Sabtu, 01 Juni 2013

Tradisi bhanti-bhanti dan pembangunan Pariwisata Wakatobi




Oleh:
Sumiman Udu
Pengatar             
Wakatobi sebagai salah satu daerah destinasi baru di dunia, telah mengundang banyak tamu, baik dalam negeri maupun manca negara. Namun sampai saat ini, pembangunan pariwisata Wakatobi masih tetap terfokus pada pariwisata alam (wisata bawah laut) dan belum mampu menggerakkan masyarakat  banyak. Oleh karena itu, dimasa yang akan datang, pembangunan pariwisata Wakatobi diharapkan dapat menggerakkan pariwisata budaya sehingga keterlibataan masyaarakat dapat lebih luas.
        Jika melihat potensi wisata budaya di kabupaten Wakatobi, maka terdappat 17 buah benteng yang membentang dari benteng wabuebue di desa waha pulaun Wangi-Wangi, sampai dengan benteng patua dan Hakka di selatan pulau Binongko. Dan mulai dari tradisi balumpa di Binongko sampai tradisi mangania kabuange di pulau Wangi-Wangi. Berbagai jenis masakan tradisional, layang-layang tradisional, permainan tradisional. Semua itu dapat dikemas menjadi kekuatan pariwisata budaya di kabupaten Wakatobi. Tetapi kalau melihat apa yang terjadi di Wakatobi dewasa ini, perencanaan pariwisata masih sangat timpang, karena para konglomerat yang berinvestasi di bidang pariwisata belum melakukan perencanaan dengan hanya mempromosikan dirinya sendiri dan belum ada konektifitas kegiataan pariwisata di masyarakat.
Jika  dilihat dari lama wisatawan di dalam masyarakat Wakatobi, masih sangat pendek jika dibandingkan dengan wisatawan Kamboja yang membutuhkan 6sampai 7 jam di dalam menikmati berbagai panorama wisata. Ini menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat Wakatobi dalam pariwisata masih sangaat kecil. Pemerintah belum sepenuhnya mendorong partiwipasi masyarakat dalam bidang ini, sehingga seolah-olah pariwisata Wakatobi masih berjalan sendiri dan masyaarakat berjalan sendiri. Suatu keadaan yang tidak diharapkan tentunya.
Kalau kita melihat beberapa penjual makanan atau wisata kuliner, masyarakat Wakatobi masih sangat jauh dari harapan. Mereka baru mampu menjual gorengan (pisang goreng, kue-kue, ikan bakar, dan saraba) seperti yang ada di pantai Waelumu, dan pasar sore jembatan Wanci, dan oina ntooge Mandati. Makanan itu, masih sangat cocok untuk konsumsi masyarakat lokal. Berbagai acara adat seperti mansa’a dan hebatu kampo belum sambung dengan para wisatawan di industri pariwisata yang ada, sehingga turis pun binggung ketika mereka naik dari laut. Mereka tidak tahu harus menonton apa?
Beberapa serot memang sudah memanfaatkan beberapa sanggar dan pelantun bhanti-bhanti (maestro) La Ode Kamaluddin untuk menghibur para turis, namun itu perlu diarahkan agar turis dapat menikmati keragaman budaya dan beberapa situs benteng yang ada. Pemerintah harus mampu mendorong pariwisata budaya berbasis masyarakat, sehingga ada keterpanggilan masyarakat dalam industri itu. mereka dapat menjadi subjek pembangunan pariwisata Wakatobi.

Tradisi Bhanti-bhanti dan Pembangunan Pariwisata
       Masyarakat beradab dapat dilihat dari bagaimana kekayaan sastra daerah dari suatu peradaban tersebut. Karena sastra daerah tersebut menjadi ukuran ruang imajenis mereka tentang dunia, tentang lingkungan, manusia, sampai dengan tuhan mereka. Melalui sastranya masyaraakat dapat dipahami cara pandang mereka tentang dunia. Melalui sastra mereka, suatu masyarakat dapat merefleksi dan memproyeksi kehidupan mereka. Oleh karena itu, sebagai salah satu identitas masyarakat Wakatobi, tradisi lisan bhanti-bhanti harus mampu diarahkan untuk mendukung pambangunan pariwisata Wakatobi. Melalui tradisi bhanti-bhanti itulah masyarakat Wakatobi menyimpan berbagai ingatan kolektif mereka, merefleksi masa lalu kehidupan mereka, memproyeksi masa depan mereka. Serta melalui tradisi bhanti-bhanti itulah mereka mampu menyimpan berbagai nilai-nilai moral mereka, membentuk tata nilai dalam kehidupan mereka. Sehingga kalau tradisi bhanti-bhanti dapat didorong sebagai salah satu kekuatan pariwisata budaya berbasis seni tradisi, dapat mendorong percepatan partisipasi masyarakat Wakatobi dalam industri pariwisata. Di samping itu, panorama alam Wakatobi akan semakin indah jika ditunjang oleh wisata budaya.
                Di sisi yang lain, pementasan tradisi lisan bhanti-bhanti merupakan bagian kegiatan tradisi yang sampai saat ini masih tumbuh dan berkembang di dalam masyaraka Wakatobi. Masyarakat masih menyenangi  tradisi  bhanti-bhanti, namun sampai saat ini, kekuatan kultural ini belum sepenuhnya dimanfaatkan dalam mendorong partisipasi masyarakat  dan mendorong ekonomi kreatif di Wakatobi. Untuk itu, diperlukan strategi pementasan tradisi bhanti-bhanti sehingga lebih sesuai dengan kebutuhan pasar pariwisata  tanpa harus merusak esensi dari tradisi tersebut.
                Melalui tradisi bhanti-bhanti seorang wisatawan dapat memahami pikiran dan perasaan masyarakat lokal, dan melalui tradisi bhanti-bhanti juga dapat memahami pikiran dan perasaan para wisatawan, karena dalam tradisi bhanti-bhanti juga ada tradisi poŠ±anti (berpantun saling berbalasan), sehingga kalau kita melihat pada keberadaan tradisi bhanti-bhanti di dalam masyarakat Wakatobi, maka bhanti-bhanti merupakan media komunikasi kultural yang efektif, termasuk di dalamnya adalah dalam memediasi proses akulturasi budaya dalam ranah pariwisata Wakatobi. Dimana melalui tradisi bhanti-bhanti budaya lokal dan global yang di bawah oleh tamu dapat saling bersinergi dalam mewujudkan akulturasi budaya yang saling menguntungkan. Karena para turis dapat belajar dari masyarakat dan masyarakat dapat belajar dari para turis.
Beberapa nilai-nilai lokal yang dapat dipelajari turis dari bhanti-bhanti adalah bagaimana masyarakat Wakatobi mampu mendialogkan masalah dengan terbuka, tanpa harus minder terhadap lawan bicara, nilai-nilai dasar Wakatobi terutama dalam melakukan kontrol terhadap pemerintah, misalnya dalam teks /La Bonto patoro la bonto/, “la bonto, tegakkan keadilan la bonto” /tetogo nolingka-lingkamo/ “kampung sudah hampir miring”. Ini menunjukan media kritik yang ada di dalam tradisi bhanti-bhanti Wakatobi. Sementara masyarakat dapat saja mempelajari nilai-nilai positif yang dibawa oleh turis, misalnya nilai-nilai kesadaran akan kebersihan lingkungan, jangan membuang sampah sembarangan.
Semua itu,dapat menjadikan tradisi bhanti-bhanti sebagai salah satu kekuatan pariwisata Wakatobi, baik sebagai media hiburan, maupun sebagai media pembelajaran dalam proses akulturasi budaya di Wakatobi.