Langsung ke konten utama

Postingan

SASTRA LISAN KABHANTI: MEMORI KOLEKTIF MASYARAKAT WAKATOBI DARI MASA KE MASA

Oleh: Sumiman Udu [1] ABSTRAK Sastra lisan kabhanti merupakan sastra tradisi yang selama ini tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat Wakatobi. Perkembangan sastra lisan dari waktu ke waktu selalu mengalami pergeseran,   seiring dengan perkembangan zaman dari masyarakat   pendukungnya. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat mengungkapkan perkembangan memori kolektif masyarakat Wakatobi di masa lalu, kini dan masa yang akan datang yang tersimpan dalam sastra lisan kabhanti . Penelitian ini menggunakan paradigma etnografis sehingga pengumpulan dan pengolahan data menggunakan prinsip etnografis. Penggunaan paradgima ini digunakan untuk mengungkap berbagai memori kolektif yang ada di dalam masyarakat pendukung kabhanti dari waktu ke waktu. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tradisi lisan kabhanti merupakan memori kolektif masyarakat Wakatobi yang terus berkembang dari satu generasi ke generasi berikutnya. (1) Di masa lalu, hampir seluruh kehidupan...

Tradisi Duata dan Keberlangsungan Kehidupan Suku Bajo Di Wakatobi

  Oleh: Sumiman Udu Keberadaan Orang Bajo di Wakatobi, sudah hampir tuanya dengan perkembangan manusia di Kawasan ini. Kalau merujuk kepada Hikayat Negeri Buton atau Hikayat Si Panjonga, maka Suku Bajo telah menjadi orang tempat bertanyanya orang-orang perahu yang memuat rombongan Si Panjongan setelah mereka ditimpa oleh angin ribut yang dasyat. Berdasarkan cerita tersebut, maka sebenanya orang bajo, sudah datang jauh sebelum kedatangan orang-orang Melayu di Kepulauan Wakatobi dan Buton pada Umumnya. Mereka telah menjadi penunjuk jalan atas kapal Si Panjongan dan teman-temannya.  Peristiwa itu, dapat dijadikan rujukan keberadaan mereka di Wakatobi Buton pada umumnya. Kalau melihat tentang keberadaan masyarakat Bajo di dalam Kesultanan Buton, maka mereka sesungguhnya adalah salah satu masyarakat Buton yang diakui keberadaanya. Di Beteng Buton, dikenal adanya Lawana Wajo. Itu artinya, bahwa suku Bajo memiliki juga ruang di dalam kesultanan. 

Gula Rote Sampai ke Wakatobi

Oleh : Sahruddin.Hanya Anak Kampung · 8 Oktober 2015 Pagi itu cuaca agak dingin, embun masih menyisahkan tanda-tandanya di tanah, basah. 20 km dari Ba’a Lobalain ke Busalangga pasar rakyat Rote Barat Laut. Dengan mengendarai motor metik Suzuki perburuan ini dimulai. Jalan beraspal yang mulus menjadikan perburuan ini tak begitu lama untuk sampai ke pasar Busalangga, cukup 20 menit saja.

Pentingnya Perpustakaan untuk Pembangunan Wakatobi

Oleh: Sumiman Udu Duduk di antara ratusan orang-orang hebat dalam seminar Internasional Sastra Bandung 2015 merupakan hal yang paling membahagiakan. Suatu moment yang mengispirasi bagaimana Sunda bisa berada pada percaturan kebudayaan Global. Mereka menata perpustakaan mereka, mereka membangun kelembagaan perpustakaan yang luar biasa. Teringat saya pada keinginan pemerintah Kabupaten Wakatobi untuk membangun Perpustakaan di Wakatobi. Selama sepuluh tahun terakhir, di Wakatobi disediakan mobil perpustakaan keliling, dan untuk melayani masyarakat di pulau-pulau lainnya, seperti Kaledupa, Tomia dan Binongko dengan mengadakan spead boat perpustakaan keliling. Sungguh suatu niatan yang luar biasa, membangun Sumber Daya Manusia Wakatobi, tetapi semua kenangan itu sirna begitu saja, karena mobil dan speat boath itu saat ini belum efektif kalau aku enggan untuk mengatakannya mati suri.

EKSISTENSI SASTRA LISAN BHANTI-BHANTI SEBAGAI RUANG NEGOSIASI LOKAL DALAM KEBUDAYAAN GLOBAL[1]

Oleh: Sumiman Udu [2] Keberadaan sastra lisan selama ini telah menjadi indentitas masyarakat lokal dalam menghadapi kebudayaan global di seluruh dunia. Sebagai ekspresi budaya lokal, sastra lisan bhanti-bhanti tetap menyuarakan identitas lokal masyarakat Wakatobi yang terus-menerus menyesuaikan diri dan membangun dialog dengan kebudayaan global yang terus menyerbu hingga ke ruang-ruang ketaksadaran kolektif masyarakat. Penelitian ini menggunakan paradigma etnografi. Data penelitian ini akan difokuskan pada pandangan masyarakat Wakatobi tentang indentitas lokal mereka dalam menghadapi kebudayaan global yang ada dalam sastra lisan bhanti-bhanti . Dengan demikian, data akan dianalisis untuk melihat eksistensi masyarakat Wakatobi yang digambarkan dalam sastra lisan bhanti-bhanti sebagai ekspersi budaya lokal dalam berinteraksi dengan budaya global. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa melalui sastra lisan bhanti-bhanti masyarakat Wakatobi mampu membangun identitas loka...

ETNOBATANI MENGUNGKAP KEDEKATAN KEBUDAYAAN ANTARA MASYARAKAT WAKATOBI DENGAN MASYARAKAT NUSA TENGGARA TIMUR

Oleh : Sumiman Udu Uwi pada gambar di atas adalah salah satu jenis Uwi yang dikenal oleh masyarakat Wakatobi Sulawesi Tenggara dengan nama Opa larantuka . Nama yang merujuk pada nama daerah Larantuka di Nusa Tenggara Timur. Ini menunjukan bahwa sejak dahulu kala, telah terjadi kontak dagang dalam pelayaran tradisional masyarakat Wakatobi Buton dengan masyarakat larantuka di Nusa tenggara timur. Kesadaran kolektif masyarakat Buton bahwa orang timur adalah saudara kita bukan hanya pada faham ideologis, tetapi juga dibuktikan dalam beberapa etnobotani yang ada di daerah ini. Kosa kata etnobatani yang yang juga merujuk pada kedekatan kultural dengan masyarakat di Nusa tenggara timur adalah dikenalnya gula merah di Wakatobi dengan sebutan Gula Rote. Penggunaan istilah ini biasanya dihubungkan dengan asal-usul bahan makanan tersebut. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa Opa Parantuka merupakan salah satu jenis Uwi yang didatangkan dari larantuka. Hal ini sejalan dengan akt...

Merawat Bumi di Timor Tengah Selatan

Oleh : Yusran Darmawan Published : 16.09.15 11:04:26 oleh Kompasiana Updated : 16.09.15 11:11:26 Hits : 49 Komentar : 0 Rating : 1 buku yang mengisahkan kehidupan warga Mollo DI berbagai konferensi internasional, orang-orang berkisah tentang bagaimana menyelamatkan lingkungan. Seluruh perangkat ilmu pengetahuan telah dikeluarkan demi menemukan jawab atas perubahan iklim yang terus menggerus bumi. Seluruh pengetahuan yang disarikan dalam berbagai jurnal ilmiah diurai dan dibedah demi menemukan jawab atas bumi yang kian renta dan rawan dengan bencana. Nun jauh di pedalaman Timor Tengah Selatan, tepatnya di Mollo, warga lokal telah lama merawat bumi dengan penuh kasih. Mereka tak pernah membaca jurnal ilmiah, tapi mereka terus merawat pengetahuan tentang alam semesta sebagai tubuh manusia yang harus dijaga dan dilestarikan. Tak hanya merawat, mereka juga melawan korporasi dan negara yan...