Langsung ke konten utama

Postingan

POLITIK LOKAL DAN PEMILIHAN KEPALA DAERAH LANGSUNG: PERTAUTAN KEPENTINGAN ANTARELIT[1]

Oleh: Sumiman Udu [2]     A.    Pengantar                 Sejak masa bergulirnya sistem pemilu langsung, khususnya pemilu untuk kepala daerah dan DPRD, politik lokal di Indonesia memperlihatkan satu fenomena politik yang tampak bertolak belakang: para elit politik saling bersaing sengit, namun sekaligus bekerjasama. Akibatnya, tidak pernah ada oposisi di panggung politik lokal. Ini terjadi karena persaingan dalam pemilu telah menjelma menjadi kerjasama dalam pelaksanaan pemerintahan.    Dengan demikian, persaingan antarelit politik lokal dapat dimaknai sebagai situasi yang menegaskan berbagai perbedaan politik mereka demi mengartikulasikan kepentingan kolektif kelompok sosial yang coba diwakili. Perbedaan itu bisa bersifat ideologis atau kebijakan (Kuskridho Ambardi, 2009: 19), khususnya kebijakan yang hanya menguntungkan seseorang atau sekelompok orang saja. Kebija...

Wanianse Bagian 15

Oleh: Sumiman Udu Hari-hari yang gelap melanda Desa di Sebelah Timur Pulau Wanci itu. Hanya suara laut Banda yang terus mengamuk. Lampu minyak terkadang mati, oleh angin timur yang mengamuk sejak dua minggu yang lalu. Terik matahari yang kian memanas terus menjadi teman Wanianse dan teman-temannya ketika bekerja bergotong royong membersihkan kebunnya. Beberapa lantunan penghilang rasa rindu sering kali dilantunkan di tengah ke kalutan hidup yang semakin susah. Di tengah kekalutan itu, menjelang siang para ibu-ibu itu pulang. perjalan panjang menuju rumah membuat mereka harus istrahat di atas perbukitan. Mereka menikmati lembah, dan pemandangan gunung Tindoi yang jauh. Di Bawah pohon beringin itu mereka beristrahat, ada yang tidur-tiduran, ada juga yang bercerita. "Eh, saya kemarin ke pasar, sudah sangat susah, harga Opi (sebuatan untuk singkong barut yang dikeringkan untuk bahwan soami atau sering dikenal dengan orang luar sebagai kasoami) turun. sementara sewa mobil sudah 100...

Wanianse Bagian 14

Oleh: Sumiman Udu  Kabar bahwa La Udin masuk penjara telah melahirkan masyarakat di kampungnya, binggung, mereka mengambil pasir di pantai untuk ongkos pengurusan la Udin dan kawan-kawannya di kantor Polisi. “Aapa yang dapat kita lakukan, kalau sudah begini,” kata kepala pemuda kepada ayahnya La Udin dan ayahnya La Roy. Tetapi kedua orang tua itu hanya saling bertatap mata, sebab tadi malam Udin dan teman-temannya tidak rebut lagi di tengah jalan. “Kita serahkan saja sama Bapak sebagai kepala pemuda”, jawab ayah la Roy. “Kalau menurut saya, kita harus meminta orang-orang kampung untuk memberikan uang, karena pasir itu nanti kita ditahan semua,” kata kepada pemuda itu. “Bisa saja, asal kita sepakati dulu semua,” jawab salah seorang ayah temannya La Udin. “kalau begitu, sebentar malam kita harus rapat” usul kepala pemuda itu. Semua sepakat untuk rapat sebentar malam. Di mesjid, saat shalat Magrib, orang-orang tua duduk merenungkan nasib anak-anak di kampungnya yang ditangkap tadi...