WAKATOBI — Tradisi Lalo’a di Wakatobi dinilai sebagai model konservasi berbasis kearifan lokal yang efektif dalam menjaga keberlanjutan ikan boronang dan ketahanan pangan masyarakat pesisir. Melalui tradisi ini, masyarakat adat melindungi telur ikan boronang agar tidak diambil sebelum masanya, sehingga sumber daya laut tetap tersedia untuk musim berikutnya. Praktik tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Wakatobi memiliki sistem pengelolaan sumber daya laut yang tidak hanya berorientasi pada kebutuhan saat ini, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan untuk tahun-tahun mendatang. Perlindungan terhadap telur ikan boronang menjadi inti dari tradisi Lalo’a, yang diwariskan secara turun-temurun dan dijaga bersama melalui aturan adat. Salah satu informan, Jaharuddin , menegaskan bahwa larangan mengambil telur ikan sebelum berkembang didasarkan pada kesadaran kolektif untuk menjaga keberlangsungan sumber pangan masyarakat. “ Mengapa tidak diambil sebelum bertelur? Jawabannya adalah untuk t...
Renungan | Etika Hidup di Hadapan Detik yang Terbatas Waktu tidak pernah benar-benar menjadi milik manusia. Ia hanya singgah, lalu pergi. Dalam hampir semua kebudayaan dan keyakinan, waktu diperlakukan bukan sebagai benda bebas pakai, melainkan sebagai titipan—amanah yang kelak dipertanggungjawabkan. Maka menyia-nyiakan waktu bukan sekadar kelalaian, tetapi persoalan etika yang menyentuh inti kemanusiaan. Renungan ini lahir sebagai lanjutan dari kegelisahan bersama: mengapa manusia begitu mudah menghamburkan waktu, terutama waktu kebersamaan, seolah hidup menyediakan cadangan yang tak terbatas. Agama: Waktu yang Akan Dimintai Pertanggungjawaban Dalam tradisi agama, waktu hampir selalu disumpahkan. Ia disebut, diingatkan, bahkan dijadikan saksi. Pesannya seragam: manusia berada dalam kerugian jika tidak memaknai waktu dengan iman, kebaikan, dan kesabaran. Setiap detik dipandang sebagai kesempatan berbuat baik, atau sebaliknya, peluang kehilangan makna. Dalam renungan keagamaan, me...