Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2011

Sebentar lagi akan terbit

Info buku  dari Muhammad Nursam SEGERA TERBIT KARRUQ RI BANTILANG PINISI (CARITA AQBASA MANGKASARA) TANGIS DI GUBUK PINISI (NOVEL BAHASA MAKASSAR) KARYA MUHANNIS, KEPALA SEKOLAH SMA I SINJAI TIMUR, SINJAI, SULSEL Bagi teman-teman yang penasaran, nanti kontak ke blog ini

Ibu

Oleh: Sumiman Udu Yogyakarta, Jumat, 07:18 30 Juni 2006 Di tengah sunyi aku menyapamu dengan bahasa tanpa kata; katamu hidup adalah derita; Katamu hidup adalah kata-kata; Katamu hidup adalah keyakinan; Katamu hidup adalah menjalani Ibu, yang mana hidup itu? Kau tersenyum, Kau hanya mencium pipiku dan mengusap rambutku Lalu membisiiku Jalanilah! Ibu, kau begitu paham padaku Tanpa kata kau memahamiku Tanpa keyakinan kau menerimaku Katamu lakukanlah! Ibu, bukankah aku terlalu kecil untuk semua ini? Ibu hanya tersenyum, Karena ibu lebih tahu diriku dari pada aku sendiri Bangkitlah Nak, Sujudmu tidak mesti dibawah telapak kakiku Tetapi langkahmu menerpa hidup adalah sujudmu Cintamu adalah wujudku Rasamu adalah rahimku Dan matamu adalah cerminku Lalu kapan, kapan aku bukan diriku dan kau bukan dirimu Kau tahu Nak? Kapan itu? Ketika kau berpikir untuk menjadi orang lain Maka saat itu ibu kehilangan segalanya darimu

Sebuah Allegori

oleh: Azzahra Azra   Kendari, 20 Maret 2011 jam 19:01 Saudariku, Jikalau engkau membaca kisah ini Dengungkan dalam hati Sejenak luahkan lelah Arungi rangkaian hikmah Sebuah kidung tentang sejumput kisah Yang kan membawamu jauh Laksana berlayar di lautan petuah Saudariku Selami kisah ini Bingung darimana memulai Tiada pernah disadari Darimana sebuah perjalanan dimulai Ketika sebuah asa menjulang tinggi, Dan segala pekat menepi Roda tak lagi bergerigi Mawar tak lagi berduri  Saudariku, Adalah seorang belia Mengembara di belantara dunia Dunia nan sesak oleh ragam samaran petaka Mengambang diantara gugusan kejora, dan setan-setan neraka Saudariku, ketika saatnya tiba untuk dia, kaki mungilnya bergerak menapaki buana dan hari-hari berlalu dengan angkuhnya, namun sang surya yang tak henti menghangatkannya, dan sang dewi malam yang selalu tersenyum untuknya. Maka gelap dan terang adalah cahaya baginya saudariku, bersabarlah, kisah ini belum berakhi...

Sebuah Kenyataan

Kendari, 20 Maret 2011 jam 18:55  oleh: Azzahra Azra Seandainya saja, Ah, terlalu sesak jikalau harus melafazkan kata itu Biarlah kumeleleh lelah oleh hembusan sang Bayu, lirih perih debaran mendesau Menjelajah gagah kemana arah membawaku Mengukir tabir aneka mutiara biru Walau tangan dan kakiku karang lesu dalam temaram dekapan mesra belenggu.. Kemilau cakrawala terbentang dihadapanku Terhampar kaku laksana bongkahan beku Ingin kurengkuh walau dalam sendu warna-warna pekat semburat pelangi bisu Nyanyian disenandungkan lidah nan kelu Sebuah rintihan penghambaan nan semu Ah, fatamorgana yang angkuh, hanya debu! Sebuah petuah tumpah dalam sukmaku Sementara itu, Kepakkan sayap camar-camar menderu merdu Mengejek gulungan ombak yang merayu, beruntun ganas mendayu-dayu, menghentak arakkan pasir yang tersapu Sebuah layar tergelar menawan Menelusup “Tak cukup kata saja!”

HIU PUTIH DAN REVOLUSI SUNYI

Yogyakarta, 19 Maret 2011 Oleh: Sumiman Udu Desingan air tersibak ke udara Memecah sunyi, membakar matahari Dibalik sunyi, revolusi membakar hati Yang terpanggang dendam Karena kelam sejarah Hiu putih melaju Menerobos kebuntuan Sementara Gurita melesat, mengaburkan jejak, merangkai hari esok yang lebih rumit Hiu putih, terlahir sebagai raja Dengan kecepatan yang mengagumkan Melesat menembus dinding FB Bernyanyi di layar You Tube Hingga menepi, di senja Yang tak berapi lagi Hiu putih, Aku baru saja tersadar Bahwa kau terlahir untuk menyibak dan membakar Revolusi sunyi dalam tidur panjang kaummu

SESAJI DEMOKRASI

Yogyakarta, 18 Maret 2011 Oleh: Sumiman Gemuruh gelombang laut Banda mengurai hajat untuk menyatu dengan pantai tetapi terhalang oleh arus rasa lautan rasa manusia yang dianggap sampah mau dibeli dengan uang murah, hanya karena perut lapar Jiwa-jiwa yang lapar dihibur dengan pinggul artis disewakan mobil agar kelihatan ramai sambil memberi sawer sesaji agar nalar berhenti senyum setengah hati juga diberikan sebagai bumbu kepura-puraan menjadi nyata sementara benci bernyanyi untuk mengambil sawer yang lebih besar setelah pesta ungkapan kita “saudara” terucap tanpa sadar hanya untuk mendapatkan suara sementara rakyat sudah terlalu jenuh dengan kebohongan yang tidak mungkin mereka mengerti sesaji demokrasi luka demokrasi dan teriakan demokrasi yang terbenam di batu keramat yang menyimpan rahasia rasa enggan menepi sebab sesaji terlalu kelam sekelam hati yang tak ikhlas memberi Sesaji demokrasi hantu-hantu bertebaran sedang malaikat tersenyum...

Menyapa Pagi, Menggapai Senja

Oleh: Sumiman Udu PAGI yg tenang/ jiwa mendayu/ sementara mata tetap malas menyambutmu/ dari kejauhan bayang menggoda/ ilusi tak mampu menepi/ /burung2 camar k tengah samudra/ meliuk d kaki gelombang/ senja menanti/ kepakan sayap terakhir/ sementara selimut cinta/ birahi bergelora memanjat tebing asmara/ /pagi yg indah, bisakah kugapai senja, seperti kau merangkulku?// tanpa rangkulmu, aku sia2.

Mari Belajar ke China

Oleh: La Ode Arumahi   Sebagai orang Buton sangat menghargai usaha-usaha kreatif, akademis yang dilakukan La Ode Balawa dkk untuk secara terus-menerus mengaktualkan khasanah kebudayaan Buton. Saya bisa memahami berbagai kendala yang muncul terutama ketika memasuki wilayah yang diklaim sebagian orang sebagai mitos yang kemudian dibenturkan dengan realitas modern di kekinian. Buton di masa lalu memang akan sulit jika didekati dengan alam pikiran modern yang sarat dengan westernisasi hampir sudah meracuni alam pikiran banyak orang, padahal itu adalah wilayah antropologi yang hanya dapat dipahami secara jelas, jernih oleh penggiat disiplin ilmu-ilmu social. Pro-kontra justru adalah sebuah kesuksesan, apalagi ini dalam sebuah proses bersama mencari identitas diri, sebab hasil tdk selalu muncul dan diterima serta dinikmati para pejuangnya tetapi kadang harus memerlukan beberapa generasi. La Ode Balawa, keragaman respons masyarakat terhadap gerakan aktualisasi khasanah...

Siapa Pemimpian Impian Wakatobi?

Select: Semua , Telah Dibaca , None Tampilkan: Semua Belum Dibaca Oleh:  Sumiman Udu Siapa Pemimpin Ideal Wakatobi untuk 2011-2016 maka, diperlukan pardigma atau cara pandang dalam menjawab pertanyaan seperti ini. Sebab suatu pardigma akan memiliki pandangan tentang maslah, termasuk masalah kepemimpinan di Wakatobi 2011-2016. Tetapi ketika kita menggunakan paradigma dalam melihat, calon pemimpin Wakatobi ke depan, maka paradigma yang dapat digunakan sebagai salah satu paradigma untuk calon pemimpin Buton adalah paradigma kebudayaan.   Ketika melihat, pemimpin Wakatobi ke depan, maka impian kita adalah siapa yang akan memimpin Wakatobi ke arah yang lebih baik, yaitu masyarakat Wakatobi yang sejahtera adil dan makmur. Oleh karena itu, maka dalam budaya Buton, ada beberapa kriteria yang dibutuhkan oleh seorang calon pemimpin, yang pertama, bertaqwa kepada Allah, jujur, adil, pemaaf, cerdas, punya impian besar. Kedua, memiliki istri yang mam...