Langsung ke konten utama

Postingan

Benteng Tindoi: Pusat Konservasi Hutan Wangi-Wangi

Oleh: Sumiman Udu Sekitar tahun 2008, bersama Rustam Awat dan Aslim perjalanan dimulai dengan mengendarai Motor menuju Wuta Mohute Desa Posalu Kecamatan Wangi-Wangi. Dari Kampung Tai Bhete, kami belok kiri menuju Kampung Tai Bhete. Di Kampung itulah, sepeda motor kami titipkan di dekat mesjid. Perjalan dilanjutkan dengan jalan kaki melalui jalur timur ke arah benteng Tindoi.  Sebelum saya masuk ke dalam lingkungan benteng, menghadaplah ke arah timur, Anda akan menyaksikan lanskap yang indah, pemandangan padang savana yang terbentang luas antara Desa Longa dengan Tindoi dan Desa Pookambua. Di kejauhan sana juga anda akan menyaksikan Bandara Matahora dituju oleh pesawat. Melewati pulau, anda akan menikmati pemandangan bentangan laut Banda, serta kembang-kembang melati yang selalu menghiasi cincin karang Longa. Tentunya Anda akan menyaksikan keindahan yang luar biasa, jika anda menyaksikan matahari yang baru terbit di batas cakrawala di atas Longa.

TUMPANG-TINDIH KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA LAUT DAN PULAU-PULAU KECIL, WAKATOBI (SEBUAH KAJIAN EKONOMI ELEMBAGAAN SUMBERDAYA)

Sebuah Essay untuk Mata Kuliah     OLEH     LA ODE WAHIDIN Wakatobi nama gugusan pulau memanjang di jazirah Tenggara Pulau Sulawesi, yang dahulunya dikenal dengan sebutan Kepulauan Tukang Besi, terdiri atas 4 pulau besar (Wanci, Kaledupa, Tomia dan Binongko) dan puluhan pulau-pulau kecil lainnya dimana laut banda di bagian utara dan laut flores di bagian selatan. Wakatobi ditetapkan sebagai sebuah kawasan yang sangat strategis merupakan sebuah proses yang panjang. Sebelum terintegrasi ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tahun 1950, Wakatobi merupakan sebuah wilayah Bharata (Provinsi) Kahedupa di bawah pemerintahan Kesultanan Buton. Sistem tata pemerintahan dan tata kelola sumberdaya alam yang terdapat di gugusan ini telah diatur dengan sangat apik, baik di darat maupun di laut. Sumberdaya lokal (tanah, hutan, sumberdaya air, terumbu karang, dan jenis-jenis ikan tertentu serta sumberdaya alam lainnya) yang menyangku...

TRADISI KANGKILO: SALAH SATU MODAL SOSIAL BUDAYA BAGI PEMBENTUKAN KARAKTER POSITIF MASYARAKAT BUTON[1]

  Oleh : Hamiruddin Udu  Email: hamirudin78@gmail.com 1.          Pendahuluan Tradisi sebagai salah satu bentuk kebudayaan mengandung sejumlah nilai yang berfungsi mengukuhkan pandangan masyarakat dan memberi arah dalam pergaulan yang diinginkan oleh norma dalam masyarakat (bdk. Tuloli, 1990: 19). Sejalan dengan itu, Sztompka (2005: 74) mengatakan bahwa sebagai kebiasaan dan kesadaran kolektif, tradisi merupakan mekanisme yang bisa memperlancar pertumbuhan pribadi masyarakat. Hal ini erat hubungannya dengan keberadaan tradisi sebagai wadah penyimpanan norma sosial kemasyarakatan. Dalam hubungan itu, Parsons (1985) mengatakan bahwa kebudayaan adalah sistem simbol yang menekankan pada tindakan manusia sebagai pelakunya, yang memiliki sistem budaya yang terdiri dari sistem kepercayaan (bagian dari religi), sistem pengetahuan, sistem nilai moral, dan sistem pengungkap perasaan atau ekspresi.

Resensi Novel: "Di Bawah Bayang-Bayang Ode" Karya Sumiman Udu

Identitas buku Judul : Di Bawah Bayang-Bayang Ode Penulis : Sumiman Udu Penerbit : Seligi Press Kota Terbit : Pekan Baru Tahun Terbit : 2015 Cetakan : I Tebal Buku : 240 hlm.  ISBN : 978-602-9568-02-8 Novel ini mengisahkan tentang dua anak manusia yaitu Imam dan Amalia Ode, yang terpaksa merelakan cinta mereka demi adat yang dijunjung tinggi oleh keluarga dan masyarakatnya. Gelar ‘ode’ yang melekat pada nama Amalia membuatnya tidak berdaya untuk menentang keinginan ibu dan keluarga besarnya. Sebagai seorang yang bergelar ‘ode’, Amalia dipaksa menikah dengan sepupunya yang kaya raya agar anak keturunannya nanti juga mendapatkan gelar ‘ode’ dan mendapatkan jaminan kesejahteraan.

Kabanti Ajonga Yinda Malusa: ‘Mutiara Berkilau’ dari Buton untuk Indonesia"

 Pengantar Buku "Nilai-Nilai Kehidupan Masyarakat Buton: Sumbangan Kabhanti Anjonga Yinda Malusa Untuk Revolusi Mental Indonesia" Karya Dr. Ali Rosdin Oleh: Dr. Suryadi, MA Universiteit Leiden, Belanda Untuk pertama kalinya, sebuah naskah klasik Buton yang penuh dengan ajaran moral, keagamaan, dan sampai batas tertentu, catatan sejarah, diterbitkan. Naskah Kabanti Ajonga Yinda Malusa (KAYM), yang dipaparkan dalam buku ini, kini hadir di hadapan pembaca Indonesia, khususnya masyarakat   Buton. Saya katakan demikian, karena sejauh penelusuran kepustakaan yang saya lakukan, inilah buku yang pertama yang menyajikan alih aksara naskah KAYM kepada pembaca modern masa kini dengan memakai pendekatan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan, khususnya dari perspektif ilmu filologi. Hasilnya: sepanjang 1347 canto (bait) KAYM yang semula ditulis dalam huruf Arab-Melayu (Jawi) oleh ulama patron Istana Wolio, Haji Abdul Ganiu, pada akhir abad 18, kini dapat dinikm...

SUBUH

(Sebuah catatan atas tamu harian di setiap subuh) Oleh: Sumiman Udu kukirimkan shalat ke dalam hidupmu Walau subuh terkadang malas namun ia selalu menjemputmu ia menyajikan kopi dan kue lapis dari sinonggi dimulutnya, terucap selamat pagi Tuanku, maafkan aku yang selalu membangunkamu tuanku, kau selalu nyenyak ketika aku datang, tetapi sabarlah tuanku, aku hadir membawakan setumpuk harta, kesehatan dan cinta Sambutlah kedatanganku, karena aku juga membawakan kau sejejal cinta tapi lakukanlah tuanku, setelah kau menjabat tanganku melalui wajah dan doamu karena aku selalu menerima segala pintamu hanya satu jam setengah aku menemanimu dan sekaligus mengganggu tidurmu setiap hari, setelah itu, aku akan pergi dan besok aku akan datang lagi. Maaf, kalau kadang aku memaksa Baca Juga Anak-Anak Karang Children of Reef Merajut Keindonesiaan Sastra Lisan Kabhanti: Memori Kolektif Masyarakat Wakatobi dari Masa ke Masa  

SASTRA LISAN KABHANTI: MEMORI KOLEKTIF MASYARAKAT WAKATOBI DARI MASA KE MASA

Oleh: Sumiman Udu [1] ABSTRAK Sastra lisan kabhanti merupakan sastra tradisi yang selama ini tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat Wakatobi. Perkembangan sastra lisan dari waktu ke waktu selalu mengalami pergeseran,   seiring dengan perkembangan zaman dari masyarakat   pendukungnya. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat mengungkapkan perkembangan memori kolektif masyarakat Wakatobi di masa lalu, kini dan masa yang akan datang yang tersimpan dalam sastra lisan kabhanti . Penelitian ini menggunakan paradigma etnografis sehingga pengumpulan dan pengolahan data menggunakan prinsip etnografis. Penggunaan paradgima ini digunakan untuk mengungkap berbagai memori kolektif yang ada di dalam masyarakat pendukung kabhanti dari waktu ke waktu. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tradisi lisan kabhanti merupakan memori kolektif masyarakat Wakatobi yang terus berkembang dari satu generasi ke generasi berikutnya. (1) Di masa lalu, hampir seluruh kehidupan...