya untuk tetap menggulingkan kura-kura paska pesta pernikahan. Dalam rencana mereka hanya membutuhkan tiga bulan, Kura-kura sudah harus dijadikan tersangka, dan waktu itu Monyet, lalat dan tikus harus kelihatan selalu membela kepentingan kura-kura. Sementara Kumbou akan selalu mengatur siasat itu denganmelaporkannya kepada singa agar mengadili Kura-kura atas perbuatannya mencuri pisang masyarakat.
Maka setelah pernikahan, usai sudah pesta, Monyet berpura-pura bermesraan dengan kura-kura agar kura-kura lebih percaya bahwa monyet adalah istri yang setia.
“Suamiku, bagaimana kita merencakan keluarga kita, saya akan serahkan pada kakanda seorang, saya akan selalu mendukung seluruh perbuatanmu. Kakanda, yang baik hati, saya tidak menyangka kalau kakak memilih ku sebagai istri”, rayu monyet pada suaminya.
“Istriku, banyak gadis cantik yang kuincar, tetapi pilihanku jatuh padamu, bersyukurlah sayang, karena kau sangat cantik dan kaya”, rayu kura-kura pada istrinya.
Maka berjalanlah pikiran jahat si Monyet pada suaminya. Ia sudah mulai memikirkan untuk membunuh suaminya dengan cara yang halus. “Saya ingin membunuh suamiku, agar saya dapat memiliki seluruh harta dan kekuasaan suamiku, saya akan menjadi raja.
Maka setelah tiga bulan perkawinanannya, Kumbou telah melancarkan serangan atas pencurian yang dilakukan oleh kura-kura. Maka tersebarlah kabar atas pekerjaan kura-kura, hingga akhirnya di dengar oleh Singa. Maka mendadak singa mengutus tim penyelidik untuk meneliti kelakuan Kura-kura, dan penelitian pun dilakukan pada kasus suaminya.
Monyet tetap tenang, tetap mendukung suaminya dalam menghadapi masalah, tetapi singa yang menjadi raja hutan berusaha untuk mengadili kura-kura atas pencurian yang dilakukannya.
Suatu hari, singa memanggil kura-kura untuk menghadiri acara pengadilan, maka pagi itu monyet mengatar suaminya dengan air mata, maka tak lama kemudian, kura-kura terbukti mencuri pisang masyarakat. Lalu dijatuhilah kura-kura hukuman mati oleh Singa. Dan betapa senangnya monyet mendengar berita itu.
Wanianse terbayang pada cerita tentangganya itu, betapa sadisnya monyet yang melakukan rencana busuk di balik sebuah perkawinan.

Sabtu, 28 Mei 2011

Mahfud MD: Indonesia dalam Keadaan Bahaya

Mahfud MD. TEMPO/Imam Sukamto

TEMPO Interaktif, Bantul - Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD memberi pernyataan mengejutkan. Kata dia, saat ini negara Republik Indonesia dalam keadaan bahaya. Ancaman bahaya tidak datang dari luar negeri, melainkan justru datang dari dalam negeri sendiri.

"Ancaman itu adalah proses penegakan hukum, keadilan, kebenaran. Proses pembangunan demokrasi mengalami kemacetan karena ada saling sandera," kata Mahfud usai pelantikan pengurus Ikatan Keluarga Alumni Universitas Islam Indonesia di Pyramid Resto, Bantul, Sabtu, 28 Mei 2011.

Ia mencontohkan maksud sandera itu. Kata dia, kalau si A melakukan korupsi besar sulit diselesaikan secara hukum karena si A sudah menyandera si B sebagai orang yang menegakkan hukum. Sementara, si B telah disuap. Ketika si B menyuruh si C hal tersebut juga tidak bisa karena si C juga telah disuap. "Hampir tidak ada kekuatan yang dapat menggunting ini," ujarnya. "Ketika saat ini ada kasus diributkan, pada akhirnya diambangkan.”

Menurut Mahfud, sampai saat ini tidak ada satu pun kasus-kasus besar di Indonesia yang diselesaikan sampai ke ujung-ujungnya. Bahkan, kata Mahfud, semua kasus yang besar "diselingkuhkan" secara politik. Ketika ada kasus besar sudah sangat parah maka dimunculkan lagi kasus baru sehingga kasus lama hilang. "Ini sangat berbahaya bagi kelangsungan bangsa dan negara," ujarnya.

Berdasarkan fakta sejarah dan berdasarkan ajaran agama apa pun, suatu negara yang tidak mampu menegakkan keadilan, "tinggal menunggu waktu untuk hancur."

Ia mencontohkan, Kerajaan Majapahit, Demak, Mataram, di mana kerajaan yang semula jaya tiba-tiba runtuh karena ketidakadilan.

Mahfud juga memberi contoh lain yang terjadi saat ini. Seseorang yang diduga melakukan tindak pidana, setelah diadili dia berlindung ke banyak orang. Ketika kasus yang melibatkannya tak bisa dielakkan, orang itu mengancam akan membongkar tindak pidana yang dilakukan karena ia mengetahuinya.

"Maka dibutuhkan pemimpin yang bersih untuk memberantas tindakan sandera-menyandera yang menyebabkan negara dalam kondisi bahaya," kata dia.

MUH SYAIFULLAH

Rabu, 25 Mei 2011

Tiga Artikel yang Menjadi Polemik dalam Dunia Akademik

"Tiga artikel tentang PERNASKAHAN BUTON yang Sekarang menjadi polemik dalam Dunia Akademik Kita. Untuk membaca tiga artikel yang dipolemikan oleh Dr. La Niampe dengan Suriyadi Sunuri tentang orisinalitas karya. Polemik itu, tentunya harus dipahami dalam konteks yang ilmiah, dimana polemik itu, hanya dapat dibuktikan dengan adanya bukti atau fakta. Karena hanya data dan faktalah polemik itu akan dapat dipahami secara akademis. Untuk mendapatkan fakta tersebut, maka berikut ini tiga karya mereka tersebut perlu dibaca sehingga semua orang dapat menilai, sehingga terhindar dari isu-isu yang tidak didasari oleh data yang valid. untuk membaca ketiga artikel itu secara lengkap klik disini

Minggu, 08 Mei 2011

“Surga” Nyata Bawah Laut Wakatobi dan Peta Benua Atlantis yang Hilang

Oleh:
Sumiman Udu

Berdasarkan Arysio Santos, dalam bukunya "Atlantis The Lost Continent Finally Found" dikatakan bahwa benua yang hilang itu berada di timur jauh dan barat jauh, dan benua yang hilang itu berada di antara  benua Amerika dan Afrika, dan menurut beliau benua itu bukanlah samudra Atliantik yang kita kenal dalam dunia modern sekarang, melainkan benua Hindia (Indonensia sekarang), ia berada di antara dua samudra, yaitu pasifik dan Hindia, kemudian negeri yang bermartabat itu memiliki kesejahteraan yang tinggi, berbudi mulia, "tanah suci" tanah yang keramatkan, masyarakatnya sejahtera, tetapi sekarang negeri itu telah lenyap hanya karena kebobrokan pemimpinnya, maka dilanda bencana dasyat dan sampai sekarang negeri itu abadi di dalam lautan, dan tinggal gunung-gunung tinggi yang menjulang, dan kini menjadi daratan yang dikenal sekarang sebagai Indonesia.

Prof. Santos melihat itu ada di Indonesia, tetapi kalau kita lihat lebih jauh lagi, maka pertemuan dua samudra itu berada di Wakatobi, oleh karena itu, Entah sengaja atau tidak sengaja, pemerintah kabupaten Wakatobi menetapkan Visi Wakatobi sebagai "Surga nyata Bawah laut di jantung segi tiga karang dua" merupakan daerah surga yang sejak dulu sudah dikenal dalan berbagai kitab suci agama-agama kuno.

Keindahan bawah Laut Wakatobi, bukanlah hal yang baru, tetapi dalam berbagai naskah kuno dunia, dalam berbagai peradaban di dunia menyebutkan bahwa daerah "Surga itu" merupakan taman-taman yang indah, ditumbuhi bunga-bunga dan segala keindahannya, dan juga dihuni oleh orang-orang yang "suci" orang-orang yang berbudaya dan bermartabat. Tentunya ini membutuhkan penelitian yang lebih jauh lagi, karena negeri Atlantis menurut Prof. Santos adalah negeri yang bercirikan pantai yang indah yang menghadap ke dua samudra.

Tentunya, ini adalah sebuah kebetulan atau disengaja, maka untuk mewujudkan Wakatobi sebagai "negeri Surga nyata bawah laut" diperlukan beberapa persyaratan yang dikemukakaan oleh Prof. Santos tentang manusia yang mendiami negeri surga yang kaya raya itu, bahwa orang-orang yang mensucikan dirinya, melenyapkan nafsunya, terutama untuk kepentingan pribadi dan golongannya, tetapi orang-orang yang mementingkan kepentingan keadilan dan kesejahteraan rakyatnya. Mereka itulah yang menghuni daerah “surga” itu.

Kalau kita merujuk jauh ke dalam sejarah dan peradaban Buton yang merupakan induk dari Wakatobi di masa Lalu, orang-orang tua buton dapat dikategorikan sebagai generasi yang bermartabat, dan negeri yang disucikan (paling tidak) menurut pandangan dunia mereka. Tetapi kalau kita melihat paham Kangkilo dalam masyarakat Buton sebagai soft structure berpikir mereka, maka kita dapat memahami mengapa negeri itu disebut sebagai "surga" dan mengapa negeri itu "disucikan".

Dalam Faham Kangkilo, orang buton mengenal bagaimana cara agar ia dapat mensucikan dirinya, baik lahir maupun batinnya. Merek mengenal kangkilo awal maupun Kangkilo akhir. Dengan mensucikan dirinya, maka orang Buton atau orang Wakatobi tidak akan mengambil materi yang bukan haknya, dan masyarakat Wakatobi -Buton juga tidak akan mengotori Tanahnya dengan Kelakuannya, perkataannya, matanya, tangannya, dan kotorannya. Sehingga kata "surga" atau tanah yang "disucikan" dalam pemikiran Prof. Santos sebagaimana di buku tersebut, memiliki referesni untuk menuju ke negeri para resi yaitu negeri Buton atau negeri dimana faham Kangkilo itu pernah ada atau pernah dihidupkan. Namun di akhir kesadaran ini "terbersit senyum pahit" sebab pertanyaan mulai muncul, Masikah faham Kangkilo itu menjadi milik masyarakat Buton? hanya mereka yang dapat menjawabnya sekarang. Dan kalau Syarat Kesucian itu tidak ada lagi, maka impian Prof. Santos untuk mendapatkan negeri yang hilang atau "Surga" itu jangan berpikir untuk merujuk kepada Buton terlebih pada Buton hari ini. 

Di sisi yang lain, Wakatobi yang merupakan bagian dari Buton dan kini menjadikan "Surga Nyata Bawah Laut" sebagai Visinya, apakah telah menyadari syarat itu untuk mewujudkan negeri “Surga” dan “tahan yang disucikan” itu? Maka tentunya sebagai negeri para resi atau masa lalunnya negeri yang indah dan sejahtera sebagaimana cita-cita Wakatobi dewasa ini, syarat yang disebutkan Prof. Santos sebagai negeri yang hilang itu, harusnya dimiliki oleh masyarakat Wakatobi. Karen tampa menciptakan manusia yang suci, yang berkeadilan, damai dan Sejahtera, maka impian Wakatobi hanyalah sebuah mimpi yang tidak akan pernah terwujud, peta Atlantis Prof. Santos, harus dijauhkan dari daerah ini, walaupun secara geografis Wakatobi berada pada pertemuan laut dari dua Samudra, yaitu laut Banda (pasifik) dan laut Flores (Samudra Hindia).

Hanya saja, pertanyaannya adalah apakah faham Kangkilo sebagai kekuatan kultural dan menjadi syarat negeri "surga" yang menjadi misi Wakatobi saat ini masih dipahami atau diamalkan dalam kehidupan masyarakat Wakatobi - Buton? Tentunya, ini hanya dapat dijawab oleh generasi Wakatobi - Buton hari ini. Hal ini, Syarat mutlak dari seluruh ajaran agama di dunia, baik dalam dunia tradisional maupun modern, kesucian menjadi prasayarat untuk hidup di dunia “surge” atau apa yang disebut dalam bahasa Arab disebut sebagai Jannah yang berarti taman.

Untuk mendeteksi apakah masyarakat Wakatobi masih menggunakan Faham Kangkilo sebagai syarat masyarakat "Surga' dalam buku Atlantis tersebut, dapat dilihat dari pola hidup mereka sekarang ini. Misalnya, masihkah mereka menjaga kesucian diri mereka dari memakan makanan yang dapat mengotori tubuh, pikiran dan jiwa mereka, misalnya korupsi, mencuri, merampok dan lain-lian yang dapat dikategorikan bukan haknya, atau sekurang-kurangnya adalah hak orang lain? atau mampukan mereka mensucikan lingkungannya dengan tidak mengotori lingkungannya dan manusianya dengan kotoran fisiknya, misalnya perkataanya yang menyakitkan orang lain, perbuatanya yang menyakiti orang lain, perbuatannya yang merusak lingkungan? atau dalam bahasa agamanya, sudahkah dia adil dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya?

Saya kira, dongeng mengenai Benua Atlantis yang di ceritakan oleh Plato, agama-agama besar di dunia, Hindu, Budha, Islam, Kristen dan Yahudi itu dan terakhir adalah wacana narasi yang ditulis oleh Prof. Santos harus ditangkap maknanya, bahwa jika di dalam suatu negeri itu dipinpin oleh pemimpin yang pembohong, serakah, tamak, dan bajingan, maka negeri itu bukan menuju kepada suatu tatanan masyarakat sejahtera sebagaimana dongeng negeri "surga' itu, tetapi justu akan menuju kepada suatu kehancuran yang mengerikan dan bisa jadi akan menjadi negeri yang tenggelam kambali sebagai kutukan yng diberikan kepada masyarakat Atlantis yang hilang itu. Demikian juga dengan Buton yang banyak disebutkan sebagai negeri para resi, tetapi sekarang, apakah masih pantas, kalau seluruh kehidupan masyarakatnya sudah dipenuhi dengan intrik politik yang kotor yang lahir dari orang-orang yang tidak lagi mengenal dirinya dan kediriannya, "Kangkilo" sebagai prasyarat telah menghilang darinya.

Oleh karena itu, Visi Wakatobi, "Surga Nyata Bawah Laut di Jantung Segi Tiga Karang Dunia" merupakan simbolisasi sepanjang sejarah umat manusia dimana benua Atlantis yang merupakan pertemuan dua samudra dapat dipahami. Hanya saja untuk mewujudkan “Surga Nyata” tersebut, dituntut agar manusia di daerah itu memiliki karakteristik sebagai orang-orang yang mampu mensucikan dirinya dari segala pemikiran, jiwa dan tindakan yang dapat mengotori diri dan keluarganya, sehingga akan terlahir suatu komunitas yang indah di dalam taman "Surgawi” yang diidamkan oleh masyarakat Wakatobi di masa depan. Sekaligus yang dicari oleh umat manusia selama berabad-abad dalam upaya mengangkat kembali tata masyarakat baru yang diidamkan oleh seluruh peraban manusia.

Namun, tidak menutup kemungkinan, ketika nilai-nilai moral dalam buku Atlantis itu ditanamkan kembali di Wakatobi dan Buton pada umumnya, dimana pemimpin dan masyarakatnya menanamkan faham "Kangkilo" sebagai syarat untuk menciptakan masyarakat "Surgawi" maka tidak menutup kemungkinan untuk hidupnya kembali tatanan masyarakat sebagai mana yang diimpikan masyarakat Wakatobi saat ini, yaitu tatanan masyarakat "Surga" yang di dalamnya hidup orang-orang suci, damai, adil dan sejahtera. Ha ha, (saya tertawa sedikit) karena saya teringat pada tulisan John Man ketika hampir menuntaskan tulisannya tentan kisah Jengis Khan sekitar abad 12 Masehi, dalam salah satu paragrafnya ia membuka  kalimatnya dengan sebuah keraguan, sekaligus harapan dengan mengatakan “kisah ini adalah suatu omong kosong” yang dapat diwujudkan sebagai sebuah mimpi panjang umat manusia yang ada dalam berbagai kita suci kuno, impian dari kitab berbagai agama, yang bisa jadi ditemukan di negeri Wakatobi atau dapat dimunculkan tatanan “Surga” atau “tanah yang suci” itu di Wakatobi. Wallahu Alam.
Peta Atlantis yang Hilang di mana Wakatobi berada.