Sabtu, 30 April 2011

Wanianse BAGIAN 9


Oleh:
Sumiman Udu
Yogyakarta, 30 April 2011

Menjelang subuh, suara azan subuh membangunakan seluruh isi alam. Sementara mentari sudah mulai menampakkan sinarnya di ufuk timur. Terbangunlah Wanianse untuk menyiapkan makanan untuk dua anaknya. Ia akan menitipkan kedua anaknya pada tetangganya, dan untuk itu ia harus menyiapkan bubur yang akan menjadi sarapan anaknya sebelum mereka berangkat ke rumah nenek. Sementara beberapa perempuan lain di kampung itu sudah menyiapkan hal yang sama untuk pergi ke kebun.
“Uhaamo ina Wa Leja, omotaamo na buburu?” Panggil tetangganya dari luar rumah. Di dalam rumah, Wa Leja dan La Ijo masih tertidur.
“”Saya makan dulu sedikit,” sahut Wanianse dari dalam rumah. Sebelum ia meninggalkan rumah, ia datang membisik anaknya La Ijo agar membantu adiknya makan bubur sebelum ke rumah nenek.
Wanianse keluar dari rumah menuju, halaman rumah bertemu dengan tentangganya. Di belakang rumah keleunya sudah siap dengan kulit ubi kayu di dalamnya. Ia membawanya ke kebun untuk dijadikan pupuk kompos. Biasanya kalau bukan di kebun opa (uwi) di simpan berarti di bawah ubi kayunya atau kaujawanya.
Maka berangkatlah perempuan-perempuan perkasa itu untuk bergotong royong membuka lahan baru, maklum bulan itu adalah memasuki pertengahan oktober, satu setengah bulan lagi hujan akan turun. Maka mereka pun melakukan pohamba-hamba membuka kebun atau ladang baru. Sebuah tradisi yang sudah mereka dapatkan turun temurun.
“Oe Waa nu mai, beberapa bulan terakhir ini saya tidak dapat lagi membeli nasi untuk buburnya anak-anakku”, ucap salah seorang teman Wanianse. Sementara Wanianse yang berada di belakangnya di jalan setapak itu, terbayang pada keuangannya dan juga teringat pada persediaan beras yang ada di rumahnya. Ia juga teringat pada suaminya, yang tak ada kabar beritanya di negeri Jiran.
“Oho, Wa anu mai, saya juga sudah merasakan beratnya menyiapkan makanan untuk anak-anak kita”. Bagaimana nanti kalau mereka sudah masuk sekolah, makannya saja sudah susah,” ungkap Wanianse.
Setiba di kebun tempat mereka bergotong royong, maka terkumpulah mereka sebanyak 25 orang ibu-ibu muda. Mereka pun memulia membersikah kebun itu mulai pukul 06.00 sampai 09-00, tiga jam bekerja bersama dan selebihnya mereka akan pergi ke kebunnya masing-masing untuk mencari sayur atau ubi kayu atau makanan kambingnya. Mereka berpisah pisah setelah selesai. Namun di saat mereka mebersihkan kebun tersebut, salah seorang diantara mereka melantunkan kaбanti sebagai berikut.
/Wa ina na runga-rungasu/
Kunamimo nteranakaa

Ibu, aku masih terlalu muda
Penderitaan saya sudah rasakan.

Maka tidak lama kemudian, menyahutlah yang lain,
Te moniasi nu wa ina
Kusaka emo nteiyaku

Kemiskinan dari ibuku
Saya telah mewarisinya
 Teks kaбanti pun saling bersahutan, merefleksi pekerjaan mereka. dan tepat pukul 09.00, mereka menoleh ke belakang, dan ladang yang sudah dibersihkan sudah hampir mencapai dua hektar. Mereka semua tersenyum, karena tugas mereka sudah mulai kelihatan. Keesokan harinya kegiatan itu pun harus dilakukan sampai semua kebun anggot kelompok itu mendapatkan giliran.
Sepulang dari tempat itu, Wanianse dan tetangganya tadi pergi untuk mencari daun melinjo atau emba untuk sayur mereka. mereka melawati bekas perkampungan lama yang dipidahkan oleh pemerintah sekitar tahun 70-an untuk memanjat kelapa muda. Maka setiba di sana mereka melihat kelapa muda. Rasa haus mereka membuat mereka memanjat kepala muda itu.
Maka memajantlah teman Wanianse dan ia berhasil mendapatkan kelapa muda dan sira untuk campuran sayur emba. Maka setelah merek meminum dan masing-masing makan satu buah, sisanya dibagi untuk anak-anak mereka.
Setiba di rumah, Wanianse tidak menemukan anak-anaknya, karena pasti masih di rumah ibunya. Maka tidak lama kemudian, ia pun melepaskan kelaunya dan menuju rumah ibunya untuk menjemput kedua anaknnya. Setiba di rumah nenek, kedua anaknya baru saja selesai makan bubur labu yang dicampur dengan kelapa, garam dan bawang. Wanianse masih mendapatkan jatah itu, dan setelah itu ia pun membawa kedua anaknya untuk pergi ke molii, atau mata air di pantai, kebetulan metting.
Setiba di rumahnya, Wanianse mengambil satu buah kelapa muda dn memberi makan kedua anak kecilnya itu. Wa Leja duluan kemudian La Ijo.
“makan cepat nak, supaya kita ke molii,” dan  kedua anaknya serempak berteriak
“horee, kita akan pergi berenang’.
Setelah mereka minum dan makan kelapa muda itu, Wanianse mengambil Loyang besar, diikatnya dengan tali untuk tempat menarik Loyang itu, saat mengupulkan bulu babi di laut. Ia juga naik ke rumah untuk mengambil kasoami, mereka akan makan di molii. Seturun dari rumah, kedua anak Wanianse sudah siap berangkat ke pantai dan mereka berlari mendahului ibunya.
Setiba di pantai, kedua anak Wanianse terus berlari menuju molii.
“hati-hati nak, jangan berlari, licin itu batu,” teriak Wanianse memperingatkan kedua anaknya. Dan tidak lama kemudian, Wanianse memebrikan intruksi pada La Ijo agar menjaga Wa Leja untuk tidak ikut mama ke tengah laut.
Maka dengan menarik loyangnya, Wanianse memasuki lautan dangkal itu mencari kerang-kerang dan terutama bulu babi. Sementara soaminya di simpan di molii atau mata air. Satu persatu bulu babi mulai dipungut oleh Wanianse. Dan sekitar dua jam, menjelang tengah hari, Wanianse kembali pada anak-anaknya, dan menemukan kedua anaknya sudah kedinginan mandi dan bermain. Mereka sudah lapar, maka Wanianse menyuruh La Ijo dan Wa Leja untuk makan, kebetulan ia menemukan beberapa kawu atau kerang untuk lauk kasoaminya. Maka mereka pun makan di Molii.

“Mombaka, Nak?”, Tanya Wanianse pada Wa Leja dan La Ijo ketika ia melihat kedua anaknya sangat lahap memamah kasoami dan kawu. Wanianse membelah bulu babi atau lei dan ternyata telurnya pun sangat baik, maklum tadi makam lima belas bulan di langit, jadi musim telur bulu babi atau lei.
Dalam hatinya, Ya Allah, betapa besar rezki yang kau berikan pada kami umatmu, dan jadikanlah kami umat yang bersyukur. Setelah selesai ia makan, ia memiliah beberapa kerang, kiwolu, koti dan kempa lalu dipecahkan dan isinya dipersiapkan untuk ondohi sayur untuk makan malam sebentar malam.
“Nak, ia manatap kedua anaknya, dan berkata, “Nak, kelak kalian kuliah agar kalian tidak menjadi seperti mama, dari kebun langsung ke laut. Lihat kulitnya mama, hitam ‘kan, tidak terurus. Untuk itu kalian berdua harus sekolah dan kuliah, karena sepengetahuan ibu, sekolahlah yang membuat orang dapat berubah.
“Tapi, dari mana ibu dan bapak dapat uang untuk kuliah kami, Bunda? Tanya La Ijo pada ibunya, sedangkan Wa Leja hanya tersenyum tak tahu apa-apa.
“berdoalah Nak, ibu dan ayah akan berusaha untuk menyekolahkan kalian berdua. Kau ingatkan, dalam cerita tadi malam, La Ndoke kene Labuae waktu pergi ke negeri surga, masyarakat disana sekolah semua.
“Iya Ina, saya dan adikku akan sekolah. Tak terasa, air lau sudah mulai pasang, dan merekapum bergegaslah pergi mandi dan mereka pulang. Setiba di rumah, mereka bertiga langsung tidur, tetapi tidak lama kemudian, ketika Wanianse tertidur, kedua anaknya keluar bermain-main, dan setelah waktu ashar, La Ijo dan Wa Leja pergi ke langgar yang tidak jauh dari rumahnya untuk menigkuti pengajian. Mereka berdua termasuk murid yang rajin dan pintar.
Menjelang sore, Wanianse terbangun, dan ia hanya memeriksa pakaian ngaji anak-anaknya, dan ia pastikan bahwa kedua anaknya sudah ke mesjid. Maka ia pun memasak kasoami dan sayur untuk santap malamnya. Di hatinya, betapa indahnya kalau ada suaminya, menikmati dan makan malam bersama. Tetapi di dalam hatinya, tetap bersabar, karena hanya dengan merantau seperti itu mereka dapat mengumpulkan uang untuk kuliah kedua anaknya. Karena mereka tidak mau gagal kuliah sepetrti mereka hanya karena kemiskinan.
Menjaleng malam, Wa Leja dan La Ijo pulang, dan mereka tidak lagi ke mesjid untuk magrib, mereka magrib bersama ibunya, karena setelah magrib mereka akan makan dan setiap hari, mereka akan bercerita atau melantunkan kaбanti.
“Ina, mala mini jangan kita cerita, ibu menyanyi saja,” pinta Wa Leja pada Wanianse.
“ok, jawab ibunya,” mendengar itu, Wa Leja yang tadinya sudah baring di dekat La Ijo, bangkit dan naik ke ayunan. Maka menyanyilah Wanianse malam itu sebagai pengantar tidur kedua anaknya.
Sambil mengayunkan Wa Leja yang ada di ayunan, tembang-tembang kaбanti memenuhi ruangan itu.
1.       E      bue-bue        Wa-mparo ðia
E    ku-бangune      maka no-бangu
Ayun-ayun moga ia terlelap
Kubangunkan baru terbangun

2.       E      wa ina,      pia      bue   naku
E   no-lembe           na  parangkai-su

Ibu, hati-hatilah mengayunku
Tidak kuat peganganku

3.      E    wa ina,  alimo  ka’asi!
E    aneðo  papongke  morunga

Ibu, jangan kasihan!
Masih papongke[1] muda

4.       E      te   Wa ina   buntu   no-hoti
E    ði   kaburi      na ngkombitia

Ibu hanya memberi makan
Pada pasangan tempat mengabdi

5.       E    wa ina    ane     ngko-moha’a?
E      ara   ku-mala       nte laro-su

Ibu, apa yang bisa kamu perbuat?
Kalau saya mengikuti kata hatiku

6.      E    wa ina, ara     ngku-molengo
E      ita-mo     te     ðongka-su              ana

Ibu, kalau saya lama
Lihatlah aku yang terbawa arus ini

7.       E    wa ina na ðongka-su                ana
E     te        ðongka         mbea  maliako

Ibu, terbawa arusku ini
Terbawa arus yang tidak akan kembali

8.      E      laбimo       te     ðongka       nu-hengge
E     ane   no-torampe     ði   tana

Masih mendiangan terbawa arusnya hengge[2]
Masif bisa terdampar pada meti

9.      E   ku-ðumongka-ðongka hengge-mo
E    ku-maburi              te     ngkapala-su

Saya akan terbawa arus (layaknya) hengge
Saya akan membelangkan kepalaku

10.   E     wa ina ara    ngku-tondu-mo
        E     бara-mo       nu - бohati  naku

Ibu, kalau aku sudah tenggelam
Janganlah kamu bebani aku lagi

11.   E   na   бoha-nto     salimbo
E   te   paira   na   nsababu-no?

Beratnya kita sekampung
Apa yang menjadi penyebabnya?

12.   E    sababu  te   mingku paira?
E      ðimai-no    kua   iaku

Sikap apa yang menjadi penyebabnya?
Yang datangnya dariku

13.      E     no-mingku    toumpa    na mia?
E    no-awane          na    ngkakoбea

Bagaimana orang sikap?
Mereka mendapatkan kebenaran

14.      E    wa ina mou ngku-tondu-mo
E    бara    nu-ala        moбoha-ne

Ibu, biar aku sudah tenggelam
Jangan diambil dengan berat hati

15.      E    mai      to-бawa      moane-’e
E    na  tondu       buntu   sabantara

Mari kita bawah secara jantan
Tenggelam yang hanya sebentar

16.       E ta’amo    ane     ngku-roða-ne
E    na    jandi   mini  mansuana

Semoga aku dapat mengingatnya
Janji dari orang tua

17.       E    te  mansuana   nto-tipu-ne
E     бisa     ðitonde          nu-mata-no

Orang tua kita tipu
Biar di bola matanya

18.       E    nggala    ðoimo  te   wa ina
E    to-ala         te     talikua-no

Kalau tinggal ibu
Kita ambil waktu ketika ia pergi

19.      E   nggala   te   panganta    wa ina
E    to-hoja-ne         te    ntagambiri

Kalau tinggal ibu yang tidak suka
Kita rayu dengan gambir

20.      E    wa ina   buntu no-pokana
E   na poilu kene panganta

Pada Ibu hanya sama
Antara suka dan tidak suka

21.      E    te  poilu’a ngku-poilu
          E    Wa ku-ambanga  te   mpogau’a

Kalau suka aku (tetap) suka
Tapi aku malu mengatakannya

22.      E     ara   nu-ambanga gau-mo
E     la’a   ku-potumpu       ako-ko

Kalau kamu malu bicaralah (bahwa kamu malu)
Nanti saya suruh orang untuk mentunangkan kamu

23.      E    te   nguru-mami  ngko-sampi-mo
E    ko-potu-potumpu mbeado

Kabarnya, kami sudah putus
Padahal kami belum bertunangan

24.      E   hempitu    ku-sampi   sarondo
E   nggala no-miri      na songko-su

Tujuh kali aku ditolak dalam semalam
Biar songkokku tidak miring

Tak terasa, kedua ana Wanianse pun sudah tertidur, ia pun terlelap, karena besok harus ke kebun lagi untuk memberikan giliran pada temannya yang belum mendapat giliran untuk dibersihkan kebunnya. Rupanya Wanianse merefleksi perjalanan hidupnya dalam lantunan kaбanti yang dinyanyikannya.
Bersambung………………………….











[1] Papongke : jarak
[2]siput laut

Jumat, 29 April 2011

Film Suku Bajo Raih Penghargaan

oleh:
Jodhi Yudono | Rabu, 27 April 2011 | 04:26 WIB

 
gadogado.exblog.jp
Film The Mirror Never Lies
JAKARTA, KOMPAS.com--Film "The Mirror Never Lies" yang mengangkat kisah Suku Bajo di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, meraih penghargaan Honorable Mention dari Global Film Initiative.
Film yang dibintangi anak suku Bajo itu dirilis perdana di Studio XXI FX Plaza, Jakarta, Selasa, antara lain dihadiri Nadine Chandrawinata dan Garin Nugroho selaku produser, Kamila Andini sang sutradara, dan para pemain.
Penghargaan Honorable Mention diperoleh pada 14 April 2011 berdasarkan kriteria penyajian artistik, alur cerita, dan perspektif budaya dalam kehidupan sehari-hari.
Film tersebut merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Wakatobi, World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia, dan SET Film Workshop.
"Ide film ini terinspirasi dari keadaan laut kita dan saya juga sebagai salah satu pencinta laut ingin mengangkat tentang kebudayaan Suku Bajo," kata sang sutradara, Kamila Andini.
Menurut Kamila Andini yang akrab disapa Dini itu, film "The Mirror Never Lies" merupakan film layar lebar pertama yang disutradarainya. Sebelumnya ia sudah menghasilkan berbagai karya berupa video klip dan FTV.
Film yang dibintangi Atiqah Hasiholan, Reza Rahadian, dan tiga anak suku Bajo Wakatobi, Gita Novalista, Eko, serta Zainal membutuhkan waktu lebih dua tahun untuk penyelesaiannya.
"Butuh lebih dua tahun proses pembuatannya karena banyak keputusan yang diambil dan harus melakukan riset, sedangkan dokumentasi tentang Suku Bajo sangat sulit didapat. Selain itu proses syuting juga terkendala cuaca," katanya.
Ia mengemukakan, film tersebut bukan film dokumenter namun merupakan film keluarga yang mengangkat kearifan lokal Suku Bajo melalui kehidupan sehari-hari dan budayanya.
Film tersebut rencananya tayang perdana di berbagai bioskop di lima kota termasuk nonton bersama masyarakat di Wakatobi.
Selain itu, sudah ada beberapa negara yang memesan untuk penayangan film itu di antaranya Australia, India, Hongkong, dan Malaysia.
Direktur Marketing dan Komunikasi WWF-Indonesia, Devy Suradji, mengharapkan, melalui "The Mirror Never Lies" semakin banyak pihak memberi perhatian lebih untuk menjaga kekayaan hayati di kawasan Segitiga Terumbu Karang Dunia itu.
"Ini merupkan film WWF pertama yang bukan dokumenter, alasan mengangkat Suku Bajo di Wakatobi karena mereka yang paling siap meskipun sebenarnya WWF ingin mengangkat semua kebudayaan dan kekayaan hayati di daerah lainnya," kata Devy.

MENGUNGKAP KETOKOHAN MUHAMMAD IDRUS


 Oleh

Dr. La Niampe, M.Hum[2]

Muhammad Idrus adalah Putra Sultan Buton ke-27 bernama La Badaru (1799-1823). Ia diperkirakan lahir pada akhir abad ke-18. Dilihat dari silsilah keturunannya, Beliau termasuk keturunan ke-16 dari raja Sipanjonga; raja Liya dari tanah Melayu yang pernah berimigrasi ke negeri Buton (lihat silsilah pada lampiran). Dalam naskah ”SILSILAH RAJA-RAJA BUTON” Muhammad Idrus memiliki 33 orang istri dan dikaruniai anak berjumlah 97 orang, dua orang di antaranya terpilih menjadi Sultan Buton, yaitu Muhammad Isa sebagai Sultan Buton ke-31 (1851-1861) dan Muhammad Salih sebagai Sultan Buton ke-32 (1861-1886).
2. Nama dan Gelar
            Muhammad Idrus adalah nama lengkapnya. Selain itu ia juga memiliki cukup banyak tambahan atau gelaran sebagai berikut:
a.      La Ode
La Ode adalah gelaran bangsawan Buton yang tertinggi untuk golongan kaumu yang menduduki jabatan penting dalam struktur pemerintahan. Golongan bangsawan lainnya setelah kaumu sebut walaka, yang biasanya menduduki jabatan adat. Selain golongan kaumu dan walaka terdapat pula golongan papara dan batua. Gelaran ”La Ode” yang dipakai sekarang ini di lingkungan masyarakat Buton tidak lagi dipakai sebagai pemangku jabatan dalam struktur pemerintahan tetapi hanya penanda keturunan dari golongan kaumu.
b.      Oputa Mokobaadiana
Gelaran Oputa Mokobaadiana (bahasa Wolio) yang artinya ”Sultan Pemilik Kota Baadia. Nama ini dikaitkan dengan pembukaan Kota Baadia yang aslinya masih berstatus hutan, Muhammad Idruslah yang membukanya hingga menjadi sebuah kampung atau kota yang ramai (Zahari, 1977: 25).
c.       Oputa Ikuba
Gelaran Oputa Ikuba (bahasa Wolio) artinya ”Sultan yang Menggali Kolam. Nama ini dikaitkan dengan aktivitas Muhammad Idrus, yaitu beliu pernah menggali kolam air, tepatnya di samping kiri Masjid Baadia (Zahari, 1977: 28).


d.      Oputa Mancuana
Gelaran Oputa Mancuana (bahasa Wolio) artinya ”Sultan Tua” yang identik dengan ”Kaimuddin I”. Gelaran ini dikaitkan dengan kehadiran dua orang putranya masing-masing Muhammad Isa ”Kaimuddin II” dan Muhammad Saleh ”Kaimuddin III” yang dalam proses pengangkatannya sebagai sultan tidak melalui pemilihan tetapi dari putra mahkota. Menurut Zahari (1977: 28) untuk membedakan antara bapak dan anak, maka untuk Muhammad Idrus diberi gelar Oputa Mancuana atau Sultan Kaimuddin I.
e.       Sultan Khalifatullah
Gelaran ini sebagaimana yang dikemukakan oleh H. Abdul Ganiu bahwa ”dinamakan dia Sultan Butun itu ”Sultan Khalifatullah” karena wajib al-wujud mempunyai dua hakikat dirinya; pertama hakikat wajibnya karena ia asal usul bangsa sultan (bangsawan), dan kedua, hakikat wujudnya karena ia lagi-lagi tiada mempunyai kekurangan lagi suci. Ia mencapai daripada pekerjaannya.” (La Niampe, 2002).
f.        Sulutani Moadilina dan Aedurusu Matambe
Kedua-dua gelaran ini hanya ditemukan pada syair-syair mengenai ajaran tasauf berbahasa Wolio seperti syair Bula Malino dan syair Nuru Molagi. Pada naskah-naskah yang masih berstatus asli tertulis ”Aedurusu Matambe” yang artinya ”Idrus yang hina”. Dan pada naskah-naskah yang berstatus salinan (disalin orang lain) tertulis ”Sulutani Moadilina” artinya ”Sultan yang Adil”.
Dalam karya-karya yang berbahasa Arab  seperti Kasyfu al-Hijab fi Murakabati al-wahab, hidayat al-basyir fi ma’rifat al-Qadir, Zubdatu al-Asrar fi Tahqiqi Ba’di Nasyaribi al-Akhyar wa Risalatu as-Syatariah, dan Misbah ar-Rajin fi Zikri as-Salat wa as-Salam ala an Nabi Syafi al-Muznibin nama Muhammad Idrus tertulis Al-abd al-fakir al-haqir Muhammad Idrus Kaimuddin ibnu al-faqir Badaruddin al-Butuni. Selain itu dalam naskah-naskahnya yang membicakan hukum adat (undang-undang), seperti Sarana Barata, nama Muhammad Idrus tertulis Sultan Qaimuddin  Muhammad.

3. Muhammad Idrus Sebagai Ulama Sufi
Sultan Muhammad Idrus adalah sufi ternama dari Buton (Sulawesi). Pada masa kecilnya, ia menerima pendidikan Islam dari kakeknya, La Jampi, yang juga pernah menjadi sultan dengan gelar Sultan Qa’im al-Din Tua (1763-1788). Sampai pada tahun 1974, orang Buton masih menemukan jejak tempat ia dibina oleh kakeknya dalam pengetahuan agama, khususnya tasawuf. Tempat itu dikenal dengan Zawiyyah.
Guru Muhammad Idrus yang lain adalah  Syekh Muhammad bin Syais Sumbul al-Makki. Dari ulama inilah ia menerima tarekat Khalwatiyyah Sammaniyah. Tulisan-tulisannya yang khusus membahas tentang tasawuf antara lain: Jauharana Manikamu, Mu’nisah al-Qulub fi Dzikr wa-Musyahadah, Diya al-Anwar fi Tashfiyah al-Akdar dan Kasif al-Hijab fi Muraqabah al-Wahhab.
Dalam pemikiran tasawufnya Idrus berusaha untuk sampai pada fana’ dan baqa’, seperti yang dikemukakan dalam karyanya Mu’nisah al-Qulub fi Dzikr wa-Musyahadah. Fana’ menurutnya terbagi kepada tiga macam: Fana’ al-af’al, fana’ shifat dan fana’ al-Dzat. Sedangkan baqa’, menurutnya, terbagi kepada dua macam, yaitu: Syuhud al-Kasrah fi wahdah (menyaksikan yang banyak pada yang esa), dan Syuhud al-Wahdah fi Kasrah (menyaksikan yang esa pada yang banyak). Uraiannya tentang fana’ dan baqa’ ini menunjukkan bahwa ia cenderung pada corak tasawuf yang berkembang pada masanya, yakni corak teosofi atau falsafi. Hanya saja, ia menyangkal akan terjadinya hulul dan ittihad. Ajarannya tentang dzikir dianut juiga oleh Muhammad Idrus. Ajarannya tentang dzikir ini termuat dalam beberapa tulisannya, antara lain dalam Mu’nisah al-Qulub fi Dzikr wa-Musyahadah, Dhiya’ al-Anwarfi Tasfiyah al-Akdar, Kasyf al-Hijabfi Muraqabah al-Wahhab, dan Jauharana Manikamu. Dalam tulisan-tilisannya ini dikemukakan hal-hal yang menyangkut kemuliaan, adab, dan tatar cara dzikir. Ia menyebut berbagai keutamaan dzikir, diantaranya adalah membersihkan hati dan akal agar dekat dengan Tuhan. Dalam hal ini ia mengatakan:
Dzikir yitu kanturuna ngangaranda
(dzikir itu lampu hati sanubari)
Kusuluwina kalibi momalalandana
(penerang kalbu yang gelap)
Apekangkilo fi’adi mokorakina
(membersihkan hati yang kotor)
Apekalino akala momalowona
(mengheningkan akal yang keruh)
Rahmatina Oputa yitu amakasu
(rahmat Tuhan kita dekat)
Iapiyaka batua mozikirina
(kepada hamba yang ber-dzikir).

Lafal dzikir yang paling mulia, dalam pandangannya, adalah lafal “La Ilaha Illa Allah”. Pandangan yang menyangkut keutamaan dzikir yang dikemukakan oleh Muhammad Idrus ini didasarkannya pada hadist Nabi Muhammad SAW, sebagaimana dikemukakannya dalam salah satu tulisannya:
Abari mpuu kalabina dzikiri
(banyak sekali keutaman dzikir)
Iburuku siy sabutunamo saide
(yang kulit ini hanya sedikit)
Neu peelu kalabina mobari
(kalau ingin kelebihannya banyak)
Nunu mpuu ihadisina Nabi
(cari dalam hadis Nabi)

Ada dua jenis dzikir yang senantiasa dilakukan Muhammad Idrus, yaitu dzikir dengan hati (qalb) dan dzikir dengan lidah (lisan). Dzikir pertama dilakukan dengan menenangkan hati, lalu menghilangkan segala sesuatu yang ada di hati selain Tuhan. Sedangkan dzikir yang kedua dilakukan dengan mengikuti sejumlah tata tertib (adab) dalam ber-dziki.
Menurut Muhammad Idrus, lafal dzikir yang diucapkan terdiri atas tiga tingkatan: pertama, :la ma’buda illa Allah; kedua, “la mathluba illa Allah”; dan ketiga, “la maujuda illa Allah”. Bila berhasil melalui tiga tingkatan itu, sufi berada dalam fana’. Pada tahap ini ia tidak menyadari lagi wujud dirinya. Yang disadari hanyalah satu-satunya wujud. Ucapan yang keluar dari mulutnya pun tidak lagi dirasakan sebagai ucapannya sendiri. Sekedar bandingan, tampaknya ini barangkali mirip dengan ucapan al-Ghazali: “....Apabila hilang tabir kelalaian dari hati Anda, dzikir Anda kepada-Nya akan ada bersama dzikir-Nya”.
Sebagai pengikut tarekat Khalwatiyah Sammaniyah, Muhammad Idrus tidak hanya mementingkan dzikir, tetapi juga mementingkan khalwat (menyendiri dari keramaian). Tampaknya khalwat yang dipraktekkan Muhammad Idrus didasarkan seperti khalwat-nya Nabi Muhammad di Gua Hira menjelang wahyu turun. Ia membagi khalwat menjadi tiga tingkatan, yaitu: khalwat salik, khalwat ‘arif, dan khalwat muthlaq. Yang pertama adalah khalwat murid yang belajar tasawuf dan menempuh tarekah. Sedangkan khalwat arif adalah dilakukan dengan hati saja, meskipun tubuhnya di tengah-tengah orang ramai. Dan khalwat mutlak hanya dilakukan oleh gaus, yaitu puncak tertinggi dari tingkatan sufi.
Selain khalwat, Muhammad Idrus juga mempunyai pemikiran tentang muraqabah. Menurutnya, dalam Kasyf al-Hijab , muraqabah senantiasa meyakini bahwa Tuhan mengintai lahir dan batinnya, di mana dan kapan saja. Seperti halnya, al-Sukhrawardi, Idrus juga menempatkan muraqabah setelah muhasabah.
Selanjutnya, seperti halnya sufi-sufi lain, Muhammad Idrus juga mempunyai pemikiran tentang maqamat. Berbeda dengan Abd Ghani tokoh yang akan disebutkan kemudian Muhammad Idrus menempatkan fana’ sebagai maqam yang ingin dicapainya ketika ia melakukan dzikir. Menurutnya fana’ dapat tercapai dalam keadaan musyahadah (penyaksian), musyahadah dicapai setelah melewati muraqabah dan muhasabah. Tingkatan-tingkatan inilah yang dimaksud oleh Idrus sebagai maqamat untuk sampai maqam fana’ yang diinginkan dalam melakukan dzikir-nya. Idrus juga mengemukakan maqam-maqam lainnya seperti tobat, tawadlu’, sabar, rela, dan zuhud, dalam tulisan-tulisannya. Ini menunjukkan keterpengaruhannya terhadap al-Ghazali, yang juga dianut al-Palimbani. Pemikiran-pemikiran Muhammad Idrus di atas tampaknya terpengaruhi oleh pemikiran tokoh-tokoh tasawuf Sunni, sedangkan pemikirannya tentang Wahdatul Wujud atau Wujudiyyah tampaknya terpengaruh oleh tokoh sufi falsafi.
Munculnya paham Wahdatul Wujud dalam dunia tasawuf adalah sebagai akibat pengalaman fana’dan baqa’ yang terjadi pada sufi dalam “pengembaraan” tasawufnya. Pemikiran tasawuf di Buton pada abad ke-19 rupanya mengikuti alur pemikiran ini. Hal ini diketahui melalui ajaran tasawuf  Muhammad Idrus. Ia menerima paham tasawuf Wujudiyyah karena ia terlebih dahulu mengakui terjadinya fana’ dan baqa’ dalam perkembangan tasawufnya. Karena menerima paham Wujudiyyah, Idrus menerima pula konsep “Martabat Tujuh” yang menjadi bagian ajaran Wujudiyyah dalam tasawuf falsafi. Ajaran Martabat Tujuh-nya, kelihatannya mengutif kepada al-Burhanpuri.
Selanjutnya Muhammad Idrus juga mempunyai pemikiran tentang hubungan antara tasawuf dengan syari’at. Idrus menyatakan bahwa nikmat yang paling tinggi adalah pada saat “melihat” Tuhan dalam musyahadah. Tetapi itu dapat dicapai setelah segala perintah Tuhan, seperti shalat, puasa dan zakat dilaksanakan, dan segala larangan-Nya ditinggalkan.

4. Muhammad Idrus sebagai Sultan
            Muhammad Idrus terpilih sebagai Sultan Buton ke-29 (1824-1851). Selama periode pemerintahannya, pembangunan di bidang keagamaan menjadi prioritas utama. Hal ini sebagaimana terungkap melalui surat-surat wasiatnya seperti di bawah ini:
1.      baa-baana tey sameaku yinkomiu mangaanaku itu ranga-rangania lagi oibaadati miu opoopu miu yi Allahu Taala. Kakaangia osambahea miu mowaajibuna jamaakea komiu yi masiqi saro ingkomiu membalina umane. Tee poasa miu mowaajibuna boli botu-botikia tabeana rampa uzuru. Tea malingu saro mowaajibuna yikaro miu boli manangkaliakea boli maluntuakea boli ose-ose inca miu madakina. Aose-aoseka inca miu madakina itu padaka umarimbimo yidunia yiakherati (hal. 1).

Terjemahan:
Pertama-tama kuwariskan kepada anak-anakku, tambah-tambahkan lagi ibadahmu dan bertuhanmu kepada Allah Taala. Kuatkan sembahyangmu yang wajibnya. Jamaakan di masjid bagi kaum laki-laki. Dan puasamu yang wajibjangan putus-putuskan kecuali uzur.Dan semua yang namanya yang wajib pada dirimu jangan malas-malaskan,jangan mengikuti hatimu yang tidak baiknya itu, akan mendapatkan hukuman di dunia dan di akhirat.

2.      Osiy okasameaku yimianan Baadia bari-baria. Kupaumpa komiu yaku syi indamolau-launa beku mangenge beku mboo-mboore yi baadi siy. Kapaaka oumuruku siy eona incia siy lima pulu tee lima pulu tee lima tao. Okamentelana umuruna umati Muhamadi Salallahu alaihi wasalama nama pulu tee pitu pulu tao. Okasameaku ingkomiu posadaa-daaia yapaiyaka mowaajibuna yikaro miu simbau sambahea miu simbau poasa miu te malingu saro mowjibuna yikaro miu te jamaa miu boli uboli-ubalia tee sambahea jumaa miu simbau duka daagiapo tee yaku yi baadia siy. Kaopuuna wajibu bea pekatangka –tangka totona inca miu itikadi miu yi Allahu Taala tee itkadi miu yi Rasulullahu boli-ubolia simbau yipengkaadari akata sakiaia siy(hlm.11).

Terjemahan :
Ini wasiatku kepada seluruh masyarakat baadia. Kuberitahukan bahwa saya ini tidak akan lama lagi tinggal di Baadia ini, karena umurku ini pada hari sekarang ini limapuluh dan lima puluh tahun. Pada umumnya umur umat Muhammad s.a.w. enam puluh atau tujuh puluh tahun. Kuwasiatkan kepada kalian sepeerti sembahyang kalian, seperti puasa kalian, dan semuanya yang namanya diwajibkan pada diri kalian dan sembahyang jamaah kalian jangan putus-putuskan dan sembahyang jumat kalian seperti juga ketika saya masih di Baadia ini. Yang pokok, yang wajib adalah perkuat hati dan itikad kalian kepada Allah Ta’ala dan kepada Rasulullah jangantinggalkan iaitu tetap seperti kita belajarkan selama ini.

3.      osiy okosameaku ogora-ogoraku yisaraku yisara, sio-siomo itikadi yingajiakana saangua wolio siy ipiamo siytu bolimo amarungga sobeakaranga-ranganimo. Nadaangiapo duka omia bemo pawauna barahala, sio-siomo beadakia osara. Teemo duka jumaa sambahea lima wakutuu te poasa waajibu ozakati sio-siomo sobeakaranga-ranganimo katangkana(hlm.8)

Terjemahan :
Ini wasiatku kepada pemerintah, mudah-mudahan itikad yang dingajikan seluruh seluruh Wolio ini yang dahulu itu jangan lagi rosak melainkan terus bertmbah-tambah. Bila masih ada juga yang berbuat berhala, maka tugas pemerintah yang memberantasnya. Dan juga sembahyang jumat, sembahyang berjamaah lima waktu, puasa dan zakat, mudah-mudahan akan terus bertambah-tambah kokohnya.

4. Tee pekabari-baria komiu ozikiri laailaha ilallahu tee salawa inuncana eona malano siy bara sala-sala opooli sarewu incana samalo saeo. Kaapaaka okalabiana ooni rua anguna itu soamapupumo tawana kau betas karatasi tee soamapupumo kau betao kaburia tee soampupumo andala betao manic tee soamapupumo maanusia ojini omalaikati betomo buria okalabiana ooni rua anguan itu aindamo beamapupu (hlm. 12).



Terjemahan:
Dan perbanyak zikir la ilaaha ilallah dan selawatan atas nabi siang malamnya. Kalau sekiranya sanggup seribu kali di dalam sehari semalam, kelebihan yang duanya itu: akan habislah daun kayu untuk kertas dan akan habislah kayu untuk pena dan akan habis lautan untuk tinta dan akan habis manusia, jin, malaikat yang menulisnya kelebihan kata yang dua buah itu tidaklah akan habis.

5. Incema-incema imobacana saeo-saeo awaajibumo asafaatia naile orasulullah yiakherati (hlm. 2).

Terjemahan:
Siapa-siapa yang membaca salawat atas Nabi seribu kali di dalam sehari semalam diwajibkan disyafaat oleh Rasulullah di akhirat.

6. Tee menturu komiu baca Quruani sakura-kuranomo inuancana samalo saeo lima puluh anguna aeti. Tee boli manangkali tee boli mangare, tee boli umaluntu, tee boli panganta beu pengkadareakea omaanana Quruani itu talu pulua yiaalimu mosahana ilimuna momatauna aeti nasukhulu tee mansuukuhu.

Terjemahan:
Dan rajinlah membaca Quran sekurang-kurangnya di dalam sehari semalam lima puluh buah ayat. Dan jangan membangkang, jangan bosan, dan malas belajar makna Quran yang tiga puluh juz kepada orang alim yang sah ilmunya, yaitu mereka yang mengetahui ayat naaskhul dan masuukhuh.

7. Kasimpo oilimuuna momaogena ampadeanan malinguaka saro kitabi hadisi mosaha simbau hadisi Bukhariyu simbau hadisi Musulimu Terimiziyu Nisaai Bayihaqiy ibuni Maja Tahabrany Muutha musannada Safii Musannada Ahamadi bHambali hadisi Abuu Daawudu hadisi Dailami tee malingu saro kitabi hadisi motoalamna inuncana kitabi motosarongini itu namako. Kasiimpo duka momaogena ampadeanan muri-murina Quruani tee hadisi nabi itu okitabina yapai-yapaiaka ulama msoalinika itu namako, simbau kitabina Imaamu Al-Ghazzaliy itu, Kaapaaka abari motoromusakana inuncana kitabini Imamu Al-Ghazzaliy yitu opeonina tee parangina yapai-yapaiaka ulamaa mosaalihina (hlm. 3)

Terjemahan:
Kemudin ilmu yang besar manfaatnya adalah semua yang dinamakan kitab hadis yang sahih seperti hadis Bukhari, Muslim, Tarmidzi, Haakimu, Nissai, Baihaqi, Ibni Majah, Tabrani, Muutha Musannada, Syafii Musannada, Ahmad bin Hambali, Abu Daud, Dailami, dan semua kita hadis yang tersebut dalam kitab yang disebutkan itu. Kemudian juga yang besar manfaatnya di kemudian hari Quran dan hadis nabi dan kitab apa saja dari ulama yang saleh seperti kitab imam Al-Ghazali, karena di dalam kitab Al-Ghazali itu terkumpulya semua perkataan dan perangai orang-orang yang saleh.

8. Kasiimpo saro maloa Jumaa atawa molona Isinini poromu-romu komiu inuncana yi Baadia itu malingu saro yingkomiu membalina umane itu karoatibu taluatu ipolotaana magaribi tee isyaa niatikea ofahalana raatibumiu itu beu bekuaka yinyawana bari-baria sahabatina Rasulullahu tee yinyawana mancuanamiu obawine moane tee yinyawana bari-baria Isilamu yi tana Wolio tee yinyawana bari-baria Isilamu saangua dunia siy.
   Kasimpo menturu komiu ujamaa limanguna wakutuu yi masigi Baadia itu yingkomiu membalina umane tabena rampana daangia okolingkaa atawa rampana daangia umapi (hlm. 5)

Terjemahan:
Kemudian yang namanya malam Jum’at atau malam Senin, berkumpullah di dalam Masjid Baadia itu bagi kaum laki-laki. Bacalah tahlil sebanyak tiga ratus kali di antara Magrib dan Isya’. Niatkan pahala tahlil yang dibaca itu untuk dikirimkan kepada nyawa Rasulullah dengan nyawa orang tua lelaki dan perempuan, semuanya nyawa umat Islam di seluruh dunia itu. Kemudian rajinlah berjamaah lima waktu di Masjid Baadia itu bagi yang laki-laki, kecuali berpergian atau karena sakit.

9.      Omasigi yi Baadia itu konamiakea komiu bara daangia obaruba.  Beimalapekana pewaua tee betao emani miu tulungi inuncana upewau masigi itu malingu saro molalakiakana Baadia. Baraangkaalaka amarungguamo omasigi yi Baadia itu banguakea duka pewana omasigi itu yi mbooersamo duka yincia (hlm.3-4).

Terjemahan:
Masjid di Baadia itu perhatikan bila ada kerusakannya. Untuk memperbaikinya, mintalah bantuan kepada siapa saja yang memerintah di Baadia. Kalau ada mengalami kerusakan berat, bangunlah dan kerjakan tetap di tempatnya.

10.  Bolimpuu patotopua yi totona inca miu olalaki kapaaka ohakekatina manusia itu apokana-kana. Tabeana motopenena yi Allahu Taala tee sarana lipu itu momalapena incana momalapena pemingkuina momalapena peonini(hlm. 6-7).

Terjemahan       
Jangan sekali-kali menonjolkan rasa kebangsawanan karena pada hakekatnya semua manusia itu sama. Manusia yang baik adalah yang baik pada Allah Ta’ala pada pemerintahan negeri, yang baik hatinya, yang baik perbuatanya dan baik kata-katanya.

11.  Obaadia siy boli parameakea yapaiaka ilrangina Allahu Taala tee Rasulullahu simbou potaro simbou kanau yimalalangoaka simbou pongasi yimalalangoaka atawa beaparaaso hafio atawa beaala uwena kupa tee malingu saro madakina teemo duka kagasia boli uparameakea simbou sepa simbou caturu simbou pekabakoli simbou pegasi simbou pekabulalu simbo mencei simbou Linda simbou laringai simbou pekatu-tumbu simbou pekatobo-toboki simbou potuda simbou posemba tee malingu sampokanan duka incia itu (hlm. 13).

Terjemahan       
Baadia ini jangan ramaikan dengan apa-apa yang dilarang Allah Ta’ala dan Rasulullah seperti judi, nira yang memabukan, seperti pongasi yang memabukan, seperti menjual candu, atau bunga uang dan semua yang namanya tidak baik. Dan juga permainan seperti bola raga, seperti catur, seperti joget, seperti pogala, seperti pekabakoli, seperti main gasing, seperti pekabulalu, seperti mencei seperti linda seperti lariangai, seperti pekatu-tumbu, seperti pekatobi-toboki, seperti potuda, seperti posemba, dan semua yang sejenisnya juga seperti itu.

12.  Teemu duka tolarangina potaru tosasina pajoge bolimo amarungga. Adaangiaka osara yirangona moparamena potarao adikangiaka mea aosalana. Adaangiana irangona asara moparamena pajoge apepasimea duka (hlm. 8).

Terjemahan       
Dan juga terlarangnya judi dan tercegahnya joget kiranya jangan lagi berubah. Kalau ada dari pihak pemerintah mendengarkan ada yang meramaikan judi dan tidak melarangnya, maka itu adalah kesalahan pemerintah. Kalau ada dari pihak pemerintah mendengarkan ada yang meramaikan joget maka adalah tugas pemerintah yang membatalkannya.

13.  Tee jagania akaro miu bea peelu korakanana atawa okogundina kawanamo tea ponamba komiu boli undapia (hlm 13-14).

Terjemahan       
Dan jagalah diri kalian untuk mencinta orang punya suami atau orang punya gundik, meskipun diajak jangan mau.

14.  Manzina alaihi waalaihaa nisfu ala iba zalifil umatil maadhliati faizaa kaana yaomal qiyamati yahkum zanzaha hasanatihi fayaquhu haawayah miluhu zunuubaha wayanusqyhu ilaanaari (hlm. 14).

Terjemahan Bahasan Wolio:      
Incema-incema azinaa tee bawine mokorakanan bemo daangiana iumane incia itu tee yi bawine incia itu samontanga osikisaana bari-baria umati eona incia sy tee molapasina itu. Barangkalaala naile eona qiyamati atohukumuakamo orakanan bawine itu bari-baria kalapena manga iagoina itu aposadaakamo incia kasiimpo awulua yi narakaa (hlm. 14).

Terjemahan :
Siapa-siapa yang berzina dengan perempuan bersuami, apa yang ada pada lelaki dan perempuan itu setengah seksamanya semua umat pada hari ini dan sesudahnya. Pada hari kiamat kelak akan dihukum suami perempuan itu. Semua kebaikan yang merampas itu diambil yang dirampas dan semua ketidakbaikan yang dirampas dipikul oleh yang merampas selanjutnya diusir ke dalam neraka.

15.  Bolimpuu patotopua yi totona inca miu olalaki kapaaka ohakekatina manusia itu apokana-kana. Tabeana motopenena yi Allahu Taala tee sarana lipu itu momalapena incana momalapena pemingkuina momalapena peonini(hlm. 6-7).

Terjemahan       
Jangan sekali-kali menonjolkan rasa kebangsawanan karena pada hakekatnya semua manusia itu sama. Manusia yang baik adalah yang baik pada Allah Ta’ala pada pemerintahan negeri, yang baik hatinya, yang baik perbuatanya dan baik kata-katanya.

16.  Tangkanamo beiparandadina tontonan incamiu beu maeka larangina Allahu Taala tee larangina sarana wolio. Kabei patuwu mia yitotonan inca miu okatambena inca okatmbenan pemingkui kaapaaka omia moparandadina atambe itu amaasiakea Allahu Taala amaasiakea Rasulullaahu amaasiakea sarana lipy (hlm.15).

Terjemahan       
Yang utama, hidupkan hatimu untuk takut pada larangan Allah Ta’ala dan larangan pemerintah Wolio. Yang akan ditumbuhkan dalam hatimu adalah kerendahn hati dan kerendahan perbuatan, karena orang yang menghidupkan kerendahan hati dan perbuatan itu sangat disayangi oleh pemerintah negeri.

17.  Mentena angu-angu okitabi kuburiaka komiu itu. Posali-salingiakea komiu bari-baria padamo kudikaaka komiu. Poada-adariaeka komiu sawutitinai komiu dikaian yinami miu yapai kaadarina itu dikaia yinami miu mpuu komiu adunia siy yinda alagi yinda asanddaa ega-egana patotapua  yitotona inca miu okarajana dunia (hlm. 8).

Terjemahan       
Beberapa buah kitab telah kutuliskan. Saling menyalinlah kitab itu semua sudah kusimpankan. Saling ajarlah isinya dalam bersaudara-saudara. Pusatkan perhatianmu pada apa yang diajarkan itu dengan sungguh-sunggu. Ingatlah bahwa dunia tidak kekal, tidak abadi, jangan semata-mata memusatkan perhatianmu pada pekerjaan dunia.

18    Bara kumate yi wolio siy amalepe dangia inuncana sodaku atawa kutoaronimo sio siomo bolimo kutapewauaka simbau parenta yinda mokana itu namako simbau tamburu, simbau ganda, simabu temba, simbau pau, simbau togo, eangina jamu, simbau tobelokina paturu. Teemo duka siy bara daangia samia ruamia omangaanaku yiboliku  bolimo akodosa dosaaka rampana mateku yaku atokamo okomdo tee sara. Saro mate ayindamo amatemoakea manga ana ana atawa amiana banuana atawa omancuana atawa owutitinai  (hlm. 9).

Terjemahan      
Bila saya meninggal di Wolio ini baik sedang dalam tugasku maupun aku telah dilepaskan, kiranya saya jangan diperbuatkan perintah yang tidak benar, seperti tambur, seperti gendang, seperti tembakan, seperti payung, seperti membunyikan lonceng, seperti menghiasi kelambu jenazah dan juga kalau ada seorang dua orang anak-anak saya yang kutinggalkan, jangan lagi membebani hutang-hutang karena kematianku telah sedia kelengkapannya pada pemerintah. Yang namanya kematian tidak lagi memberatkan mereka anak-anak atau orang rumah atau saudara.

19    Sabutunamo kamondona kebatobahoaka bea tobalinguaka bea tolamuiaka musambaheana itu malingu molebena amalape hukumu amalape mia osagaanana, bara kuporikanapo yaku tee manga incia okamondona bakuku malingu saro bia maputi kanci kancia sambaheaku simbou surubaniku simbou bia ipobaku lolanamo bea pokawaaka talutapi. Negaangia mini naile barasakau rua kau bia maputi okaasi yi Allahu Ta’ala soa sadakaamo mini makate kate omangaanaku yi sara hukumu. (hlm.9).

Terjemahan       
Hanya kelengkapan untuk memadikan, untuk perbekalan, untuk perkuburan dan yang menyembahnyangkan itu, siapapun ulamanya pegawai mesjid atau yang lainnya. Apabila aku mendahului mereka, kelengkapan bekalku apapun yang namanya kain putih, bekas-bekas sembahyangku, seperti sorbanku, seperti sarung yang kupakai asalkan cukup tiga lapis. Kalau seandainya besok, ada barang sehelai dua helai kain putih tanda kasih dari Allah Ta’ala sedekahkan saja kepada pegawai mesjid.

5. Muhammad Idrus sebagai Pengarang
Kemampuan Muhammad Idrus menuangkan ide-idenya mengenai ajaran keagamaan, budi pekerti, dan peraturan hukum adat (undang-undang) yang disampaikan dalam beberapa bahasa (Wolio, Arab, dan Melayu) baik dalam bentuk prosa maupun puisi (syair) menggambarkan bahwa Muhammad Idrus layaklah disebut sebagai tokoh intelektual Buton yang terbesar pada zamannya. Tujuan beliau menulis naskah memberikan perbedaan di antara kepentingan keluarga dan kepentingan masyarakat umum. Naskah-naskah yang mengandungi ajaran dan pendidikan budi pekerti pewarisannya terbatas pada kepentingan keluarganya. Hal ini dimaksudkan agar kalangan keluarganya tidak semata-mata memusatkan perhatiannya pada pekerjaan duniawi. Hal ini seperti dikemukakan berikut ini:
Mentena angu-angu okitabi kuburiaka komiu itu. Posali-salingiakea komiu bari-baria padamo kudikaaka komiu. Poada-adariaeka komiu sawutitinai komiu dikaian yinami miu yapai kaadarina itu dikaia yinami miu mpuu komiu adunia siy yinda alagi yinda asanddaa ega-egana patotapua  yitotona inca miu okarajana dunia (hlm. 8).

Terjemahan       
Beberapa buah kitab telah kutuliskan. Saling menyalinlah kitab itu semua sudah kusimpankan. Saling ajarlah isinya dalam bersaudara-saudara. Pusatkan perhatianmu pada apa yang diajarkan itu dengan sungguh-sunggu. Ingatlah bahwa dunia tidak kekal, tidak abadi, jangan semata-mata memusatkan perhatianmu pada pekerjaan dunia.

Bila ditinjau dari bahasa yang digunakan, naskah-naskah yang membicarakan ajaran keagamaan dan pendidikan budi pekerti secara khusus menggunakan Wolio dan bahasa Arab. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam petikan berikut:
Menturu kama-kamatea komiu okitabi yisarongiaka Tambigili Ghaafili itu kitabi yisarongiaka bula malingo tee yisarongiaka johara manikamu molabi tee kitabi yisarongi nuru molabi. Pata angua situ podo oni Wolio teemo kitabi alabu mentena angu-angu: Tahsiynul Aolaadik, hatul Uthuruyah, Uthurau Miskiyah, Surajul Muttaqiynah, Daratil Ahkaa, I,Sabil As-salam, Uyunarahmati, Targibul Anaamil, Bitah Waturrayriyna, Dliau anwaari, Syummu Umaatil Waraadi, Tanqiatul Qulubi, Hadiatul Basyiru, Habl Al-Wasyiqu, Khaodlil Maoruudi Amdatul Muwahidi, Kasyful Hijabu, Yaoharal Abhariat, tee salawa itu osarona mishyaa hurul ajiyna, tee tafsisi yitu osarona midadurahmaani, soo maka yindapo amondo dangiapo okitabi soo maka yindamo kudikaia yiwesiy tabeana kitabi faqihi (hlm. 8).
                


Terjemahan       
Rajin-rajinlah membaca kitab yang dinamakan Tambigili Ghaafili dan kitab yang dinamakan Bula Malino dan yang dinamakan Johara Manikamu Molabi dan kitab yang dinamakan Nuru Molabi. Yang keempatnya itu semua berbahasa Wolio dan juga kitab Arab beberapa buah Tahsiynul Aolaadik, Hatul Uthuruyah, Uthurau Miskiyah, Surajul Muttaqiynah, Daratil Ahkaa, I,Sabil As-salam, Uyunarahmati, Targibul Anaamil, Bitah Waturrayriyna, Dliau anwaari, Syummu Umaatil Waraadi, Tanqiatul Qulubi, Hadiatul Basyiru, Habl Al-Wasyiqu, Khaodlil Maoruudi Amdatul Muwahidi, Kasyful Hijabu, Yaoharal Abhariat, dan syalawat yang dinamakan Mishyaa Hurul Ajiyna, tdan tafsir yang dinamakan Midadurahmaani, hanya saja belum selesai kecuali yang dinamakan faqihi.

Salah satu judul naskah karya-karya Muhammad Idrus yang sangat populer pada zamannya adalah ”Bula Malino”. Naskah ini ditulis dalam bahasa Wolio dengan menggunakan aksara Arab-Melayu modifikasi Wolio ”penduduk setempat menyebutnya Buri Wolio”. Teks naskah ini dalam bentuk syair Kaбanti Bula Malino, isinya berupa nasihat Muhammad Idrus yang ditunjukan kepada dirinya sendiri sebagai berikut.
Mengawali nasihatnya, sultan Muhammad Idrus mengatakan bahwa kelak ia akan menghadapi kematian. Hal ini sudah merupakan takdir Tuhan kepadanya sebagai hamba-Nya. Tidak ada satu pun hamba Tuhan yang hidup kekal di dunia ini. Yang hidup kekal abadi hanyalah Tuhan semata. Oleh karena itulah, di kala kematiannya tiba, ia memohon kepada Tuhan agar senantiasa diberi kekuatan iman serta dapat mengikrarkan dua kalimat syahadat dengan teguh. Hal ini sebagaimana disuratkan di bawah ini:
Bismillahi kasi karoku si
Alhamdu padaka kumatemo
Kajanjinamo yoputa momakana
Yapekamate ßari-ßariya ßatuya
Yinda samia ßatuya ßomolagina
Sakubumbuya pada posamatemo
Somo yopu yalagi samangongeya
Sakiyayiya yinda kokapada
Ee wayopu dawuyaku iymani
Wakutuna kußoli baDaku si
Te sahada ikiraru momatangka
Te tasidiki iymani mototapu
Dengan nama Tuhan, kasihan diriku ini
Segala puji, kelak akan mati
Sudah takdir Tuhan yang kuasa
Mematikan semua hamba
Tidak satu jua hamba yang kekal abadi
Semua akan mati
Hanya Tuhan yang kekal abadi
Selama-lamanya tidak berkesudahan
Wahai Tuhan, berikanlah aku iman
Pada waktu meninggalkan jasad ini
Dengan syahadat ikrar yang tegah
Dan dengan tasdiq iman yang tetap

Sultan Muhammad Idrus memohon pula kepada Tuhan agar yang ditambahkan rahmat. Ia mengakui bahwa Nabi Muhammadlah yang menjadi sumber cahaya awal yang paling mulia yang memberikan sinar terang kepada hamba Tuhan yang berdosa. Ia juga mengharapkan agar Tuhan dapat mempertemukannya dengan Nabi Muhammad di padang masyhar tempat berkumpulnya hamba. Selain itu ia meminta agar Tuhan dapat mengampuninya dari azab neraka pada hari kemudian. Hal ini sebagaimana disuratkan di bawah ini:
Ee wayopu, manganiya rahamati
Muhammadi caheya ßaana
Yoyinciyamo kayinawa motopene
Mosuluwina umati mokoDosana
Siyo-siyomo wayopu ßeku pokawa
Yi muhusara toromuyana ßatuya
Yoga yaku yi azabu naraka
Te huru-hara nayile muri-murina
Wahai Tuhan, tambahkanlah rahmat
Muhammad cahaya permulaan
Dialah cahaya paling mulia 
Yang menyinari hamba yang berdosa
Semoga Tuhan mempertemukanku
Di padang masyhar tempat berkumpulnya hamba
Hindarkanlah aku dari azab neraka
Dan keributan pada hari kemudian

Nasihat Sultan Muhammad Idrus kepada dirinya disampaikan melalui salah satu syairnya yang diberi judul “Bula Malino Kapekarunana Yinca” yang berarti “Bulan Terang Penyegar Hati”. Sultan Muhamad Idrus mengharapkan, nasihat-nasihat itu dapat menjadi cermin hidupnya dalam mengikuti berbagai pengajaran dan memerangi hatinya yang jelek, serta dapat diterima oleh Tuhan. Hal ini disuratkan di bawah ini:
Si sangu nazamu yoni Wolio
Yikarangina Ayedurusu Matambe
Kokarongiya ßetao payiyasaku
ßara salana ßekuyose kadari
Siyo-siyomo yopu yatarimaku
ßeku yewangi yimßaku momadakina
Kusarongiya Kaßanti yinciya si
Bula Malino Kapekarunana Yinca
Yang satu ini syair berbahasa Wolio
Di karang Idrus yang hina
Kukarang untuk cerminku
Semoga aku mengikuti ajaran
Mudah-mudahan Tuhan menerimaku
Untuk memerangi hatiku yang jelek
Kuberi nama syair ini
Bulan Terang Penyegar Hati

5.1 Jangan Mabuk dengan Kesenangan Dunia  
Sultan Muhammad Idrus menasihati dirinya agar tidak memabukkan kesenangan dunia. Yang paling penting dipikirkan adalah perbuatan baik apa yang harus dilakukan terhadap sanak keluarga dan para sahabat. Apabila kematian telah menjemput, maka berpisahlah dirinya dengan mereka itu. Hal ini disuratkan di bawah ini:
Ee, karoku ßega-ßega yumalango
Yinda yufikiri kampodona umurumu
Matemo yitu tayomo papogako
Te malingu saßara manganamu
Temo duka saßara musirahamu
Wutitinayi tawa mosaganana
Wahai diriku, janganlah mabuk
Tidakkah engkau pikirkan sisa umurmu?
Kematianlah yang akan menceraikanmu
Dengan semua anakmu
Dan juga dengan semua kenalanmu
Famili atau yang lain-lainnya

5.2 Mengajari dan Menyayangi Diri Sendiri
Sultan Muhammad Idrus menasihati dirinya agar senantiasa mengajari dirinya sendiri. Mengajari diri sendiri adalah lebih baik daripada diajari seribu orang guru. Ia juga menasihati dirinya agar senantiasa menyayangi diri sendiri, sebab menyayangi diri sendiri adalah lebih baik daripada disayangi orang lain. Selain itu, menasihatkan pula agar jangan mengikuti kehendak hawa nafsu, kecuali yang dinamakan nafsu radiyah dan mardiyah. Hal ini disuratkan dalam teks di bawah ini:
Ee karoku yada-yadari karomu
Nafusumu ßega-ßega yuyoseya
Tabeyanamo nafusu rayudiyah
Nafusu sarongi marudiyah
Mo sarowu guru ßemoyadariko
Yinda molawana yada-yadari karomu
Motuyapa kasina miya yitu
Yinda ßeyakawa kasina yi karomu
Wahai diriku, ajar-ajarilah dirimu
Nafsumu jangan terlalu ikuti
Kecuali nafsu radiyah
Nafsu yang dinamakan mardiyah
Walau seribu guru yang mengajarimu
Tiada bandingnya mengajari diri sendiri
Walau bagaimana kasih orang itu
Tiada bandingnya mengasihi diri sendiri

5.3 Melaksanakan Rukun Islam, Zikir, Salawat dan Salam Serta Berdoa Tengah Malam

Sultan Muhammad Idrus menasihati dirinya agar senantiasa melaksanakan sembahyang dan berpuasa pada bulan Ramadhan. Demikian pula zakat fitrah jangan dilupakan yaitu dilakukan pada setiap menjelang berakhir puasa Ramadhan. Selain itu ia juga menasihatkan agar selalu berzikir, bersalawat dan salam kepada Nabi serta bangun berdoa kepada Tuhan pada setiap tengah malam. Semua itu dimaksudkan untuk menginsyafi ketidakbaikan amal. Hal ini disuratkan di bawah ini:
Ee, karoku, menturu sambaheya
Te poyasa yi nuncana Ramadani
Fitaramu Boli yumalingayeya
Palimbayiya ahirina poyasa
Zikirillahi menturuyakeya mpu
Te salawa salamu yi nabimu
Pontanga malo Bangu emani amponi
Yincafuyaka kadakina amalamu
Wahai diriku, seringlah sembahyang
Dan berpuasa pada bulan Ramadhan
Fitrahmu jangan lupakan
Keluarkan pada akhir puasa
Berzikirlah sesering mingkin
Dan salawat serta salam kepada nabimu
Tengah malam bangun minta ampun
Insyafkan ketidakbaikan amalmu

5.4 Jangan Membual dan Memfitnah Sesama
Sultan Muhammad Idrus menasihati dirinya agar jangan membual dan memfitnah. Kejelekanya sangat besar yaitu pada hari kiamat akan mendapat hukuman. Semua kebaikan orang yang membual dan memfitnah diambil orang yang dibuali dan difitnah dan sebaliknya semua kejelekan orang yang dibuali dan difitnah diambil orang yang membual dan memfitnah itu. Selain itu, orang yang membual dan memfitnah itu pada hari kiamat lidahnya akan dipotong. Hal ini disuratkan di bawah ini:
Ee karoku, ßoli yumangabuya-buya
Temo duka ßoli yumangahumbu-humbu
Kadakina tabuya-buya rangata
Hari kiyama nayile ßeyu marimbi
Kadakina tahumbu miya rangamu
Yokadakina yuyala meya yingko
Yokalapena posaleya yinciya
Hari kiyama delamu ßeya totumu
Wahai diriku, jangan suka membual
Dan juga jangan memfitnah
Kejelekannya sangat besar
Pada hari kiamat kelak akan dihukum
Kejelekan membual sesamamu
Keburukannya engkau yang ambil
Kebaikannya dia yang ambil
Pada hari kiamat lidahmu akan dibakar
5.5 Mensucikan Diri
Sultan Muhammad Idrus menasihati dirinya agar senantiasa mensucikan diri. Ia juga menasihatkan agar jangan merendahkan dan memandang enteng orang lain. Yang paling utama adalah selalu memikirkan kerendahan diri sendiri. Sesungguhnya manusia dan mahluk lainnya tidak berbeda asal kejadiannya, yaitu berasal dari setetes air. Demikian pula kelak akan mati, di dalam tanah akan bercampur dengan tanah kuburannya. Hal ini disuratkan di bawah ini:
Ee karoku yincamu pekangkiloya
Nganga randamu boli yumanga pipisi
Temo duka Boli yumanga pisaki
Fikiriya katambena karomu
Yuwe satiri Banamo minamu
Simbayu duka kadidi yanamako yitu
Yi nuncana tana nayile yuhancurumo
Yuposalomo te tana koburumu
Wahai diriku, sucikanlah dirimu
Niatmu jangan merendahkan orang
Dan juga jangan memandang enteng
Pikirkanlah kerendahan dirimu
Air setetes awal kejadianmu
Seperti juga mahluk lainnya
Di dalam tanah kelak engkau hancur
Bercampur dengan tanah kuburmu

5.6 Jangan Mengutamakan Kekuasaan dan Kebangsawanan
Sultan Muhammad Idrus menasihati dirinya agar jangan mengutamakan kekuasaan dan kebangsawanan. Keduanya itu semata-mata hanya kebesaran dan hiasan dunia. Yang harus diutamakan adalah hati nurani yang suci. Itulah yang akan kekal sampai pada hari kemudian. Hal ini disuratkan di bawah ini:
Ee karoku, fikiriya mpu-mpu
Kakawasa tangkanamo yi duniya
Yokalaki tangkanamo yi weyi
Te malingu kabelokana duniya
Yakawaka nayile muri-murina
Yamapupumo ßari-ßariya situ
Tangkanamo totona yinca mangkilo
ßemolagina nayile muri-murina  
Wahai diriku, pikirkan betul-betul
Kekuasaan hanya ada di dunia
Kebangsawanan hanya ada di sini
Dan segala kebesaran hiasan dunia
Sampai pada hari kemudian
Habislah semua itu
Hanya hati nurani yang suci
Yang kekal abadi                 

5.7 Kejelekan Fitnah Dunia
Sultan Muhammad Idrus menasihati dirinya agar menghindari kejelekan fitrah dunia. Fitnah dunia bagaikan orang berlayar yang tidak kekal di negeri tempat berdagangnya. Dunia ini adalah tempat yang berubah, sebagaimana diuraikan oleh hadist nabi, Siapa-siapa yang tidak mempercayainya sesungguhnya orang itu kafir. Hal ini disuratkan di bawah ini:
Ee karoku togasaka mpu-mpu
Yokadakina fitanana Duniya
Pamana ßose padaka yuhelamo
Yinda ßeyulagi yi lipu podagamu
Duniya si mboresa momarungga
Totula-tula yi hadisina nabi
Yincema-yincema miya moperawasiya
Satotuna miya yitu kafiri
Wahai diriku, berpasralah betul-betul
Kejelekan fitnah dunia
Bagaikan berlayar tidak lama lagi bertolak
Tidak akan kekal di negeri perdaganganmu
Dunia ini tempat yang berubah
Diceritrakan di dalam hadits nabi
Siapa-siapa yang tidak mempercayainya
Sesungguhnya orang itu kafir

5.8 Bertawakal dan Berpegang pada Kata-Kata Nabi
Sultan Muhammad Idrus menasihati dirinya agar senantiasa bertawakal dan berpegang pada kata-kata nabi. Dikatakan bahwa dunia ini adalah tempatnya kesalahan. Banyak sekali racun yang membinasakan. Racun itu berasal dari pendengaran, penglihatan dan penciuman. Hal itulah yang sampai pada perasaan yang senantiasa menghukum hati yang baik. Nafsu yang tidak baik berada di antara kedua tulang rusuk dan itulah musuh yang kekal. Untuk melawan musuh seperti itu, harus melaksanakan zikir sesering mungkin dan hati senantiasa dibuat agar takut kepada perintah Tuhan yang Mahakuasa. Hal ini disuratkan di bawah ini:
Ee karoku tawakala mpu-mpu
Pengkenisi ajanji mina i nabi
Dunia si mboresana karimbi
Aßari mpu racu ibinasaka
Ominana racu ibinasaka
Oporango, opokamata opebou
Si tumo mokawana i manisi
Morimbitina incamu momalapena
Mboresana nafusu momadaki
Polotana rua mbali lupe-lupe
Si tumo ewalina molagina
Motopenene incana karota si
Kaewangina ewali incia itu
Zikirillahi menturu akea mpu
Incamu itu pekaekaia mpu
Iparintana Oputa Momakana
Wahai diriku, tawakallah betul-betul
Peganglah janji nabi
Dunia ini tempatnya kesalahan
Banyak sekali racun yang membinasakan
Asalnya racun yang membinasakan
Pendengaran, penglihatan, penciuman
Itulah yang sampai pada perasaan
Yang menghukum hati yang baik
Tempat nafsu yang tidak baik
Di antara kedua tulang rusuk
Di situlah musu yang kekal
Yang baik pada diri kita
Untuk melawan musuh seperti itu
Berzikirlah sesering mungkin
Hatimu berbuatlah menjadi takut
Pada perintah Tuhan Yang Mahakuasa

5.9 Sering Mendengarkan Pengajaran
Sultan Muhammad Idrus menasihati dirinya agar selalu mendengarkan pengajaran, terutama pengajaran dari orang-orang saleh. Ia menegaskan, yang namanya ajaran untuk kebaikan wajib didengarkan meskipun asalnya dari mulut orang gila bahkan dari mulut binatang sekalipun. Sabda Nabi Muhammad: Ambillah kalian ilmu itu meskipun berasal dari mulut binatang demi menuju jalan kebaikan. Hal ini disuratkan di bawah ini:
Te umenturu rango oni malape
Kadarina paimia salihi
ßoli panganta ßeu rango kadari
ßara salana betao bahagiamu
Osea mpu saro i malapeaka
Malinguaka oni i rangomu itu
Kawanamo mina i momagilana
Neo itumo saro imalapeaka
Akonimo hatimi rusuli 
Muhammadi saidina anbia
Alea komiu katau itu
Hengga katau i mulutina binata
Neo itumo giu imalapeaka
Seringlah mendengar kata-kata yang baik
Ajaran dari orang yang saleh
Jangan bosan mendengarkan ajaran
Siapa tahu untuk kebahagiaanmu
Ikuti betul yang namanya kebaikan
Segala kata yang engkau dengarkan itu
Walaupun asalnya dari orang gila
Kalau sudah itu yang menjadikan kebaikan
Bersabda rasul yang penghabisan
Muhammad penghulu segala nabi
Ambillah kalian ilmu itu
Meskipun dari mulut binatang
Demi menuju pada kebaikan


5.10 Berkata-Kata Apa Adanya
Sultan Muhammad Idrus menasihati dirinya agar selalu mengeluarkan kata-kata apa adanya. Menurutnya banyak berkata dapat merusak hubungan baik dengan sesama. Akan tetapi bila kata-kata itu mengandung kebaikan menurut jalan agama dibolehkan seperti kata-kata yang dimuat dalam al-kitab seperti cerita mengenai kelebihan para nabi, keramatnya para wali dan kelakuan orang-orang saleh. Ia juga menasihatkan agar jangan memutuskan hal-hal yang wajib serta segala keperluan dirinya. Hal ini disuratkan di bawah ini:
Ee karoku ßega-ßega mengkooni
Neukooni sabutuna hajati
Upekalape incana mia rangamu
Teupakawa makusuduna incamu
Kamengkooni dala imarimbiaka
Tabeanamo oni imalapeaka
Simbounamo tatula-tula kitabi
Te lelena kalaßiana nabi
Te lolitana karamatina wali
Te lakuna paimia salihi
Somana ßoli ußotuki wajibu
Te malingu faralu i karomu
Wahai diriku, janganlah memboros kata
Bila berkata apa adanya
Brhati baiklah kepada sesamamu
Pertemukan maksud hatimu
Banyak berkata jalan merusakan
Kecuali kata yang membawa kebaikan
Seperti yang diceritakan dalam al-kitab
Dan berita kelebihan nabi
Dan cerita keramatnya para wali
Dan kelakuan orang-orang saleh
Asal jangan putuskan yang wajib
Dan semua keperluan pada dirimu

5.11 Jangan Memakai Kebohongan
Sultan Muhammad Idrus menasihati dirinya agar jangan memakai kebohongan yaitu mengucapkan sesuatu dengan tidak jelas. Apabila telah memakai kebohongan, maka binasalah pada negeri yang dua yaitu dunia dan akherat. Ia juga menasihatkan, bila bermain-main jangan melampaui batas, kecuali dengan seisi rumah. Yang paling pokok adalah harus selalu berhati-hati mendiami dunia ini. Mengerjakan kebaikan itu pada hari kemudian akan mendapat perlindungan pada Tuhan. Hal ini disuratkan di bawah ini:
Ee karoku ßoli upake pewuli
Aboasaka saro inda motindana
Barangkala upakemo incia yitu
Amadakimo i lipu rua anguna
Neu kaßonga ßoli upolalo sara
Tontoma kea laengana morangoa
Neu kaßonga podo sabu-sabutuna
Upekalape  incana mia rangamu
Tabeanamo te antona ßanuamu
Inda pokia nea tolaße saide
Upatotapu rouna pomananea
Upekatangka sarona pomusiraha
Ijitihadi umbore i dunia
Nunua mpu saro imalapeaka
Sio-siomo Opu apaliharaku
I hura-hura naile muri-murina
Wahai diriku, jangan memakai kebohongan
Mengucapkan sesuatu yang tidak jelas
Kalau telah memakai seperti itu
Binasalah pada negeri yang dua
Dan bermain-main jangan melampaui batas
Perhatikan yang wajar
Bila bergurau batasilah
Perbaiki hati sesamamu
Kecuali dengan seisi rumahmu
Tidak apa bila kelewat sedikit
Menetapkan muka biasa satu dengan yang lain
Menguatkan perkenalan satu dengan lainnya
Berhati-hatilah mendiami dunia ini
Telusurilah yang namanya kebaikan
Mudah-mudahan Tuhan memeliharaku
Pada keributan di hari kemudian


5.12 Menetapkan Pendirian Kepada Tuhan, Meneguhkan Agama Islam, Mengikuti Ajaran Guru dan Menyayangi Sesama

Sultan Muhammad Idrus menasihati dirinya agar senantiasa menetapkan pendirian kepada Tuhan yaitu dengan jalan meneguhkan ajaran agama Islam, mengikuti ajaran guru dan menyayangi sesama sebagaimana menyayangi diri sendiri. Demikian itulah tertibnya orang mukmin tinggal di dunia ini. Hal ini disuratkan di bawah ini:
Ee karoku paihilasai incamu
Patotapua poaromu i Opumu
Pengkenisi agamana babimu
Te uosea kadarina gurumu
Mia rangamu masi akea mpuu
Simbou duka masiaka karomu
Tuamo yitu tuturana mu mini
Ambo-mbore i nuncana dunia si
Wahai diriku, ihlaskanlah hatimu
Tetapkan pendirian pada Tuhan
Peganglah agama nabimu
Dan ikuti ajaran gurumu
Orang sesamamu sayangi betul
Seperti menyayangi diri sendiri
Yang demikian itu tertibnya orang mukmin
Tinggal di dunia ini


5.13 Ikhlas Hati untuk Mengenal Rahasia Tuhan
Sultan Muhammad Idrus menasihati dirinya agar senantiasa ihlas mengenang rahasia Tuhan. Rahasia Tuhan itu disimpan pada kalbu hamba yang dicintai-Nya, yaitu hamba-hamba-Nya yang saleh. Itulah yang disebut permata amal yang senantiasa menyinari semua prilaku yang baik. Hal ini disuratkan di bawah ini:
Ee karoku ihilasi atopene
Rahasiana oputa mopewauko
Adikaka inca imasiaka
Nganga randana ßatua imimiaka
Oihilasi rahasia motowuni
Ikalibina ßatua mosalihi
Ositumo jauharana amala
Mosuluwina ßari-ßaria feli
Wahai diriku, rasa ihlaslah paling mulia
Rahsaia Tuhan yang menciptakanmu
Menaruh pada hati yang disukai-Nya
Lubuk hati hamba yang disayangi-Nya
Ihlas rahasia yang tersembunyi
Pada kalbu hamba yang saleh
Di situlah permata amal
Yang menyinari semua perilaku

5.14 Mempercayai Hari Akhir
Sultan Muhammad Idrus menasihati dirinya agar senantiasa memperkuat pegangan dan itikad. Ketika kematian datang menjemput, itulah pertanda datangnya hari kiamat. Itulah yang disebut peristiwa yang menyebabkan kesusahan semua hamba. Pada saat itu, semua amal akan ditimbang dengan mizan, yaitu timbangan yang benar. Hal ini disuratkan di bawah ini:
Ee karoku pekatangka pengkenimu
Itikadimu ßoli akadoli-doli
Matemo itu pada aumbatikomo
Hari kiama pada alahirimo
I Weitumo huru-hara momaoge
Kasukarana ßari-ßaria batua
Atotimbangi ßari-ßaria amala
I mizani kaloesa mobanara

Wahai diriku, perkuatlah peganganmu
Etikadmu jangan berubah
Kematian kelak akan mendatangimu
Hari kiamat nanti akan hadir
Di situlah peristiwa yang besar
Kesusahan semua hamba
Akan ditimbang semua amal
Dengan mizan timbangan yang benar


5.15 Azab dan Hari Kiamat Akan Datang
Sultan Muhamad Idrus menasihati dirinya agar senantiasa memikirkan datangnya azab dan hari kiamat. Ketika itu, dunia akan menjadi gelap gulita. Sedikit pun tak ada lagi cahaya. Itulah kehidupan sesudah mati yang menyebabkan kesusahan hamba Tuhan. Umat Islam saling memaafkan disertai tangisan yang sekeras-kerasnya, sambil menantikan takdir dari Tuhan. Mereka bertangisan karena memikirkan bagaimana kelak nasib mereka setelah tiba hari kiamat. Hal ini disuratkan di bawah ini:
Ee karoku ombu pada aumbamo
Bea bukea naile dunia si
Amalalanda, agalapu, apoposa
Mo saide indamo te kainawa
Itumo duka kaheruana batua
Pokeni lima paimia Isilamu
Te akoni manga incia yitu
Inciamo si zamani betamatemo
Potangisimo paiaka Isilamu
Atangi mpu aoge-oge incana
Audanimo janji mina i nabi
Hari kiama pada aka aumbamo
Salana manga poma-mafuaka
Nedangia te salana mangengena
Apentamo hukumu mina i Opu
Opeamo bara bemokorouna si
Atangi mpu bari-baria situ
Audanimo karunggana alamu
Te afikiri bangu i hari kiama
Betuapa naile ingkita si
Wahai diriku, azab sudah akan datang
Akan memenuhi dunia
Akan gelap, akan gulita, dan sangat gelapnya
Walau sedikit tidak ada lagi cahaya
Itu pula kesusahan hamba
Berjabatan tangan para umat Islam
Dan berkata mereka itu
Itulah kehidupan sesudah mati
Saling bertangisan para umat Islam
Menangis dengan sekeras-kerasnya
Mengingatkan janji nabi
Hari kiamat sudah akan datang
Kesalahan di antara mereka saling memaafkan
Kalau ada kesalahan yang lampau
Menantikan hukum dari Tuhan
Bagaimanakah wujud kita nanti
Menangislah dengan sejadi-jadinya
Mengingat akan kehabisan alam
Memikirkan keadaan hari kiamat
Bagaimana kelak kita ini


5.16 Dunia Kelak Akan Hancur
Sultan Muhammad Idrus menasihati dirinya agar senantiasa mempercayai bahwa kelak dunia ini akan hancur. Pertanda kehancuran itu akan diawali dengan datangnya angin kencang yang akan menghancurkan semua gunung yang disertai keringnya lautan serta gempa yang sangat dahsyat. Pada saat itu, semua ciptaan di dunia akan fanah, kecuali Tuhan yang tetap hidup kekal, alam akan kembali seperti sebelum diciptakan. Peristiwa seperti akan berlangsung selama 40 tahun, setelah itu barulah akan ada lagi. Itulah yang disebut dengan keadaan yang kekal. Hal ini disuratkan di bawah ini:
Ee karoko keniaka mea mpuu
Dunia sii padaaka amarunggamo
Ngalu maka padaaka tumpumo
Bemorunggana bari-baria kabumbu
Tee amatuu bari-baria andala
Tee akolendu soma-somana kakaa
Osiitumo karunggana alam
Kapupuana bari-baria batua
Afanaamo malingu kadaangia
Soomo opu molagina mobakaa
Alamu sii ambulimo anainda
Simbou duka kadaangia i azali
Pata pulu taona tua siitu
Beafana bari-baria batua
Simpoomini ambuoli adaangia
Osiitumo kadaangia molagi
Wahai diriku pegang teguh betul
Dunia ini kelak akan hancur
Angin kencang jelas akan ada
Akan menghacurkan semua gunung
Dan akan kering semua lautan
Dan gempa yang sangat dasyatnya
Itulah kehancuran alam
Penghabisan semua mahluk
Fanalah semua keadaan
Hanya Tuhan yang kekal abadi
Alam ini akan kembali tiada
Sperti keadaan sebelum lahir
Empat puluh tahun lamanya demikian itu
Akan fanah semua hamba
Baru lagi akan kembali ada
Itulah keadaan yang kekal

5.17 Cerita Mengenai Peristiwa pada Hari Kemudian
Sultan Muhammad Idrus menasihati dirinya agar mendengarkan cerita mengenai Peristiwa pada Hari Kemudian. Dikisahkan bahwa pertama-tama turun hujan rahmat yang berasal dari aras, yang langsung dari Tuhan. Hujan rahmat... itu membasahi semua kuburan serta semua jasad yang telah hancur. Hujan itu pula yang membangkitkan semua hamba ciptaan-Nya. Pertama-tama yang bangkit adalah malaikat yang empat, firman Tuhan; Pergilah kalian ke surga mengambil mahkota yang mulia, semua pakaian yang mulia, bendera kebesaran Tuhan dan buraq untuk Nabi Muhammad. Nabi Muhammad adalah hamba yang dimuliakan, rasul yang disayangi, orang yang dikasihi oleh Tuhan, Ia juga disyafaat kepada umatnya yang berdosa pada peristiwa di hari kemudian dari siksaan azab neraka. Dia jugalah yang menambah yang kurang fahalanya yaitu siapa saja umatnya yang mukmin.
Setelah para malaikat itu kembali dari surga, kemudian menelusuri kuburan Nabi Muhammad di padang masyhar. Setelah tiba di tengah-tengah padang masyhar, malaikat Jibril memanggil Nabi Muhammad “Di mana kuburanmu Muhammad? Tidak lama kemudian, terbelahlah tanah kuburan Muhammad, lalu bangkit dari kuburnya. Ia duduk pada bagian kepala tanah kuburannya sambil mengusap jenggotnya dan kepalanya serta seluruh badannya dari abu tanah kuburannya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanannya, akan tetapi belum ada seorang pun yang bangkit dari kuburnya. Ia lalu bertanya kepada Malaikat Jibril, “Jibril?, hari apakah sekarang ini?” Jawab Jibril: “inilah hari safaatmu, kelebihanmu dari Tuhan Untuk menyelamatkan umatmu yang berdosa. Nabi Muhammad langsung mengucapkan salawat dan salam, kemudian bertanya lagi kepada Jibril, “Di mana umatku ini? Barangkali sudah dalam siksaan? Jawab Jibril, “Umatmu belum ada yang bangkit”, haram bila  ada manusia yang lebih dahulu bangkit yang mendahului engkau Muhammad. Dan itulah tanda kemuliaanmu Muhammad. Tidak lama kemudian, bangkit pula Abubakar disusul Umar. Keduanya sahabat Nabi Muhammad. Mereka bertiga lalu mengenakan pakaian sorga yaitu mahkota, izar, dan sepatu. Tumpangan mereka adalah buraq yang tercepat yang dipilih dari surga. Hal ini juga merupakan tanda kemuliaan Tuhan kepada hamban-Nya  yang tiga. Kemudian mereka bertiga berjalan, lebih dahulu Nabi Muhammad kemudian Abubakar dan kemudian Umar, mengikuti sekumpulan barisan para Malaikat, yang diikuti beberapa pengawalnya. Mereka berjalan-jalan di padang masyhar yang luas. Ketika itu Nabi Muhamad berjalan sambil memperhatikan umatnya yang akan bangkit.
Malaikat Jibril meniup sangkakalanya untuk membangunkan semua isi kubur. Ketika itu semua bangkit baik Islam maupun kafir termasuk seluruh binatang. Mereka bangkit di Padang Masyhar. Setelah melihat mereka itu bangkit, Nabi Muhammad lalu bertanya kepada Malaikat Jibril, “ Jibril? Sana umatku?  Jawab Jibril,Sana bukan umatmu. Tidak lama kemudian bermunculan sekelompok manusia memenuhi berbagai tempat. Jibril kemudian berkata, “Muhammad, sana umatmu”,  pergilah Nabi Muhammad  menemui mereka. Nabi Muhammad bertanya kepada umatnya, “Bagaimana perasaan kalian tinggal di dalam kubur?  Mendengar pertanyaan itu, seluruh umat Muhammad menangis”, Nabi Muhammad menangis juga dengan sebesar-besarnya pertanda sayang kepada umatnya . Kisah tersebut disuratkan di bawah ini:
Ee karoku rangoa tula-tulana
Kadangia naile muri-murina
ßaßana akowau rahamati
Asapo mai minaka i arasi
Apepatai ßari-ßaria koburu
Amemeiki paikaro mobinasa
Orahamati amina i Opu rahimu
ßea paßangu ßari-ßaria batua
ßana ßangu naile muri-murina
Malaikati pata miana situ
Akonimo Oputa Momakana
Lipa komiu i nuncana soroga
ßeu ala makuta molaßina
Te malingu pakea momuliana
Te tombi liwaulhamdu
Te buraku mosakalina kaliga
Tao nabii ßatua ilaßiaka
Muhamadi rasulu imimiaka
Oinciamo mia imasiaka
Asafati paimia mokodosa
Ihuru-hara naile muri-murina
Te azabu sikisa naraka
Te arangani mokurana fahalana
I apaika mu mini umatina
Sambulina malaikati itu
Aminaka i nuncana soroga
Apenunumo koburuna nabita
Imuhusara maedani molalesa
Sakawana manga itanga- tangana
Agoramo ruhili Amina
Jibirulu motunggunamo wahi
Oandeana ßari-ßaria rasulu
Te ßanguna gorana Jibirilu
I apaimo koburuna Muhammadi
Salapasina gorana Jibirilu
Amawetamo tana koburuna itu
Aßangumo nabi mina i tana
Kuncura i ßana koburuna
Te asapui jangkuna momuliana
Te ßana motepenena kawondu
Te asapui ngawu tana koburuna
Apekangkilo baDana moalusuna
Te apoili i kai i kana
ßari-ßaria dangia amampada
Lausakamo abaki Jibirilu
Onabiita safili umati 
Jibirilu maipo peumbaku
Opeamo ßaraeo incia si
Akonimo Jibirilu situ
Ositumo eo safatimu
Te akakaro makamu kapujiamu
Beuagoa umatimu mokodosana
Akonimo safili umati
Alaihi salawa te salamu
I apaimo manga umatiku si
Ulana bara incanamo sikisa
Akonimo Jibirilu situ
Oumatimu indapo te moßanguna
Aharamu porikana ßea ßangu
Malinguaka i apai manusia
Tabeanamo porikanapo ingko
Te moßanguna minaka i koburu
Kaßea ßangu mia mosaganana
Itumo duka rouna kamuliamu
Kaßangu Sidiki mobanarana
Abubakara oamana Aisa
Kaßangu Umara moadilina
Rua miana sahabatina molaßi
Kapake manga talu miaia
Malinguaka pakea i soroga
Omakuta te izari momulia
Te kausu motopenena kalape
Osawikana podo buraku molaßi
Apili akea i nuncana soroga
Ositumo kamuliangina Opu
Akukumbai ßatua talu miana
Salapasina padana tua situ
Alingkamo manga talu miaia
Aporikana Sidiki te umara
Iaroana safili umati
Motutunia nabita molaßina
Sakabumbua podo malaikati
Temo duka i apai moiringia
I kanana te weta i kaina
Kambeli-mbeli manga incia situ
I muhusara maedani kalalesa
Onabita atoku-toku umatina
Te apenta paimia moßanguna
Isirafili atowi sangkakala
ßea ßanguna saßara antona tana
Sarangona suarana sangkakala
Posaßangumo paimia koburu
Oisilamu te malingu kafiri
Posaßangumo sumbe-sumbere kaomu
Kawanamo okadadi obinata
Posaßangumo naile i muhusara
Sakamatana nabita molaßina
I apaiaka mia moßanguna yitu
Akonimo nabita molaßina
Jibirilu sumakomo umatiku
Akonimo Jibirilu siitu
Manga sumako mincuana umatimu
Inda amangenge padana tua situ
Umbalakamo manusia moßari
Abuke mea i apai anguna tombu
Te malingu tarafuna mboresa
Akonimo Jibirilu situ
Muhamadi sumakomo umatimu
Alipamo nabita molaßina
Pakawaka paimia umatina
Akonimo nabita molaßina
Aßaki manga umatina yitu
Tuapamo komiu namisi miu
Umbo-mbore i nuncana koburu miu
Sarangona manga incia situ
Potangisimo ßari-ßaria situ
Onabita safili umati
Atangimo duka aoge-oge incana
Akama-kamata manga umatina yitu
Ositumo rouna kasina
Wahai diriku, dengarkanlah ceritanya
Keadaan pada hari kemudian
Mula-mula hujan rahmat
Turun naik berasal dari aras
Menyeluruh pada semua kuburan
Membasahi semua jasad yang bianasa
Rahmat itu berasal dari Tuhan Rahim
Untuk membangkitkan semua hamba-Nya
Pertama-tama yang bangun
Malaikat yang empat orangnya
Berfirman Tuhan Yang Mahakuasa
Pergilah kalian ke dalam surga
Untuk mengambil mahkota yang mulia
Dan juga semua pakaian yang mulia
Dan bendera kebesaran Tuhan
Dan buraq yang teramat cepatnya
Untuk nabi hamba yang dimuliakan
Muhammad rasul yang disayangi
Dialah orang yang dikasihi
Syafaat pada umat yang berdosa
Pada peristiwa di hari kemudian
Dan azab siksaan api neraka
Dan menambah yang kurang fahalanya
Di mana-mana mukmin umatnya
Sekembalinya malaikat itu
Datang dari sorga
Menelusuri kuburan Nabi Muhammad
Di padang masyhar tempat yang luas
Setibanya mereka di tengah-tengah
Memanggillah Ruhil Amin
Jibril yang menjaga wahyu
Sahabat karibnya semua rasul
Dengan bentuk panggilan Jibril
Di mana kuburan Muhammad
Setelah Jibril memanggil
Terbelahlah tanah kuburan Muhammad
Bangunlah nabi dari dalam tanah 
Lalu duduk di kepala kuburannya
Dan menyapu janggutnya yang mulia
Dan kepalanya yang teramat harumnya
Dan menyapu abu tanah kuburannya
Membersihkan badannya yang halus
Menoleh ke kiri dan ke kanannya
Semua masih tiada
Terus bertanya kepada Jibril
Nabi kita syafiil umat
Jibril, cobalah beri tahu daku
Apakah hari sekarang ini
Berkata Jibril itu
Itulah hari syafaatmu
Dan berdiri makam kelebihanmu
Dan engkau selamatkan umatmu yang berdosa
Bersabda Nabi Muhammad
Mengucapkan salawat dan salam
Di mana umatku ini
Barangkali sudah di dalam siksaan
Berkata Jibril itu
Umatmu belum ada yang bangun
Haram lebih dahulu bangun
Dan siapa-siapa yang namanya manusia
Kecuali engkau yang mendahului
Yang bangun dari kubur
Lalu bangun menyusul yang lain
Itulah tanda kemuliaanmu
Lalu bangun Sidiq yang benar
Abubakar bapaknya Aisah
Disusul Umar yang adil
Keduanya sahabat yang mulia
Lalu berpakaian mereka ketiganya
Semua pakaian di sorga
Mahkota dan izar yang mulia
Dan sepatu yang teramat bagusnya
Tumpangannya semua buraq yang amat cepatnya
Dipilihkan dari dalam sorga
Itulah kemuliaan Tuhan kepadanya
Menyayangi hamba yang tiga
Setelah selesai mereka itu
Pergilah mereka bertiga
Lebih dahulu Sidiq daripada Umar
Di depannya syafiil umat
Mengikuti nabi yang mulia
Sekumpulan barisan para malaikat
Dan juga beberapa yang mengiringinya
Di sebelah kanan dan di sebelah kirinya
Berjalan-jalan mereka itu
Di padang masyhar yang teramat luasnya
Nabi memperhatikan umatnya
Menantikan orang yang akan bangkit
Israfil meniup sangkakala 
Membangunkan semua isi kubur
Setelah mendengar suara sangkakala
Bangunlah semua isi kubur
Baik Islam maupun kafir
Juga binatang di dalam tanah
Semua ikut bangun
Bangun di padang masyhar
Setelah melihat nabi kita yang mulia
Orang-orang yang bangun itu
Bertanya nabi yang mulia
Jibril, sana umatku
Menjawab Jibril itu
Mereka sana bukan umatmu
Tidak lama setelah itu
Bermunculanlah manusia banyak
Memenuhi semua tempat
Dan segala susunan tempat tinggal
Berkata Jibril itu
Muhammad, sana umatmu
Pergilah nabi yang mulia
Menemui para umatnya
Bertanya nabi yang mulia
Bertanya kepada para umatnya
Bagaimana perasaan kalian
Tinggal di dalam kubur
Setelah mendengar itu
Bertangisanlah mereka semua
Nabi kita syafiil umat
Menangis juga dengan sebesar-besarnya
Melihat-lihat umatnya tersebut
Itulah tanda kesayangan pada umatnya

5.18 Mengenang Kasih Sayang Nabi Muhammad
Sultan Muhammad Idrus menasihati dirinya agar senantiasa mengenang betapa besar kasih sayang Nabi Muhammad kepada umatnya. Dengan demikian, mengapa engkau tidak patuh mengikuti petuah dan pesannya? Tetapkanlah takutmu kepada Tuhan sabarlah bila ada bala yang menimpamu serta redla terhadap semua kelalaianmu. Yang pokok, bersyukurlah kepada Tuhan yang memberi nikmat yang melimpah. Adapun nikmat yang teramat besar adalah nikmat Islam. Hal ini disuratkan di bawah ini:
Ee karoku fikiria mpu-mpu
Okasina tee manga umatina
Oopea ßara inda i turuakamu
ßeu osea i apai kasameana
Kasameana nabi ta molaßina
Tapatotapu kaekata i Oputa
Te tasabara i apaiaka bala
Te tarela te malingu kadalana
Te tasikuru i Oputa momalangana
Adawu kita ni’mati ßari-ßari
Momaogena ni’mati Isilamu
Ni’matina atopene kaßarina
Wahai diriku, pikirkan betul-betul
Kasih sayang nabi pada umatnya
Betapa engkau masih tak patuh
Untuk mengikut segala petuahnya
Pesan nabi kita yang mulia
Tetapkanlah takutmu pada Tuhanmu
Dan sabarlah bila bala menimpamu
Dan rela pada kelalaian kita
Dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Tinggi
Memberi kita nikmat yang melimpah
Nikmat-Nya amatlah banyak
Yang besar adalah nikmat Islam


5.19 Kematian Akan Datang Menjemput
Sultan Muhammad Idrus menasihati dirinya agar senantiasa mengingat peristiwa kematian kelak. Kematian itu ibarat sebuah pelayaran. Dalam pelayaran itu, sebelum angin berhembus pertanda pemberangkatan, lebih dahulu siapkan segala kelengkapan dalam pelayaran itu. Demikian halnya dengan kematian, sebab kematian itu adalah pelayaran yang tidak kembali, dan itulah yang disebut dengan pelayaran yang sesungguhnya. Siapa pun yang pergi pasti tidak akan kembali. Kematian itulah yang dinantikan orang alim dan yang diharapkan orang saleh. Adapun kelengkapan pelayarannya yang paling baik adalah iman dan tasdiq yang teguh. Tiang perahu ambilkan Khauf, layarnya bentangkan rajaa, tawadu, layarnya terdepan, Mutjahid para pendayungnya, riyadat kelengkapan temalinya, kinaat kelengkapan pengikatnya, ihlas hati penentuh arah tujuannya, Qur’an dan hadits nabi pedomannya, Benderanya pasangkan zuhud, fandelnya zikir dan tasbih, juru butunya sarai yang lahir, juru mudinya ilmu batin, yang menimba air ilmu dari guru, nahkodanya hidayah dari Tuhan. Apabila persiapan berlayar itu telah lengkap, bertawakallah kepada Tuhan. Kapan angin telah bertiup yang menandakan waktu berlayarmu, luruskanlah haluan perahu itu, putuskan hubungan dengan penduduk negeri tempat tinggalmu, juga termasuk semua sahabat dan keluarga seisi rumahmu. Mulailah dengan sebuah keputusan yang tetap “ZIKRILLAH LAA ILAHA ILALLAHU”. Apabila ada gangguan setan sementara dalam pelayaran, tetapkanlah haluan perahu itu, jangan turunkan layarnya. Itulah angin topan yang bakal menyebabkan perahumu pecah. Dan apabila salah haluan perahu dan menyebabkan pecah, itulah kerugianmu pada hari kemudian yang disebut su’ul hatimah, dan lepaslah dari umat Nabi Muhammad serta salahlah dari millati Islam. Hal ini disuratkan di bawah ini:
Ee karoku mate pada aumbamo
Ngalu hela padaka atumpumo
Pamondo mea kasangkana sawikamu
Pentaka wakutuna helamu
Matemo itu hela inda moßancule
Ositumo ßose mosatotuuna
Indamo ambuli paimia molingkana
Moporopena i dala incia situ
Matemo yitu intana alimu
Itoku-tokuna paimia salihi
Kasawika motopenena kalape
Oimani tasidiki momatangka
Kokombuna ala akea haufu
Kokombuna ßakea-kea rija
Tawadu ßetao kapaßelona
Mosahida ßetao paraßosena
Ria dalati kamondona rabutana
Kinati kasangkana kaßokena
Ulina yitu mopatotona porope
Oihilasi totona inca mangkilo
Opadomana mosusuakana dala
Okurani te hadisina nabi
Obanderana sulakea zuhudu
Tombi-tombina zikiri te tasubehe
Juru ßatuna sarai lahiri 
Juru mudina ilimu batini
Mopolumena madadi mina i guru
Anakodana hidayatina Opu
Asangkaka kamondona hela yitu
Tawakalamo poaromu i Opumu
Adikaka ngalu ihelakamu
Patoto mea poropena ßangka yitu
ßotuki mea lipu imboresa
Masirahamu te antona ßanuamu
Pepu mea kambotu motopenena
Zikirllahu lailaha illaullahu
Neakawako garurana setani
Tangasana dangiapo uhela
Patoto mea poropena ßangka yitu
Pangawana ßoli ataurakea
Osiitumo uso imapasaka
Neatosala poropena ßangka yitu
Amapasaka Bangka incia situ
Tokarugimu naile muri-murina
Ositumo kampada momadaki
Isarongimo sulu haatima
Alapamo Beumatina nabi
Asala mea millati Isilamu
Wahai diriku, kematian nanti akan datang
Angin untuk berlayar sudah akan berhembus
Siapkan kelengkapan tumpanganmu
Menantikan waktu berlayarmu
Mati itu pelayaran yang tidak kembali  
Dan itulah pelayaran yang sesungguhnya
Tidak kembali semua yang pergi
Yang menuju di jalan itu
Mati itu yang dinantikan orang alim
Yang diharap-harapkan orang saleh
Dan tumpangan teramat baiknya
Iman dan tasdiq yang teguh
Tiang perahu itu ambilkan khauf
Layarnya bentangkan rajaa
Tawadu untuk menjadi layar terdepan
Mujahid untuk para pendayungnya
Riyadat kelengkapan tali-temalinya
Kinaat kelengkapan pengikatnya
Kemudian penentu arah tujuan
Ihlas hati yang bersih
Pedomannya penunjuk jalan
Qur’an dan Hadis nabi
Benderanya pasangkan zuhud
Fandelnya zikir dan tasbih
Juru batunya sarai yang lahir
Juru mudinya ilmu batin
Yang menimba air ilmu dari guru
Nahkodanya hidayah dari Tuhan
Kalau sudah lengkap kelengkapan berlayar itu
Tawakallah menghadap Tuhanmu
Kapan angin berlayarmu sudah akan bertiup
Luruskan haluan perahu itu
Putuskan negeri tempat tinggalmu
Sahabat kenalanmu dan seisi rumahmu
Mulailah dengan keputusan yang tetap
Zikirilah lailaha illallahu
Jika kamu didatangi gangguan setan
Sementara engkau dalam pelayaran
Tetapkan haluan perahu itu
Layarnya jangan engkau turunkan
Itulah angin topan yang menjadikan pecah perahumu
Jika salah haluan perahumu itu
Kalau pecah perahumu itu
Kerugianmu kelak pada hari kemudian
Itulah penghabisan yang tidak baik
Itulah yang dinamakan akhir kejelekan
Sudah lepas dari umat nabi
Tersalahlah dari millati Islam




BIBLIOGRAFI

Ikram, Achadiati, 2002. Katalog Naskah Buton Koleksi Abdul Mulku Zahari, Jakarta; Yayasan Obor Indonesia.

La Niampe, 1998. ”Kabanti Bula Malino: Kajian Filologi Sastra Wolio Klasik’. Tesis Magister Universitas Padjajaran.

.................., 1998. ”Undang-Undang Kesultanan Buton”. Kertas kerja di Simposium International Manassa II di Pusat Studi Jepang, UI Depok.

.................., 1999. ”Nasihat Haji Abdul Ganiu Kepada Sultan La Ode Muhammad Idrus Qaimuddin”. Kertas kerja di Simposium International Manassa II di Graha Bhakti Budaya, TIM Jakarta.

.................., 1999. Naskah-naskah Buton Berbahasa Wolio. Penelitian Kerjsama Bappeda Tk. II Buton dengan Manasaa Cabang Buton.

.................., 2000. Haji Abdul Gani Penentu Undang-Undang Kesultanan Buton. Kuala Lumpur: Pusat Penyelidikan dan Penyebaran Khazanah Islam Klasik dan Moderen Dunia Melayu.

Sailan, Zalili, 1998. ”Bahasa dan Aksara Naskah Buton”. Kertas Kerja di Seminar Nasional Manassa Cabang Buton di Bau-Bau.

..................., 1999. “Naskah Buton: Inventarisasi dan Pencatatan”. Projek Kerjasama Bappeda Tk. II Buton dengan Manassa Cabang Buton.

Zahari, Abdul Mulku. 1977. Sejarah dan Adat Fij darul Butuni. Jakarta: Depdikbud

Zuhdi, Susanto, 1999. Labu Rope Labu Wana; Sejarah Buton dalam Abad XVII-XVIII. Disertase Program Pascasarjana, Universitas Indonesia


Bacaan Terkait:

Buku Tembaga dan Harta karun Wa Ode Wau dalam Pelayaran Tradisional Buton 



                                                                                                         


[1] Disampaikan pada Seminar Internasional “Menggali Khazanah Kebudayaan Melayu di Sulawesi Tenggara” tanggal 13 Juli 2007
[2] Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Haluoleo