Langsung ke konten utama

Postingan

WANIEANSE

BAGIAN 8 Oleh: Sumiman Udu Suatu malam WaNianse menemani kedua anaknya di bawah temaram lampu minyak di rumahnya. Ia kemudian bercerita tentang LA NDOKE-NDOKE KENE LA KOLO-KOLOPUA, sebagai pengatar tidur anak-anaknya. Sambil membuat   anyaman soami’a, Waniansepun menuturkan cerita sebagai pengantar tidur dua anaknya. Pada zaman dahulu, bertemanlah La ndoke-ndoke dengan La bu’ebuea. Kemanapun mereka pergi selalu bersama, ke laut, dank e kebun. Apa yang dimiliki oleh La ndoke-ndoke maka la bu’ebuea pun dapat menikmatinya. Mereka makan bersama, tidur bersama, dan suatu waktu terdengarlah kabar bahwa ada sebuah kampung yang sangat makmur. Masyarakatnya sudah tidak ada lagi yang miskin, mereka hidup seperti di surge, ikan-ikan melimpah, sayur-mayur melimpah, serta keadilan dan pemimpinnya tidak lagi berpikir untuk dirinya, dan keluarganya. Maka berkatalah, la Ndoke, “Saudaraku , mampukah kau berenang sampai di negeri itu?” Tanya La ndoke kepada La Bue’a sahabatnya. “Saya kira, kita a...

Buton: Seminar Internasional Melayu Serumpun

Oleh: Sumiman Udu Seminar Internasional Serumpun Melayu yang akan berlangsung 8 – 9 Juni 2011 di Universitas Hasanuddin Makassar kerjasama Unhas Indonesia dengan UKM Malaysia telah menyeleksi beberapa abstrak makalah yang akan disampikan dalam seminar internasional tersebut, dan salah satu makalah yang diterima abstraknya adalah makalah yang membicarakan mengenai cerita rakyat buton sebagai ruang pertemuan antara Buton dan Tionghoa.  Ini merupakan salah satu generasi muda Buton untuk tetap berpartisipasi dalam berbagai kegiatan internasional. Harapannya, bangsa Buton mampu mewujudkan ungkapan leluhurnya, bahwa "Wolio siy, mangkindi-ngkidi, kabongka-bongkana dunia". Tentunya, ungkapan itu, merupakan ruang untuk memotivasi anak-anak Buton untuk tetap bangga sebagai anak Buton, yang bangga terhadap daerahnya sendiri, namun Kembanggaan itu harus tetap didukung oleh langkah nyata masyarakat Buton khsuusnya generasi mudanya, untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang bersifat lok...

Sebentar lagi akan terbit

Info buku  dari Muhammad Nursam SEGERA TERBIT KARRUQ RI BANTILANG PINISI (CARITA AQBASA MANGKASARA) TANGIS DI GUBUK PINISI (NOVEL BAHASA MAKASSAR) KARYA MUHANNIS, KEPALA SEKOLAH SMA I SINJAI TIMUR, SINJAI, SULSEL Bagi teman-teman yang penasaran, nanti kontak ke blog ini

Ibu

Oleh: Sumiman Udu Yogyakarta, Jumat, 07:18 30 Juni 2006 Di tengah sunyi aku menyapamu dengan bahasa tanpa kata; katamu hidup adalah derita; Katamu hidup adalah kata-kata; Katamu hidup adalah keyakinan; Katamu hidup adalah menjalani Ibu, yang mana hidup itu? Kau tersenyum, Kau hanya mencium pipiku dan mengusap rambutku Lalu membisiiku Jalanilah! Ibu, kau begitu paham padaku Tanpa kata kau memahamiku Tanpa keyakinan kau menerimaku Katamu lakukanlah! Ibu, bukankah aku terlalu kecil untuk semua ini? Ibu hanya tersenyum, Karena ibu lebih tahu diriku dari pada aku sendiri Bangkitlah Nak, Sujudmu tidak mesti dibawah telapak kakiku Tetapi langkahmu menerpa hidup adalah sujudmu Cintamu adalah wujudku Rasamu adalah rahimku Dan matamu adalah cerminku Lalu kapan, kapan aku bukan diriku dan kau bukan dirimu Kau tahu Nak? Kapan itu? Ketika kau berpikir untuk menjadi orang lain Maka saat itu ibu kehilangan segalanya darimu

Sebuah Allegori

oleh: Azzahra Azra   Kendari, 20 Maret 2011 jam 19:01 Saudariku, Jikalau engkau membaca kisah ini Dengungkan dalam hati Sejenak luahkan lelah Arungi rangkaian hikmah Sebuah kidung tentang sejumput kisah Yang kan membawamu jauh Laksana berlayar di lautan petuah Saudariku Selami kisah ini Bingung darimana memulai Tiada pernah disadari Darimana sebuah perjalanan dimulai Ketika sebuah asa menjulang tinggi, Dan segala pekat menepi Roda tak lagi bergerigi Mawar tak lagi berduri  Saudariku, Adalah seorang belia Mengembara di belantara dunia Dunia nan sesak oleh ragam samaran petaka Mengambang diantara gugusan kejora, dan setan-setan neraka Saudariku, ketika saatnya tiba untuk dia, kaki mungilnya bergerak menapaki buana dan hari-hari berlalu dengan angkuhnya, namun sang surya yang tak henti menghangatkannya, dan sang dewi malam yang selalu tersenyum untuknya. Maka gelap dan terang adalah cahaya baginya saudariku, bersabarlah, kisah ini belum berakhi...

Sebuah Kenyataan

Kendari, 20 Maret 2011 jam 18:55  oleh: Azzahra Azra Seandainya saja, Ah, terlalu sesak jikalau harus melafazkan kata itu Biarlah kumeleleh lelah oleh hembusan sang Bayu, lirih perih debaran mendesau Menjelajah gagah kemana arah membawaku Mengukir tabir aneka mutiara biru Walau tangan dan kakiku karang lesu dalam temaram dekapan mesra belenggu.. Kemilau cakrawala terbentang dihadapanku Terhampar kaku laksana bongkahan beku Ingin kurengkuh walau dalam sendu warna-warna pekat semburat pelangi bisu Nyanyian disenandungkan lidah nan kelu Sebuah rintihan penghambaan nan semu Ah, fatamorgana yang angkuh, hanya debu! Sebuah petuah tumpah dalam sukmaku Sementara itu, Kepakkan sayap camar-camar menderu merdu Mengejek gulungan ombak yang merayu, beruntun ganas mendayu-dayu, menghentak arakkan pasir yang tersapu Sebuah layar tergelar menawan Menelusup “Tak cukup kata saja!”

HIU PUTIH DAN REVOLUSI SUNYI

Yogyakarta, 19 Maret 2011 Oleh: Sumiman Udu Desingan air tersibak ke udara Memecah sunyi, membakar matahari Dibalik sunyi, revolusi membakar hati Yang terpanggang dendam Karena kelam sejarah Hiu putih melaju Menerobos kebuntuan Sementara Gurita melesat, mengaburkan jejak, merangkai hari esok yang lebih rumit Hiu putih, terlahir sebagai raja Dengan kecepatan yang mengagumkan Melesat menembus dinding FB Bernyanyi di layar You Tube Hingga menepi, di senja Yang tak berapi lagi Hiu putih, Aku baru saja tersadar Bahwa kau terlahir untuk menyibak dan membakar Revolusi sunyi dalam tidur panjang kaummu