Sabtu, 02 Juni 2012

Wanianse 17

Oleh: Sumiman Udu

Malam itu, seperti biasa, bulan purnama menyinari pasir putih di halam rumah Waniase. Ia dan kedua anaknya, kembali duduk di bawah sinar bulan di musim kemarau. suara ombak laut banda seakan enggan menusik telinga mereka.
Di samping kanannya, Wa Leja duduk dengan menendang ujung sarungnya dan berkata, "bangka-bangka ina" perahu-perahu ibu. "Jangan sampai robek sarungmu Nak" tidak ada uang untuk gantinya.
"Bu, ceritakan kita Wangkinamboro, pinta La Ijo dari depan ibunya.
"Iya ina, sambung Wa Leja" sambil menyandarkan tubuhnya ke paha ibunya.
Maka mendengar permintaan kedua anaknya, maka Wanianse teringat pada cerita itu, Ok, jangan tidur ya? minta Wanianse pada kedua anaknya.

Pada zaman dahulu hiduplah seorang