Langsung ke konten utama

Postingan

Sanggar Mustika Budaya Menari di Ruang Siar: Ketika Akulturasi Menemukan Panggungnya

 Langit Kendari sore itu berwarna tembaga, seolah ikut memanggil orang-orang untuk berkumpul di ruang siar RRI. Di sana, di sebuah studio yang biasanya dipenuhi suara penyiar dan gemerisik berita, hari itu yang terdengar adalah denting gamelan dan desir langkah para penari muda. Sanggar Mustika Budaya datang bukan sekadar untuk menari—mereka datang untuk bercerita. Di hadapan para tamu dan pendengar, Dr. Laxmi, Ketua Pengabdian Kepada Masyarakat, membuka diskusi dengan suara yang tenang namun tegas. Ia berbicara tentang kelompok-kelompok seni Jawa perantauan, tentang bagaimana mereka menjaga denyut budaya di tanah baru. “Seni ini bukan hanya milik satu etnis,” ujarnya sambil sesekali menatap para penari yang sedang bersiap. “Ini adalah ruang bagi siapa pun yang ingin merawat harmoni.” Di sampingnya, Dr. Sumiman Udu, tenaga ahli yang lama mengamati dinamika budaya di Sulawesi Tenggara, mengangguk pelan. Baginya, kebudayaan adalah sungai besar—dan para perantau adalah arus kecil ya...

Apa Nama Daun Itu? Benarkah Ada Petunjuk bagi Riset Akademis tentang Obat Tradisional Anti-Kanker Payudara?

Laporan Bergaya Sastra Etnografi dari Desa Wungka, Wakatobi Sore itu, cahaya matahari di Wungka merayap pelan di antara pepohonan kelapa, menyentuh tanah merah yang masih hangat. Dari kejauhan, tampak seorang perempuan muda melangkah tertatih keluar dari sebuah mobil sewaan. Ia baru beberapa minggu keluar dari rumah sakit di kota—rumah sakit yang akhirnya mengizinkannya pulang setelah terapi modern tak memberi harapan lebih. Wajahnya pucat, tubuhnya semakin kurus, namun matanya masih menyisakan secercah tekad untuk terus hidup. Di belakangnya, seorang lelaki paruh baya berjalan mengikuti. Ia keluarga dekat perempuan itu—penjaga, pengantar, sekaligus satu-satunya orang yang setia mencari jalan sembuh baginya. Mereka datang ke desa itu karena satu nama yang hanya disebutkan pelan oleh seorang perawat tua: “Cobalah ke Wungka… ada seorang nenek yang masih menyembuhkan dengan cara lama.” Nenek itu dikenal sebagai Sang Dukun , meski warga lebih sering memanggilnya dengan lembut, “Ina Maj...

FGD Penguatan Fungsi Kelembagaan Adat Untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan Di Kecamatan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi

Asisten III Pemerintah kabupaten wakatobi Drs. La Ode Saharumu, tengah sedang membuka FGD Fokus Group Diskusi (FGD) tentang penguatan fungsi adat untuk mendukung Pembangunan Berkelanjutan di Kecamatan Wangi-Wangi kabupaten Wakatobi yang dilaksanakan di Resort Wisata Wakatobi telah menghasilkan beberapa kemufakatan, terutama aspek kelembagaan adat kadhia Wanse. Dalam rumusan yang disepakati sementara menghasilkan beberapa hal, yaitu sara kadhia Wanse memiliki struktur yang inklud di dalamnya ada sara desa dan sara hukumu. Dalam struktur sara kadhia Wanse ada miantu’u agama yang kemudian berfungsi sebagai (1) pembuatan legislasi aturan adat yang ada di wilayah kadhia Wanse, (2) melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan hukum sara yang dikerjakan oleh sara hukumu dan sara nudesa (sara desa), (3) melakukan pendidikan kepada sara-sara ditingkat desa dan sara hukumu mengenai nilai-nilai dan tatacara hukum adat yang ada di dalam wilayah kadhia Wanse. Dalam sesi diskusi yang diha...