Langsung ke konten utama

Postingan

Mari Belajar ke China

Oleh: La Ode Arumahi   Sebagai orang Buton sangat menghargai usaha-usaha kreatif, akademis yang dilakukan La Ode Balawa dkk untuk secara terus-menerus mengaktualkan khasanah kebudayaan Buton. Saya bisa memahami berbagai kendala yang muncul terutama ketika memasuki wilayah yang diklaim sebagian orang sebagai mitos yang kemudian dibenturkan dengan realitas modern di kekinian. Buton di masa lalu memang akan sulit jika didekati dengan alam pikiran modern yang sarat dengan westernisasi hampir sudah meracuni alam pikiran banyak orang, padahal itu adalah wilayah antropologi yang hanya dapat dipahami secara jelas, jernih oleh penggiat disiplin ilmu-ilmu social. Pro-kontra justru adalah sebuah kesuksesan, apalagi ini dalam sebuah proses bersama mencari identitas diri, sebab hasil tdk selalu muncul dan diterima serta dinikmati para pejuangnya tetapi kadang harus memerlukan beberapa generasi. La Ode Balawa, keragaman respons masyarakat terhadap gerakan aktualisasi khasanah...

Siapa Pemimpian Impian Wakatobi?

Select: Semua , Telah Dibaca , None Tampilkan: Semua Belum Dibaca Oleh:  Sumiman Udu Siapa Pemimpin Ideal Wakatobi untuk 2011-2016 maka, diperlukan pardigma atau cara pandang dalam menjawab pertanyaan seperti ini. Sebab suatu pardigma akan memiliki pandangan tentang maslah, termasuk masalah kepemimpinan di Wakatobi 2011-2016. Tetapi ketika kita menggunakan paradigma dalam melihat, calon pemimpin Wakatobi ke depan, maka paradigma yang dapat digunakan sebagai salah satu paradigma untuk calon pemimpin Buton adalah paradigma kebudayaan.   Ketika melihat, pemimpin Wakatobi ke depan, maka impian kita adalah siapa yang akan memimpin Wakatobi ke arah yang lebih baik, yaitu masyarakat Wakatobi yang sejahtera adil dan makmur. Oleh karena itu, maka dalam budaya Buton, ada beberapa kriteria yang dibutuhkan oleh seorang calon pemimpin, yang pertama, bertaqwa kepada Allah, jujur, adil, pemaaf, cerdas, punya impian besar. Kedua, memiliki istri yang mam...

Egomania Orang Buton, Antara Mitos dan Realitas

Baubaupos.com Oleh : La Ode Balawa Para ilmuwan sosial, khususnya para antropolog, semula memandang mitos sebagai suatu yang diperlukan manusia dalam mencari kejelasan tentang alam lingkungannya, juga sejarah masa lampaunya. William R. Bascom dalam “The Form of Folklore: Prose Narratives”, misalnya, menjelaskan mitos adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan dianggap keramat oleh masyarakat pendukungnya. Umar Junus dalam bukunya “Mitos dan Komunikasi” juga menegaskan bahwa mitos adalah sesuatu “kebenaran,” suatu realitas rasional, yang juga dikuasai oleh sebab-akibat, meskipun dalam dimensi yang berbeda dengan yang ada pada manusia modern. Namun, pada sekitar abad ke-19, ketika rasionalisme mendominasi pandangan hidup orang Barat, “mitos” dipahami sebagai suatu apa pun yang bertentangan dengan “kenyataan”. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Nurcholish Majid dalam artikelnya “Tentang Mitos” (Tabloid Mingguan TEKAD, No...

WANIANSE

Bagian 7 Suasana malam, bulan purnama menyinari tanpa awan, sementara teriakan anak-anak yang bermain di bawah sinar bulan memecahkan malam, Wanianse dan beberapa orang temannya mendiskusikan beberapa tim dari calon-calon bupati yang dating tadi siang. “Saya heran, mengapa mereka datang hanya membawa kecongkakan, bukan membawa program, masa mereka hanya menilai kita dengan uang,” keluh Wanianse membuka kesunyian. Sementara matanya menatap bulan yang terang menyinari wajahnya yang tambah cantik di bawah rembulan. “Iya, saya juga heran, mengapa mereka menilai masyarakat bahwa kalau kita sudah diberi uang kita akan memilih mereka,” sambung tentangganya. “Jadi bagaimana? Apa yang akan kita lakukan?,” Tanya Wanianse. “kalau menurut saya, saat ini masyarakat harus menyadari bahwa untuk ke depan, pemerintah harusnya memberikan yang terbaik untuk kita, jadi mereka harusnnya membicarakan program, karena itu sekaligus janji mereka yang dapat menjadi ukuran kinerja mereka di masa depan,” kata...

Pengembangan SDM Wakatobi harus melebihi Indonesia secara umum

Memasuki percaturan Global, Wakatobi harusnya memiliki kesiapan SDM yang lebih mampu bersaing dan memiliki keahlian yang lebih profesional. Untuk itu, angka partisipai kasar masyarakat Wakatobi ke Perguruan Tinggi harus ditingkatkan, agar dapat melendekati Korea selatan yang 90% sekurang-kurangnya Amerika Serikat yang 60%. Jika tidak, Wakatobi akan tetap tertinggal sebagaimana Indonesia secara umum. Hal ini sebagaimana dilansir oleh Kompas, tanggal 22 Februari 2011 yang mengatakan bahwa Angka partisipasi kasar (APK) Indonesia ke pendidikan tinggi hanya 18,7 persen. Hal itu berarti pekerjaan rumah pendidikan tinggi di Indonesia masih sangat besar, terutama upaya menciptakan kampus menjadi bernuansa akademik yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. "Ukuran orang pintar itu sangat sederhana. Jumlah anak-anak yang belajar di perguruan tinggi dibagi dengan anak-anak yang seharusnmya belajar di perguruan tinggi. Ternyata angka partisipasi kasar (APK) Indonesia ke pendidikan tinggi hany...

WANIANSE

Wanianse bagian VI setelah malam, wanianse mengajak kedua anaknya mendengarkan cerita di rumah nenek. berjalnlah merek bertiga di bawah purnama yang menyinari kampungnya. untung saja ada sinar bulan. beberapa jarak mereka berjalan, tiang lampu yang belum lama dibangun pemda terlewati, listrik tenaga surya itu menyinari menambha terang sinar bulan, semntara angin laut menghangatkan langkah kakinya. setiba di rumah nenek, Wanianse memanggil ibunya, "Ibu, assalamu alaikum. dari dalam rumah panggung itu, "Waalaikum salam". la ijo dan wa leja langsung naik ke dalam rumah, mereka beruda mencium tangan neneknya. "Nenek, ciritakan kita dong, seperti biasa, saya mau datang ke rumah nenek untuk mendengarkan cerita nenek," kata wa leja sambil menarik tangan neneknya ke dekat lampu minyak. maka duduklah nenek dan wanianse di dekat lampu minyak, sementara la ijo dan wa nianse berbaring, sarung mereka menutup sampai di ujung jari kakinya, wa leja di teng...

Wakatobi: Memahami Kembali Kebudayaan kita

Sumiman Udu 05 Februari jam 21:32 5 Feb 2011 Menghadapi beberapa minggu ke depan yang tidak menentu, dimana masyarakat Wakatobi akan menentukan pemimpinnya di masa depan, maka diperlukan suatu perenungan tentang esensi kebudayaan Wakatobi. Kebudayaan yang telah menjadi identitas masyarakat Wakatobi. Masyarakat Wakatobi sebagai salah satu wilayah barata dalam Kesultanan Buton, tentunya memiliki nilai-nilai budaya yang mendukung pengembangan Wakatobi di masa depan. Dalam hubungannya dengan itu, Wakatobi memiliki konsep Kangkilo/kabusa yaitu konsep dasar peletakan identitas islam yang dimodifikasi dalam kebudayaan buton. Dalam kontes itu, masyarakat Wakatobi memiliki konsep kesucian lahir dan batin. suci niat dan suci tubuh sehingga segala langkah dan perbuatan kita berada dalam ranah kesucian (keilahian). Suci niat artinya, jangan pernah berpikir untuk merusak atau merugikan orang lain, misalnya mengambil hak...