Langsung ke konten utama

Talas Kaya Nutrisi, Peneliti Pangan Serukan Optimalisasi sebagai Sumber Karbohidrat Lokal Bernilai Tinggi


Talas atau keladi (Colocasia esculenta) kembali menarik perhatian kalangan peneliti pangan dan kesehatan setelah sejumlah kajian menunjukkan bahwa umbi ini memiliki kandungan gizi yang kompetitif dibanding sumber karbohidrat populer seperti beras dan kentang. Di tengah meningkatnya kampanye diversifikasi pangan lokal, talas dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai komoditas strategis.

Data komposisi pangan menunjukkan bahwa setiap 100 gram talas mengandung sekitar 112 kalori dengan 26,9 gram karbohidrat, menjadikannya sumber energi yang cukup tinggi. Selain itu, talas menyediakan 2,3 gram serat, 1,5 gram protein, serta hanya 0,2 gram lemak. Di sisi mikronutrien, talas memiliki kandungan vitamin C (4,5 mg), vitamin B6 (0,1 mg), kalium (591 mg), fosfor (84 mg), dan magnesium (43 mg).

Menurut para ahli, tingginya serat dan karbohidrat kompleks pada talas membuatnya lebih lambat dicerna, sehingga dapat membantu menjaga kestabilan kadar gula darah. “Talas memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibanding banyak sumber karbohidrat lainnya. Ini menjadikannya pilihan yang baik untuk masyarakat yang ingin menjaga pola makan sehat,” ujar seorang peneliti pangan dari salah satu perguruan tinggi negeri.

Tak hanya itu, talas juga mengandung antioksidan seperti polifenol dan senyawa bioaktif lain yang berperan dalam melindungi tubuh dari stres oksidatif dan peradangan. Beberapa studi awal bahkan menunjukkan potensi talas dalam mendukung kesehatan metabolik, meski penelitian lebih lanjut tetap diperlukan.

Kendati demikian, para ahli mengingatkan bahwa talas harus diolah dengan benar sebelum dikonsumsi. Talas mentah mengandung kalsium oksalat yang dapat menyebabkan iritasi pada mulut dan tenggorokan. Karena itu, proses perebusan, pengukusan, atau penggorengan secara menyeluruh diperlukan untuk menurunkan kadar zat tersebut. Di beberapa daerah, masyarakat juga menggunakan air garam untuk merendam talas guna mengurangi efek gatal.

Dari sisi ekonomi, talas dinilai punya nilai strategis sebagai tanaman yang mudah dibudidayakan dan mampu tumbuh di berbagai kondisi lahan. Sejumlah pelaku industri rumahan telah mengembangkan aneka produk olahan talas, mulai dari keripik, tepung talas, kue tradisional, hingga produk pangan modern.

Pakar pertanian mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat pembinaan kepada petani serta mendorong inovasi olahan talas agar komoditas ini memiliki nilai jual lebih tinggi. “Dengan pengolahan yang tepat dan strategi pemasaran yang kuat, talas dapat menjadi pangan alternatif yang bukan hanya sehat, tetapi juga bernilai ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.

Dengan kekayaan nutrisi dan potensi pengembangan yang luas, talas dipandang sebagai salah satu tanaman lokal yang layak mendapat perhatian lebih dalam upaya memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus memperkaya pilihan karbohidrat masyarakat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGUNGKAP KETOKOHAN MUHAMMAD IDRUS

 Oleh Dr. La Niampe, M.Hum [2] 1.       Siapakah Muhammad Idrus itu? Muhammad Idrus adalah Putra Sultan Buton ke-27 bernama La Badaru (1799-1823). Ia diperkirakan lahir pada akhir abad ke-18. Dilihat dari silsilah keturunannya, Beliau termasuk keturunan ke-16 dari raja Sipanjonga; raja Liya dari tanah Melayu yang pernah berimigrasi ke negeri Buton (lihat silsilah pada lampiran). Dalam naskah ”SILSILAH RAJA-RAJA BUTON” Muhammad Idrus memiliki 33 orang istri dan dikaruniai anak berjumlah 97 orang, dua orang di antaranya terpilih menjadi Sultan Buton, yaitu Muhammad Isa sebagai Sultan Buton ke-31 (1851-1861) dan Muhammad Salih sebagai Sultan Buton ke-32 (1861-1886). 2. Nama dan Gelar             Muhammad Idrus adalah nama lengkapnya. Selain itu ia juga memiliki cukup banyak tambahan atau gelaran sebagai berikut: a.       La Ode La Ode adalah gelaran bangsaw...

Buku Tembaga dan Harta karun Wa Ode Wau dalam Pelayaran Tradisional Buton

Oleh: Sumiman Udu Dalam suatu diskusi dengan teman-teman di beberapa jejaring sosial, banyak yang membicarakan tentang harta karun Wa Ode Wau. Dimana sebagian dari mereka ada yang mengatakan bahwa harta itu masih milyaran Gulden, dan ada yang mengatakan bahwa harta karun itu tersimpan di gua-gua, ada juga yang mengatakan bahwa harta itu tersimpan di dalam tanah dan ditimbun. Berbagai klaim itu memiliki dasar sendiri-sendiri. Namun, kalau kita melihat bagaimana Wa Ode Wau memberikan inspirasi pada generasinya dalam dunia pelayaran, maka harta itu menjadi sangat masuk akal. Banyak anak cucu Wa Ode Wau (cucu kultural) yang saat ini memiliki kekayaan milyaran rupiah. Mereka menguasai perdagangan antar pulau yang tentunya di dapatkan dari leluhur mereka di masa lalu. Dalam Makalah yang disampaikan yang disampaikan dalam seminal nasional Sejarah itu, beliau mengatakan bahwa sebutan sebagai etnik maritim yang ada di Buton, sangat pantas diberikan kepada pelayar-pelayar asal kepulauan t...

Harta Kekayaan Wa Ode Wau: Antara Misteri dan Inspirasi

 Oleh: Sumiman Udu Kisah Tentang Wa Ode Wau sejak lama telah menjadi memori kolektif masyarakat Buton. Kekayaannya, Kerajaan Binisnya hingga kemampuannya memimpin kerjaan itu. Semua itu telah menjadi sebuah misteri bagi generasi muda Buton dewasa ini. Dari satu generasi ke generasi berikutnya selalu berupaya untuk menemukan harta karun itu. Dan sampai saat ini belum pernah ada yang terinspirasi bagaimana Wa Ode Wau mengumpulkan harta sebanyak itu.