Langsung ke konten utama

Postingan

Rangkaian Kritik terhadap Tiga Pendekatan ‘Kritis’ Kajian Budaya (Bag. 2)

Oleh: Rianne Subijanto , Kandidat Doktor di Bidang Kajian Media dan Komunikasi di University of Colorado Boulder . Pada bagian pertama tulisan ini, sudah dibahas perkembangan cultural studies sebagai salah satu pendekatan dalam kajian budaya yang berangkat dari kritik terhadap dikotomi superstruktur dan basis dalam sebuah aliran dalam Marxisme. Pendekatan lain dalam kajian budaya yang juga berangkat dari permasalahan yang sama adalah political economy. Namun, tidak seperti cultural studies yang lahir di Inggris, kajian political economy terhadap budaya pertama kali berkembang di benua Amerika. Basisnya pun tidak sama. Cultural studies lekat dengan aktivitas politik para pendirinya dalam gerakan kiri, terutama Workers Educational Association (WEA) ; sedangkan political economy dimulai sebagai kritik akademik terhadap sebuah pendekatanpenelitian. Political economy berkembang di universitas-universitas dan pusat-pusat penelitian, terutama tumbuh subur dalam ...

Rangkaian Kritik Terhadap Tiga Pendekatan ‘Kritis’ Kajian Budaya (Bag. 1)

Oleh : Rianne Subijanto , Kandidat Doktor di Bidang Kajian Media dan Komunikasi di University of Colorado Boulder . Diposkan pada 05/01/2013 oleh indoprogress TIGA pendekatan ‘kritis’ terhadap kajian budaya lahir beberapa dekade yang lalu sebagai kritik terhadap Marxisme yang dominan di Uni Soviet saat itu. Tiga pendekatan tersebut adalah cultural studies, political economy of culture dan critical theory. Ketiganya muncul sebagai reaksi terhadap dikotomi superstruktur dan basis yang dianut aliran ini dan juga terutama terhadap pandangannya yang ekonomistik dan positivistik. Klaim ‘kritis’ ketiga pendekatan ini berdasar pada dua hal: pertama , mereka lahir sebagai bentuk kritik terhadap sebuah tradisi dalam Marxisme, dalam hal ini tradisi yang dominan saat itu; kedua , agenda kritik ini dilakukan dalam semangat untuk kembali pada proyek intelektual Karl Marx, yaitu materialisme sejarah dan dialektika sebagai landasan metode berpikir dan praksis. Ol...

[JAS DAN PANTALON PUTIHMU * Kenangan kepada Bung Hatta]

Oleh Taufiq Ismail Di awal abad 21. pada suatu subuh pagi aku berjalan di Bukittinggi, Hampir tak ada kabut tercantum di leher Singgalang dan Merapi, yang belum dilangkahi matahari, Lalu lintas kota kecil ini dapat dikatakan masih begitu sunyi, Menurun aku di Janjang Ampek Puluah, melangkah ke Aue Tajungkang, berhenti aku di depan rumah kelahiran Bung Hatta, Di rumah beratap seng nomor 37 itulah, awal abad 20, lahir seorang bayi laki-laki yng kelak akan menuliskan alfabet cita-cita bangsa di langit pemikirannya dan merancang peta negara di atas prahara sejarah manusianya, Dia tidak suka berhutang. Sahabat karibnya, Bung Karno, kepada gergasi-gergasi dunia itu bahkan berteriak, "Masuklah kalian ke neraka dengan uang yang kalian samarkan dengan bantuan, yang pada hakekatnya hutang itu!" Suara lantang 39 tahun silam itu terapung di Ngarai Sianok, hanyut di Kali Barantas, menyelam di Laut Banda, melintas di Selat Makassar, hilang di arus Sungai Mahakam,...

AKAR YANG TERLUPAKAN

Oleh: Sumiman Udu Sebuah memori dan kegelisahan atas negeri Butuni Kendari, 5 Maret 2008 05:30 Tanah butuni Siapakah kau? Kaukah negeri yang terengah-engah itu? Kaukah negeri yang hilang itu? Kaukah negeri yang tercecer itu? Kaukah negeri yang menawan itu? Ah… Tanah butuni Terlumur darah dalam sejarah Yang dibentang dalam dendam dan rindu Yang disulut dalam fitnah Yang dilumpuhkan dalam rencana Negeri butuni Beratus tahun kau hidup dalam hikayat Beratus tahun kau lahirkan anak-anakmu dalam falsafah Beratus tahun kau kibarkan benderamu Pertanda kebesaranmu pada dunia Pertanda martabatmu Tapi, Adakah akarmu yang menancap? Di kedalaman magmamu? Adakah akarmu yang menancap di ke dalam an pikir dan filsafatmu? Adalah akarmu yang berdiri di atas kangkilo pataangunamu? Adakah nilai dan identitas yang berdiri di atas adat dan budayamu? Negeri butuni Mengapa mereka tidak lagi mengenalmu? Mengapa mereka tidak meri...