Rabu, 23 Februari 2011

WANIANSE

Bagian 7
Suasana malam, bulan purnama menyinari tanpa awan, sementara teriakan anak-anak yang bermain di bawah sinar bulan memecahkan malam, Wanianse dan beberapa orang temannya mendiskusikan beberapa tim dari calon-calon bupati yang dating tadi siang.
“Saya heran, mengapa mereka datang hanya membawa kecongkakan, bukan membawa program, masa mereka hanya menilai kita dengan uang,” keluh Wanianse membuka kesunyian. Sementara matanya menatap bulan yang terang menyinari wajahnya yang tambah cantik di bawah rembulan.
“Iya, saya juga heran, mengapa mereka menilai masyarakat bahwa kalau kita sudah diberi uang kita akan memilih mereka,” sambung tentangganya.
“Jadi bagaimana? Apa yang akan kita lakukan?,” Tanya Wanianse.
“kalau menurut saya, saat ini masyarakat harus menyadari bahwa untuk ke depan, pemerintah harusnya memberikan yang terbaik untuk kita, jadi mereka harusnnya membicarakan program, karena itu sekaligus janji mereka yang dapat menjadi ukuran kinerja mereka di masa depan,” kata salah seorang mahasiswa yang baru saja pulang dari Kendari.
Wanianse terpikir, “bagaiamana mungkin, pembangunan dapat berjalan baik, jika calon-calon ini masih tetap memperdagangkan masyarakat. Kalau mereka sudah membeli suara rakyat, maka pasti mereka akan mengabaikannya,” ungkap Wanianse sambil menyalakan api sebagai penghangat dalam diskusi mereka. Sementara posko-posko tim sukses sudah dipadati oleh anggotanya, mereka telah membentuk kelompok-kelompok yang radikal terhadap dukungannya. Bahkan pada beberapa kampong tetangga, tim-tim itu sudah saling mengancam.
Pemuda dari kendari itu kemudian melanjutkan bicaranya, “Dari pada kita diskusi tentang Pemilu Kada, lebih baik kita bakar-bakar jagung kah? Ini pasti akan lebih santai dan lebih menambah nikmatnya malam.
Lelaki itu mengambil gitarnya, sementara lampu listrik sudah beberapa kali berkedip, pertanda bahwa jam setengah sepuluh malam sudah beberapa menit lagi. Semua masyarakat yang mengambil listrik sibuk mengambil lampu minyak.
Lantunan nada dari gitar itu mulai mengalun, sementara lirik-lirik kabanti juga mengalir dengan derasnya.
“Wa Ina na moniasinto”
“E tekambose topo pengkane
Music dari gendang mengalun mengikuti dana gitar itu, suasana menjadi hangat ketika wanianse menjawab banti yang dilantunkan oleh teman lamanya itu.
“E temoniasinto wa ina”
“e te hale kumonta te togo”
Kemudian lelaki teman lama wanianse tersebut, membalasnya lagi bahwa
“E ara to konta te togo”
“e tokontane te ngangaranda”
Sambil menyalakan api tetangga wanianse juga ikut menjawab lantunan kabanti tersebut.
“Patoro la tuha patoro”
“te ido mami di bahu’u”
Lantunan-lantunan kabanti tersebut kemudian mengalir, dan malampun mulai larut, sementara angin malam sudah mulai menusuk kulit. Untuk saja api unggun itu juga tetap menghangatkan bagian muka.
“Rupanya kampong kita ini, masih sangat indah jika kita hidup seperti ini, andaikan saja tidak ada pilkada, maka kita dapat bergabung semua dan bernyanyi, tanpa ada perbedaan pilihan,” ungkap wanianse ketika bunyi gitar itu berhenti.
“Itu dia,” kata La Donso yang bermain gitar, lelaki teman sekolah wanianse.
“Betapa indahnya, kalau masyarakat disini dapat mengikuti pendidikan semua, coba lihat beberapa tahun yang lalu, SMP masih di Togo dan Waha, sekarang anak-anak sudah dapat sekolah di sini. Tamat juga dapat melanjutkan pendidikanya di SMK, walaupun masih swasta, tetapi jarak itu sudah tidak menjadi masalah,” ungkap Wanianse.
“Dulu, sewaktu saya masih sekolah di Tsanawiah dan Aliyah, kami sering jalan kaki ke Togo, tentunya kalau tiba di sekolah, kita sudah capek, tidak dapat belajar dengan baik, tinggal di rumah keluarga, sibuknya minta ampun. Sekarang, anak-anak tidak perlu merasakan itu lagi.
“Makanya, sekarang ini, kampong kita ini tinggal pekerjaan cari uang yang dibutuhkan. Kiranya calon bupati dan wakil bupati itu harus datang untuk menyiapkan lapangan kerja, bukan hanya datang cerita tentang berapa kita akan di beri uang, lalu pilih mereka,” lanjut la Donso.
“Kita berdoalah, semoga mereka dapat mengubah cara kampanye mereka, agar kita dapat percaya pada mereka. Jangan sampai kita hanya dibodoh-bodohi lagi.” Ujar yang lain.
Suasana yang semakin larut, membuat kampong itu semakin sunyi. Lalu datanglah seorang kakek kemudian duduk, rupanya ia sejak tadi mengikuti diskusi itu.
“Dulu, seorang pemimpin itu harus malu, sebab kalau tidak malu, maka mereka akan berbuat sekehendak hatinya. Rakyat dianggapnya sebagai budaknya, negeri dianggapnya sebagai miliknya, serta sering kali melakukan lempagi.
Dulu, ada seorang sultan buton (Oputa I Gogoli) ketika berbuat salah, maka ia pun merasa malu karena perbuatannya, maka ia rela disembeli oleh sara. Waktu itu ia terbukti mengganggu istri orang, sultan disembelih. Bagaimana dengan orang yang mengambil harta Negara, semestinya juga harus malu.
Kemudian di zaman dulu, tanah-tanah ini sangat diperhitungkan oleh Kesultanan, belum banyak orang yang menjual tanah,” orang tua itu berceloteh panjang lebar.
“Kalian tahu, arti sejengkal tanah?” matanya menatap Wanianse, La Donso dan semua yang hadir.
“Sejengkal tanah lebih bermakna dari pada tubuh kita”, karena itu, dulu semua tanah-tanah strategis selalu dijadikan tanah adat, termasuk pantai. Misalnya kaluku kapala, motika, kaindea, dan beberapa tanah strategis yang ada”. Orang tua itu kemudian berhenti dan pulang.
Namun di benak wanianse terbayang pertanyaan, apa itu kaluku kapala, dimana tempatnya? Dan mengapa terpilih menjadi tanah adat? Gimana statusnya sekarang.
Karena tidak ada gali yang bercerita, satu persatu mereka pulang dan tidur, sementara anak-anak muda yang biasanya main domino di bawah sinar lampu jalan, bergegas ke bantea untuk tidur.
Wa nianse pun naik ke rumah, tetapi di kepalanya penuh dengan pertanyaan mengenai status kaluku kapala yang diucapkan oleh orang tua itu, “Gimana statusnya di zaman kesultanan?”.

Bersambung….

Selasa, 22 Februari 2011

Pengembangan SDM Wakatobi harus melebihi Indonesia secara umum

Memasuki percaturan Global, Wakatobi harusnya memiliki kesiapan SDM yang lebih mampu bersaing dan memiliki keahlian yang lebih profesional. Untuk itu, angka partisipai kasar masyarakat Wakatobi ke Perguruan Tinggi harus ditingkatkan, agar dapat melendekati Korea selatan yang 90% sekurang-kurangnya Amerika Serikat yang 60%. Jika tidak, Wakatobi akan tetap tertinggal sebagaimana Indonesia secara umum. Hal ini sebagaimana dilansir oleh Kompas, tanggal 22 Februari 2011 yang mengatakan bahwa Angka partisipasi kasar (APK) Indonesia ke pendidikan tinggi hanya 18,7 persen. Hal itu berarti pekerjaan rumah pendidikan tinggi di Indonesia masih sangat besar, terutama upaya menciptakan kampus menjadi bernuansa akademik yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.

"Ukuran orang pintar itu sangat sederhana. Jumlah anak-anak yang belajar di perguruan tinggi dibagi dengan anak-anak yang seharusnmya belajar di perguruan tinggi. Ternyata angka partisipasi kasar (APK) Indonesia ke pendidikan tinggi hanya 18,7 persen," kata Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional Prof Djoko Santoso, Rabu (23/2/2011), terkait peresmian Pusat Bahasa Mandarin di Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, Selasa (22/2/2011) kemarin.

Ia mengatakan, jumlah mahasiswa Indonesia 4,6 juta, sementara anak usia yang harus belajar di perguruan tinggi mencapai 25 juta. Jika dibandingkan APK negara maju yang mencapai 40 persen, Indonesia harus bekerja keras untuk mencapai angka itu. Amerika Serikat misalnya, memiliki APK 60 persen dan tertinggi Korea Selatan yang mencapai angka 90 persen.
Untuk itu, Pembangunan Wakatobi seharusnya mampu melebihi APK Indonesia di perguruan tinggi, tetapi ini hanya dapat dilakukan apabila pemerintah daerah memiliki data tentang jumlah generasi muda yang memiliki umur untuk ikut kuliah diperguruan tinggi. Selain itu, saatnya Pemerintah kabupaten Waktobi (bupati terpilih) untuk mengambil kebijakan menganggarkan pendidikan di perguruan tinggi dengan dana APBD di atas 10 milyar pertahun.
Ini Memang perlu keberanian untuk mengejar Korea Selatan dan Amerika, karena secara potensial masyarakat Wakatobi atau anak-anak Wakatobi, memiliki keinginan  untuk kuliah, hanya saja mereka mengalami kendala biaya.

Sabtu, 05 Februari 2011

WANIANSE

Wanianse
bagian VI

setelah malam, wanianse mengajak kedua anaknya mendengarkan cerita di rumah nenek. berjalnlah merek bertiga di bawah purnama yang menyinari kampungnya. untung saja ada sinar bulan. beberapa jarak mereka berjalan, tiang lampu yang belum lama dibangun pemda terlewati, listrik tenaga surya itu menyinari menambha terang sinar bulan, semntara angin laut menghangatkan langkah kakinya.

setiba di rumah nenek, Wanianse memanggil ibunya, "Ibu, assalamu alaikum.
dari dalam rumah panggung itu, "Waalaikum salam".
la ijo dan wa leja langsung naik ke dalam rumah, mereka beruda mencium tangan neneknya.

"Nenek, ciritakan kita dong, seperti biasa, saya mau datang ke rumah nenek untuk mendengarkan cerita nenek," kata wa leja sambil menarik tangan neneknya ke dekat lampu minyak.

maka duduklah nenek dan wanianse di dekat lampu minyak, sementara la ijo dan wa nianse berbaring, sarung mereka menutup sampai di ujung jari kakinya, wa leja di tengah antara kaki neneknya dan la ijo.
"Mau cerita apa toh?' tanya neneknya.
La kolo-kolopua dengan landoke-ndoke" nenek, tetapi yang baik ya?

Ok, jawab neneknya. semnatra wanianse juga ikut mendengarkan
begini ceritanya.

suatu waktu, di zaman dahulu, landoke-ndoke dengan lakolo-kolopua berteman. kemana saja mereka berteman. ke gunung sama-sama, ke laut juga sama-sama. maka ketika mereke berjalan menuju gunung, mereka melawati perkampungan manusia yagn sedang menangis.
bertanyalah la kolo-kolo pua, "Mengapa kalian menangis?"
menjawablah orang-orang itu, "Baru saja raja kami meninggal," urai orang itu.
"Jadi, mengapa kalian menangisinya? tanya landoke-ndoke.
"karena Raja kami sangat baik pada kami, ia tidak mementingkan diri dan keluargnya, ia mementingkan kepentingan rakyat banyak.jawab orang itu lagi.

"oh, begitukah? landoke-ndoke heran, dimana mayatnya? tanya landoke-ndoke.
"kami sudah kuburkan, kami tidak mau ia tersiksa di dalam tangis kami," jawab seroagn lagi.

"Apa lagi yang kalian pusingkan? jangan tangisi dia lagi, agar arfahnya bisa menjadi tenang di akhirat sana," jawab yang lain,
nenek tetap semangat bercerita, sementara wa leja dan la ijo beberapa kali membolak-balikan tubuhnya dan telinganya tetap mendengarkan cerita neneknya.

"lalu bagaimana lagi nenek? desak wa leja ketika nenejknya memberi jedah pada ceritanya.

maka menjawablah orang-orang kampung itu, "bahwa kami belum mendapatkan calon penggantinya."
landoke-ndoke dan lakokolopua saling menatap, dan landoke membisik la kolopua agar bagaimana kalau kita jadi pemimpin mereka?
"boleh, yang penting kita dapat memberikan yang terbaik untuk mereka", jawab lakolopua.
"bagaimana kalau kami berdua menjadi raja kalian?" tanya lakolopua pada penduduk kampung itu.
"Bisa saja, asal kalian dapat jujur dan terbuka pada rakyat kami. Tidak mementingkan diri sendiri seperti raja kami, tidak mementingkan partai seperti raja kami, dan yang terpenting lagi adalah mau meningkatkan SDM di negeri ini.

"Itu tidak ada masalah, jawab la ndoke-ndkoe, sebab itu adalah tujuan kami melakukan perjalanan ini.

besoknya, maka berkumpullah semua warga negeri itu, dan hadirlah di situ seekor kancil.
ketika landoke-ndoke dan lakolo-kolopua hadir di atas mimbar untuk membawakan pidato, maka lompatlah kancil dan mengabil microfon dan berkata, "Saudara-saudara, kita baru saja kehilangan seorang raja, dan sekarang akan hadir di depan kita seorang calon dara dan perdana mentri. hanya sebelum mereka dinobatkan sebagai raja dan perdana mentri, saya mau bertanya pada mereka,"

"Apakah mereka berdua ini, mau bekerja untuk kesejahteraan negeri ini atau mau bekerja untuk kelompok dan partainya?
"La Ndoke dan lakolopua saling menatap, dan melangkah la ndoke ke depan dan berkata, kami hanya mau mengbdi pada rakyat, dan bukan untuk kepentingan pribdi kami.
"maka si kancil, begerak ke arah pengeras suara dan berkata, mudah-mudahan, kita dapat membangun negeri kita dengan pasangan ini. ttp ingan saudara-saudara, mereka telah berjanji di depan kita bhawa mereka mau bekerja untuk kita".

Maka dilantiklah lakolo-kolopua sebagai raja dan landoke-ndkoe sebagai perdana mentri.
setelah membentuik kabinet, ka kolopua membuat perencanaan pembanguan negerinya dengan sangat seksama, turun mendengarkan kebutuhan rakyatnya, ia berjalan dari kampung-ke kampung memperkuat pengetahuannya tentang kebutuhan masyarakat, mengadakan dialog dengan masyarakatnya.
maka terwujudlah rencana pembangunan negerinya dengan benar. dan hanya satu kendalanya, yaitu tidak ditemukannya orang ytang dapat menyusun seluruh perencanaan itu dengan baik. seluruh pegawainya tidak mengerti, tidak tahu bekerja, maka diutuslah anjing untuk menelusuri sebab mengapa pegawai tidak dapat bekerja seperti itu? dan tiga hari kemudian, angjing melaporkan bahwa walaupun raja di kampung ini adil dan sangat disukai oleh masyarakat, tetapi perdana menteri merekrut pegawai dengan cara membayar dan nepotisme.

maka dipanggillah la ndoke-ndke sebagai perdana mentri baru, untuk menyusun perencanaan pembangunan bersama raja, maka ditemukan masalah untuk memajukan negeri ini agar lebih maju lagi adalah dengan meningkatkan anggaran pendidikan, agar anak-anak di negeri ini dapat memiliki kesadaran dan dapat memberikan kontribusi dalam pembanguan kampungnya.
setelah mereka bekerja dengan jujur, memberantas korupsi, bekerja untukrakyat, meningkatkan SDM, maka negeri itu menjadi makmur dan kaya raya, tidak ada lagi penerimaan pegawai yang harus membayar, tidak ada lagi nepotisme, dan masyarakat sudah mulai bekerja dengan baik. mereka semua sejarhtara. hahaha

"Nenek, kapan kampung kita sepetrti itu nek"? tanya wa leja.
wanianse dan nenek hanya tertawa, dan berkatalah wa nianse, "Ketika pemimpin kita dapat berpikir untuk membangun negeri kita.
maka tertidurlah la ijo dan wa leja dengan tenang

bersambung.............

Wakatobi: Memahami Kembali Kebudayaan kita

Sumiman Udu 05 Februari jam 21:32
5 Feb 2011

Menghadapi beberapa minggu ke depan yang tidak menentu, dimana masyarakat Wakatobi akan menentukan pemimpinnya di masa depan, maka diperlukan suatu perenungan tentang esensi kebudayaan Wakatobi. Kebudayaan yang telah menjadi identitas masyarakat Wakatobi.
Masyarakat Wakatobi sebagai salah satu wilayah barata dalam Kesultanan Buton, tentunya memiliki nilai-nilai budaya yang mendukung pengembangan Wakatobi di masa depan. Dalam hubungannya dengan itu, Wakatobi memiliki konsep Kangkilo/kabusa yaitu konsep dasar peletakan identitas islam yang dimodifikasi dalam kebudayaan buton.
Dalam kontes itu, masyarakat Wakatobi memiliki konsep kesucian lahir dan batin. suci niat dan suci tubuh sehingga segala langkah dan perbuatan kita berada dalam ranah kesucian (keilahian). Suci niat artinya, jangan pernah berpikir untuk merusak atau merugikan orang lain, misalnya mengambil hak orang lain, mengecewakan orang lain, dan segala hal yang merusak niat kita, mengotorinya. Karena niat yang dibentuk oleh pikiran dan jiwa manusia senantiasa di jaga pada posisi netral, (fitrah). sedangkan suci fisik (tubuh) senantiasa masyarakat Wakatobi harus menjaga dua hal, pertama adalah menjaga berbagai hal yang akan masuk ke dalam tubuhnya, (makan, minum) apakah halal atau tidak? suci atau tidak, dan kedua, apakah yang dia lakukan atau berikan baik dalam bentuk kata-kata juga suci atau tidak? apakah merusak atau mengganggu manusia dan alam atau tidak? sesuai dengan anjuran Ilahi atau tidak?
Ini merupakan landasan kebudayaan Buton yang dibutuhkan untuk menghadapi masa-masa yang tidak menentu di Wakatobi beberapa minggu ke depan. Sehubungan dengan itu, masyarakat Wakatobi sudah saatnya untuk merenungi kembali, apakah masyarakat Wakatobi menginginkan seorang tokoh yang dapat menjaga kebudayaannya, sehingga dalam berpolitikpun harus memperhatikan aspek-aspek niat dan tingkah laku dari calon bupati dan wakil bupati di masa depan, karena itu, akan banyak berpangaruh dalam masa depan pembangunan Wakatobi lima tahun ke depan.
Oleh karena itu, diharapkan masyarakat Wakatobi juga harus menggunakan kriteria budaya dalam memilih calon bupati dan wakil bupati di masa depan. Apakah selama perjalanan seorang calon, penuh dengan nilai-nilai budaya? Apakah pemikiran dan tingkah laku calon bupati dan Wakil bupati telah memenuhi standar dasar budaya masyarakat wakatobi?
Tentunya, tidak ada calon yang sesuci nabi, karena mereka manusia, tetapi jika masyarakat wakatobi mau menjadikan Wakatobi menjadi salah satu negeri yang diperhitungkan di dunia Internasional, maka indikatior dasar kebudayaaan itu harus diperhitungkan dalam pemilihan di masa depan.
Apakah calon bupati itu, masih mementingkan harta? Jika mereka masih terlalu cinta pada harta, maka itu adalah pemimpin itu pasti serakah. Jika mementingka diri dan keluarganya? maka pasti akan korupsi, jika mementingka kampung halamannya? maka ia pasti nepotisme dan jika mereka sudah mementingka hukum? maka akan ada keadilana, dan jika mereka mementingkan agamanya? maka akan melahirkan kedamaian, kesejahteraan, karena Islam adalah rahmatan lilalamin.
Kiranya, nilai-nilai kesucian merupakan indikaator dalam memutuskan siapa yang akan menjadi pemimpin Wakatobi di masa depan.

Selasa, 01 Februari 2011

CHILDREN OF REEF


By. Sumiman Udu and Omar Pidani

I swam over the sea restlessly
Crawling through seabed of reefs relentlessly
In search of the paths of my ancestors histories
now crafted perfectly
in our lullabies and telling stories .

Hmm, they’ve all vanished tragically
All these nests are burnt out into pieces
And those sands are not things in common
Yet, where is Kaluku Sara
Where is Motika
Where is Kaindea
And where is Untu, Bungi and Sangia

Don’t come and bother us, when we’re hopeless
Don’t come and buy our piece of earth in the middle of our poverty
Don’t ruin our live in the middle of our ignorance

Stopi it please, stop it !!
Stop all the lies
As we’re human just like you
We need food, shelter and love
Not the crows’ humming
Coming out of a lion’s mouth
That resembles wolf’s death woofing

We’re dying
Because our tears are drained
From fire you turn to dry them on
The rest have spilled over
To fill up the court’s room

MERAJUT KEINDONESIAAN


 
oleh: 
ABD RAHMAN HAMID
Staf Pengajar Sejarah FIB Universitas Hasanuddin

Pada kali pertama berkunjung ke Buton tahun 1999, bahkan hingga kini, saya mendengar perkataan bahwa “Buton bukan Indonesia”. Pasalnya, negeri ini tidak pernah dijajah oleh Belanda. Sehingga, dengan demikian, tidak memiliki pengalaman masa lalu yang sama dengan daerah-daerah lainnya untuk menjadi Indonesia. Lebih lanjut, Indonesia yang dihasilkan dari pergumulan pemikiran para pendirinya, pada sidang-sidang BPUPKI dan PPKI, juga ditegaskan dalam diktum 3 Perjanjian Linggajati 1947, adalah wilayah bekas jajahan Belanda.
Wacana ini sangat menarik ditengah upaya keras pemerintah menyempurnakan Indonesia. Bagaimanapun, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dalam bahasa doktrinal tentara, sudah harga mati. Tetapi, meskipun demikian, Indonesia bukanlah pula barang jadi, atau simpul politik yang langsung diterima seratus persen oleh masyarakat yang kini menjadi keluarga politik Indonesia. Pada konteks inilah, peran penting dan nilai strategis pengungkapan sejarah sebagai fundamen dalam mengindonesia.
Endemisnya pemikiran tersebut tidak dapat ditolak begitu saja, atau diterima sepenuhnya, sebagai fakta ingatan kolektif masyarakat Buton yang masih hidup hari ini. Karena itulah, kita perlu bertamasya kembali pada relung-relung sejarahnya, terutama dalam kaitan hubungan diplomatik Negara Barata Buton dengan Belanda, berikut dinamika yang menyertainya.

Yang (masih) diingat
Pada abad ke-17, Buton pada masa Sultan La Elangi Dayanu Ikhsanuddin (1597-1633) pertama kali menandatangi kontrak politik abadi (Janji Baan) dengan Kompeni Belanda pada 5 Januari 1613. Dalam kontrak ini, Kompeni yang diwakili oleh Kapten Scotte berjanji akan membantu melindungi Buton dari segala ancaman musuh. Sebaliknya, Buton akan membantu Kompeni dalam perang (ke Solor) dan melindungi kepentingan pelayaran dan niaga maritimnya di Buton (Zahari 1977).
Tak heran, jika dalam buku Ikhtisar Keadaan Politik Hindia Belanda 1839-1848 (ANRI 1973) dikatakan, “Kerajaan ini [Buton] tergolong sahabat Belanda yang lama”. Pada kitab ini pula diungkap jasa Buton terhadap Belanda, antara lain, dalam Perang Diponegoro (1825-1830). Atas jasa itu, Belanda membantu Buton mengatasi masalah gerakan pemberontakan di Kepulauan Tukang Besi (sekarang WAKATOBI) pada tahun 1848.
Pada abad ke-19, ketika Belanda berupaya membulatkan daerah jajahannya, melalui kebijakan Pax Neerlandica, dibuat tiga kategori wilayah kekuasanya di Sulawesi yaitu: (1) negeri-negeri yang langsung dibawah kekuasaan Belanda, (2) kerajaan-kerajaan yang tidak langsung dibawah pemerintahannya, dan (3) kerajaan-kerajaan yang merdeka. Dasar kategori terakhir adalah adanya ikatan khusus dengan Belanda. Buton dalam konteks itu merupakan kerajaan yang merdeka. Selain karena pernah menjadi sekutunya di abad ke-17, terutama dalam Perang Makassar (1666-1669), Sultan Buton Kaimuddin telah menandatangi Perjanjian Bungaya yang diperbaharui 1824. Karena itu, terhadap Kesultanan Buton, Belanda hanya menuntut pengakuan kedaulatannya.
Hubungan diplomatik tersebut dominan memproduksi ingatan kolektif masyarakat Buton hingga kini, sehingga tak jarang rumusan politik negara-bangsa (Indonesia) ditampiknya. Ironisnya, jika fondasinya adalah sejarah, proses panjang yang utuh dari kisah diplomatik itu dilupakan, yakni dinamika dan perubahan pola hubungan kedunya, hingga akhirnya Buton terintegrasi didalam kuasa pemerintah Hindia Belanda.

Yang (sudah) dilupakan
Satu tahun setelah Janji Baan 1613, seperti dikemukakan oleh Jan Pieters dalam kunjungannya ke Buton, Buton sudah tidak penting lagi bagi Belanda. Serdadu-serdadu Belanda dan delapan buah meriam yang ditempatkan di sana diangkut kembali pada tahun 1615. Hal itu menimbulkan reaksi dari Buton karena Belanda tidak menepati janjinya. Walhasil, Buton melakukan sejumlah penyerangan terhadap armada Belanda, antara lain, Kapal van de Fluit Velzen di Wawonii tahun 1635, atas perintah Sultan. Sebaliknya, Belanda dibawah pimpinan van Antonie Coen menyerang dan berhasil memporak-porandakan benteng pertahanan Buton di kawasan pesisir tahun 1638  .
Meskipun demikian, kepentingan Belanda atas (di) Buton tak kunjung surut. Dalam abad ke-19, kembali diukir janji politik dengan Buton di masa Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin, tanggal 19 Februari 1824. Kali ini hubungan keduanya diasosiasikan dengan “Ayah-Anak”. Dalam hal ini, Belanda sebagai Ayah dan Buton selaku Anak. Keduanya saling membantu dan menghargai sesuai kedaulatan politiknya masing-masing.  
Tetapi, ketika Inggris mencapai langkah maju di Serawak 1845, dan ini dipandang dapat mempengaruhi keutuhan wilayah kuasannya, Belanda bergiat menguatkan simpul politiknya. Pada 28 Agustus 1873 dicapai perjanjian antara Sultan Buton Kaimuddin III dengan Belanda yang diwakili oleh A. Ligtvoet (ketika itu menjabat Sekretaris Urusan Dalam Negeri Hindia Belanda), bahwa Buton berada dibawah kekuasaan Kerajaan Belanda. Dengan demikian, pudar sudah status politiknya sebagai kerajaan yang merdeka.
Asosiasi hubungan Ayah-Anak pun juga berubah menjadi “Tuan-Hamba”, atau antara yang berkuasa (Belanda) dan yang dikuasai (Buton). Rona hubungan ini dikukuhkan melalui Perjanjian Sultan Buton Muhammad Asyikin Aidil Rakhim (1906-1911) dengan Residen Belanda Brugman pada 8 April 1906; yang lebih dikenal dengan Perjanjian Asyikin-Brugman.
Sejak saat itu Buton, yang telah kehilangan pesona politiknya sebagai kerajaan merdeka dan berdaulat, terintegrasi penuh kedalam wilayah pemerintahan Hindia Belanda. Bendera Belanda wajib dikibarkan, baik di darat maupu di laut. Buton juga tidak boleh mengadakan hubungan dengan kerajaan atau kekuatan asing lainnya, kecuali dengan atau atas persetujuan Belanda.
Menariknya, dalam abad ini tasawuf juga berkembang pesat di Buton (Yunus 1995), dengan tokoh utamanya adalah Sultan dan bangsawan keraton. Tampaknya, cara ini efekif dan menjadi alternatif dalam usaha memulihkan wibawa kesultanan lewat jalur agama, setelah tertutup katupnya di ranah politik pasca Perjanjian Asyikin-Brugman 1906, sehingga kesultanan tetap hidup sampai tahun 1960 (Schoorl 2003).

Dirajut Kembali
Deretan fakta tersebut jelas dan tegas menunjukkan bahwa Buton adalah bekas wilayah kuasa politik Belanda atau Hindia Belanda. Dengan demikian, meminjam pesan ilmiah Ernest Renan tentang dasar pembentukan negara-bangsa, Buton memilik roman masa lalu yang sama dengan daerah-daerah dan masyarakat lainnya sehingga menjadi anggota keluarga politik Indonesia. Apa pun dalilnya, bahwa “Buton bukan Indonesia”, tidak memiliki pijakan historis yang kuat. Paling banter dikatakan sebagai ingatan yang tercecer dan kini masih hidup dalam masyarakat Buton.
Akhir kata, perlu upaya penguatan ingatan sejarah bangsa, terutama dalam kaitan diplomatik Buton dengan Belanda, untuk merajuk kembali Indonesia. Tetapi, itu hanya dapat dicapai bila akses sumber sejarah dipermudah. Dan, cara berpikir dan laku bahwa sejarah Buton sulit diungkap, atau belum saatnya untuk diceritakan sudah seharusnya ditimbang kembali, jika tak mau generasi baru Buton kehilangan akar jatidirinya sebagai anak bangsa Indonesia, dan pada lakonnya sebagai aktor sosial ditengah komunitas global (globalisasi) dewasa ini. Semoga!

ANAK-ANAK KARANG



Oleh: Sumiman Udu

Aku merenangi lautan tanpa lelah
Menyusuri setiap tebing-tebing karang
Menyusuri setiap jejak leluhur
Yang terukir dalam cerita
Pengantar tidur

Ah, rupanya ruangku sudah dirampas orang
Sarang-sarangku sudah di hancurkan
Dan pasir-pasir itu bukan milik bersama lagi
Di mana kaluku sara
Dimana motika,
Dimana kaindea
Dimana untu, bungi dan sangia

Jangan usik hidup kami, walau kami tidak berdaya!
Jangan beli negeri kami di tengah kemiskinan kami!
Jangan hancurkan hidup kami di tengah kebodohan kami!

Hentikan, hentikan!
Hentikan, kebohongan itu
Sebab kami manusia
Butuh, makan, rumah dan cinta-kasih
Bukan nyanyian yang indah
Yang keluar dari aum harimau dan longlongan sri gala

Kami bersedih,
sebab api yang memasak air mata
Sudah hampir tumpah
Memenuhi jalan-jalan,
 Dan ruang-ruang pengadilan

Kendari, 10 November 2010

Puisi Terkiat:

Children of Reef