Langsung ke konten utama

Postingan

Kisah Bunga Mawar dan Pohon Bambu dikutip dari http://iphincow.wordpress.com Di sebuah taman, terdapat taman bunga mawar yang sedang berbunga. Mawar-mawar itu mengeluarkan aroma yang sangat harum. Dengan warna-warni yang cantik , banyak orang yang berhenti untuk memuji sang mawar. Tidak sedikit pengunjung taman meluangkan waktu untuk berfoto di depan atau di samping taman mawar. Bunga mawar memang memiliki daya tarik yang menawan, semua orang suka mawar, itulah salah satu lambang cinta . Sementara itu, di sisi lain taman, ada sekelompok pohon bambu yang tampak membosankan. Dari hari ke hari, bentuk pohon bambu yang begitu saja, tidak ada bunga yang mekar atau aroma wangi yang disukai banyak orang. Tidak ada orang yang memuji pohon bambu. Tidak ada orang yang mau berfoto di samping pohon bambu. Maka tak heran jika pohon bambu selalu cemburu saat melihat taman mawar dikerumuni banyak orang. “Hai bunga mawar,” ujar sang bambu pada suatu hari. “Tahukah kau, aku sela...

RELASI GENDER DALAM MASYARAKAT DAN PEMBANGUNAN WAKATOBI[1]

Oleh Sumiman Udu [2] A.      Pengantar Kebudayaan Wakatobi – Buton dibangun di atas konsep keseimbangan, walaupun di dalam kehidupan sehari-hari perempuan sering kali tidak beruntung. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Pim Schoorl bahwa Budaya masyarakat Wakatobi – Buton pada umumnya selama ini telah memposisikan perempuan dalam ketegangan. Di satu sisi, budaya Wakatobi – Buton menghargai dan menghormati perempuan, tetapi di sisi lain, budaya Wakatobi – Buton pada umumnya banyak membelenggu perempuan, terutama untuk menduduki posisi-posisi tertentu dalam kehidupan bermasyarakat (Schoorl, 2003: 211). Namun jika kita menelusuri lebih jauh mengenai kebudayaan Buton, maka kita akan menemukan begitu besarnya pengaruh perempuan dalam kebudayaan Buton. Mengingat dalam kedalaman kebudayaan Buton, terdapat paham yang disebut dengan paham kebutonan. Berangkat dari pondasi dasar kebudayaan Buton yang disebut konsep kangkilo atau kesucian, maka masyarakat Buton...